跳到主要内容
Nelum
印度尼西亚的法律

Delivering Green Growth for a Prosperous Indonesia: a Roadmap for Policy, Planning, and Investment

颁布于 2015 · 文本截至 2026-10-01

以研究形式发布的公开法律与官方指引,不构成法律、税务或金融建议。

研究内容本身以英文撰写。标题和标签已翻译,调查结果和引文未翻译。

关于这部法律

原标题
Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi.
语言
Indonesian; English
类型
policy
国家
印度尼西亚
主题
Agricultural and rural development, Air and atmosphere, Energy, Environment, Food and nutrition, Fisheries and aquaculture, Forestry, Mineral resources, Sea, Water
关键词
agricultural commodities, green economy, investment, protection of environment, right to clean/healthy environment, flood, human rights, hazards, social impact assessment, recycling/reuse, waste management, payments for ecosystem services/ payment for environmental services (PES), tourism, fish products, aquaculture, fishery management and conservation, food security, cereals/grains/rice, fire management, forest management/forest conservation, community management, timber, smallholders/peasants, freshwater pollution, pollution control, air quality/air pollution, emissions, energy conservation/energy production, renewable energy, biofuel, exploration, minerals, natural gas, oil, marine spatial planning, ecosystem conservation
类别
agriculture, energy, softs

在哪里阅读

文本

所收录的法律原文,按条款排列。每个条款都有自己的链接。

  1. 80 Kontributor 81 Catatan Akhir i Gambar 1.1 Lima hasil yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi hijau......................................3 Gambar 1.2 Perkembangan ekonomi Indonesia dibandingkan secara internasional........................5 Gambar 1.3 PDB berdasarkan sektor dari masa ke masa. .................................................................6 Gambar 1.4 Harga dari sumberdaya Indonesia . ...............................................................................7 Gambar 1.5 Indikator sosial terpilih ..................................................................................................7 Gambar 1.6 Emisi CO2 Indonesia dari pengunaan energi dalam perbandingan internasional. .........8 DAFTAR Gambar 1.7 Bisnis seperti biasa vs pertumbuhan ekonomi hijau....................................................11 Gambar 1.8 Tingkat PM10 di Indonesia dan beberapa kota di Asia Tenggara yang melebihi Gambar, garis pedoman WHO.....................................................................................................14 Gambar 2.1 Hubungan antara kelompok sektor..............................................................................18 Tabel dan Gambar 3.1 Gambaran dari proses perencanaan nasional. ............................................................53 Kotak Gambar 3.2 Proses penilaian pertumbuhan ekonomi hijau............................................................61 Gambar 3.3 Gambaran untuk ‘menghijaukan’ proses perencanaan dan penilaian proyek saat ini di Indonesia. .....................................................................................................60 Gambar 3.4 Mengukur rencana saat ini (data dasar) dan pertumbuhan ekonomi hijau. ...............63 Gambar 3.5 Dampak dari intervensi pertumbuhan ekonomi hijau untuk 5 hasil pertumbuhan ekonomi hijau. ..............................................................................................................64 Gambar 3.6 Profil biaya dan manfaat dari waktu ke waktu.............................................................64 Gambar 3.7 Kerangka kerja pengukuran konseptual OECD untuk pertumbuhan ekonomi hijau....66 Gambar 4.1 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: energi dan sektor ekstraktif........74 Gambar 4.2 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: manufaktur.................................74 Gambar 4.3 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: konektivitas. ...............................75 Gambar 4.4 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: sumber alam terbarukan............75 Gambar 4.5 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: pasar baru modal alam...............76 Tabel 1.1 Data dan asumsi, skenario ‘bisnis seperti biasa’...........................................................12 Tabel 1.2 Data dan asumsi, skenario pertumbuhan ekonomi hijau. ............................................13 Tabel 2.1 Definisi kelompok sektor...............................................................................................18 Tabel 2.2 Faktor faktor pemungkin untuk energi dan sektor ekstraktif........................................20 Tabel 2.3 Faktor pemungkin utama untuk manufaktur................................................................26 Tabel 2.4 Faktor pemungkin untuk konektivas.............................................................................31 Tabel 2.5 Faktor pemungkin untuk sumberdaya alam terbarukan...............................................35 Tabel 2.6 Faktor pemungkin untuk pasar baru berbasis modal alam...........................................44 Tabel 4.1 Rencana aksi untuk pertumbuhan hijau. ......................................................................72 Kotak 1.1 Asumsi dalam skenario 'bisnis seperti biasa' dan pertumbuhan ekonomi hijau...........12 Kotak 2.1 Negara Indonesia seperti apa yang kita inginkan pada tahun 2050?............................19 Kotak 2.2 Rencana 100 persen energi terbarukan untuk pulau Sumba........................................21 Kotak 2.3 Dari limbah menjadi sumber energi memperluas akses ke listrik di Mamminasata.....22 Kotak 2.4 Produksi semen didukung oleh sampah kota................................................................29 Kotak 2.5 Meningkatkan nilai tambah dari limbah industri perikanan Indonesia.........................30 Kotak 2.6 Semarang: kota hijau masa depan................................................................................32 Kotak 2.7 Mendorong investasi konektivitas maritim...................................................................33 Kotak 2.8 REDD+ di Indonesia.......................................................................................................34 Kotak 2.9 Pemantauan penggunaan lahan di Indonesia dan Brasil . ............................................36 Kotak 2.10 Peraturan peningkatan kapasitas di Brasil. ...................................................................37 Kotak 2.11 Pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Setulang....................................................37 Kotak 2.12 Program konsumsi dan produksi berkelanjutan (sustainable consumption and production Program-SCP). .....................................................................................40 Kotak 2.13 Proyek ekowisata harapan Pari Manta..........................................................................45 Kotak 2.14 Konsesi restorasi ekosistem di Kalimantan Tengah . .....................................................47 Kotak 3.1 Mendukung pemerintah Kabupaten untuk merencanakan dan menerapkan strategi pertumbuhan ekonomi. ...................................................................................51 Kotak 3.2 Memanfaatkan investasi hijau sektor swasta................................................................53 Kotak 3.3 Proses perncanaan nasional sekarang. .........................................................................52 Kotak 3.4 Perencanaan tingkat desa di Kalimantan Tengah..........................................................55 Kotak 3.5 Perencanaan lanskap di Kalimantan Timur...................................................................56 Kotak 3.6 Kajian lingkungan hidup strategi: tiga studi kasus.........................................................58 Kotak 3.7 Tiga kebijakan utama untuk merancang zona ekonomi hijau khusus (KEK)..................59 Kotak 3.8 Menerapkan eCBA di zona ekonomi khusus di Kalimantan Timur................................64 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Daftar Gambar, Tabel dan Kotak Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi ii AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan KLHS Kajian Lingkungan Hidup Strategis BAPPENAS Badan Perencanaan KSN Kawasan Strategis Nasional DAFTAR BFCP Pembangunan Nasional Program Karbon Hutan Berau MEMR Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral BIG Badan Informasi Geospasial MP3EI Masterplan Percepatan dan Perluasan Singkatan BMS Sistem Pengelolaan Gedung Pembangunan Ekonomi Indonesia /Akronim BPN Badan Pertanahan Nasional MSF Forum Pemangku Kepentingan BPS Biro Pusat Statistik MSW Sampah Padat Perkotaan CBA Analisis Manfaat Biaya NCE Ekonomi Iklim Baru CBFM Pengelolaan Hutan NR Sumberdaya alam Berbasis Masyarakat NRM Pengelolaan Sumberdaya Alam CDM Mekanisme Pembangunan NTFP Produk Hutan Bukan Kayu Ramah Lingkungan OECD Organisasi untuk Kerjasama dan COREMAP Proyek Pengelolaan dan Rehabilitasi Pembangunan Ekonomi Terumbu Karang PES Imbal Jasa Lingkungan CRI Indeks Risiko Iklim PLN Perusahaan Listrik Negara CTF Dana Teknologi Ramah Lingkungan PLUP Perencanaan Pemanfaatan eCBA Analisis Keuntungan Biaya tambahan Lahan Partisipatif ECR Konsesi Restorasi Ekosistem PPCDAm Rencana Aksi Pencegahan dan Kontrol EIA Penilaian Dampak Lingkungan Deforestasi Hutan Amazon EMRP Eks Proyek Pengadaan Beras PPP Kerjasama Swasta dan Pemerintah F&A Fakta dan Analisis RAD-API Rencana Aksi Daerah-Adaptasi FCPF Fasilitas Kemitraan Karbon Hutan Perubahan Iklim FMU Kesatuan Pengelolaan Hutan RAD-GRK Rencana Aksi Daerah-Gas Rumah Kaca FREDDI Dana untuk Kegiatan REDD+ RAN-GRK Rencana Aksi Nasional-Gas di Indonesia Rumah Kaca GCI Inisiatif Koridor Hijau RAPBN Rancangan Anggaran Pembiayaan GDP Produk Domestik Kotor Belanja Negara GEF Fasilitas Lingkungan Hidup Global REDD+ Pengurangan Emisi dari GFF Fasilitas Pendanaan Panas Bumi Deforestasi dan Degradasi Hutan GGAP Proses Penilaian Pertumbuhan Renja KL Rencana Kerja Kementerian/Lembaga Ekonomi Hijau RENSTRA Rencana Strategis GGF Kerangka Kerja Pertumbuhan RKA KL Rencana Kerja Anggaran Ekonomi Hijau Kementerian/Lembaga GGGI Global Green Growth Institute RKP Rencana Kerja Pemerintah GGP Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau RPJMN Rencana Pembangunan GHG Emisi Gas Rumah Kaca Jangka Menengah GoI Pemerintah Indonesia RPJPN Rencana Kerja Jangka Panjang GPB Strategi Pendanaan dan RSPO Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Perencaaan Hijau RTRW Rencana Tata Ruang dan Wilayah GVA Nilai Tambah Kotor RTRWN Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional IDR Rupiah SCP Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan IEA Badan Energi Internasional SE4ALL Energi Berkelanjutan untuk Semua IFACS Indonesian Forest and Climate SEA Kajian Lingkungan Hidup Strategis Support Project SME Kelompok Usaha Kecil dan Menengah IFC International Finance Corporation Solar PV Energi dari Matahari I-GEM Model Ekonomi Indonesia Hijau SRAP Strategi dan Rencana Aksi Provinsi IKLH Indeks Kualitas Lingkungan Hidup SVLK Sistem Verifikasi Legalitas Kayu INCAS Sistem Akunting Karbon Hutan TFCA Pakta Konservasi Hutan Tropis Indonesia-Australia UNFCCC Konvensi Kerangka Kerja PBB INDECON Jaringan Ekowisata Indonesia untuk Perubahan Iklim ISPO Sertifikasi Kelapa Sawit WDI Indikator Pembangunan Dunia Berkelanjutan Indonesia WWF World Wildlife Fund for Nature KADIN Kamar Dagang Indonesia KEHATI Keragaman Hayati Indonesia KFCP Kemitraan Iklim dan Hutan Kalimantan Daftar Singkatan/Akronim Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi iii Ucapan Terima Kasih Bappenas berterima kasih kepada mitra-mitra berikut atas terciptanya dokumen Peta Jalan Nasional Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri. Bappenas juga mengucapkan terima kasih kepada Global Green Growth Institute atas dukungan dan bantuan untuk Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Ucapan Terima Kasih Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi iv Kata Pengantar Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 1 Kata Pengantar Sejak satu generasi yang lalu, Indonesia telah membuat sejumlah kemajuan dalam pembangunan ekonomi. Selama 25 tahun terakhir, tingkat pertumbuhan kita termasuk yang tertinggi di dunia. Kita telah menjadi negara berpendapatan menengah dan masuk ke dalam kelompok negara-negara ekonomi utama, atau G20. Tapi keberhasilan ekonomi ini memiliki dampak ekonomi dan sosial. Banyak sumber-sumber alam kita yang, menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi, telah hilang. Masyarakat di wilayah perkotaan dan pedesaan terkena dampak negatif dari polusi air dan udara. Dan kesempatan-kesempatan untuk kemajuan ekonomi dan sosial terbagi tidak merata. Tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia 25 tahun ke depan, dalam beberapa hal, lebih besar dibanding yang dihadapi generasi-generasi sebelumnya. Kita harus mampu menghindari “jebakan pendapatan menengah” yang dapat menyebabkan mundurnya pertumbuhan ekonomi. Kita harus menghadapi efek perubahan iklim, yang sudah terasa di seluruh Indonesia dan yang akan bertambah buruk. Kita harus berinvestasi secara bijaksana untuk menghubungkan wilayah-wilayah tertinggal di Nusantara. Kita membutuhkan visi baru dan pendekatan baru untuk sebuah pertumbuhan ekonomi yang menghargai manusia dan modal alam. Pendekatan baru ini bernama pertumbuhan ekonomi hijau. © portdevco.com Contoh-contoh perubahan ada di sekitar kita. Di banyak sektor ekonomi dan banyak wilayah negara ini, orang-orang bereksperimen dengan model-model bisnis baru yang menghargai, bukannya menghancurkan, modal alam dan layanan-layanan yang diberikan oleh ekosistem Sofyan Djalil yang sehat. Bentuk-bentuk energi yang lebih baru, efisien dan sehat mulai dihadirkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan sektor swasta dan pemerintah. Bentuk-bentuk produksi dan konsumsi yang lebih bersih juga Nasional/Kepala mulai diperkenalkan. Makin banyak orang yang sadar bahwa pertumbuhan ekonomi dapat Badan Perencanaan terjadi tanpa praktik-praktik penuh limbah dan destruktif yang menyebabkan begitu banyak Pembangunan Nasional kerusakan di masa lalu. Alih-alih, dengan pertumbuhan ekonomi hijau, kita dapat meraih Indonesia kemakmuran serta kemajuan sosial dan lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Yang kita butuhkan saat ini adalah pendekatan sistematis dalam hal pembuatan kebijakan, perencanaan, investasi dan aksi yang mampu menggerakkan Indonesia menuju visi ekonomi hijau. Peta jalan ini adalah panduan untuk pendekatan seperti itu. Dokumen ini memberi contoh mengapa pertumbuhan ekonomi hijau tidak hanya dinginkan, tapi juga diperlukan. Peta jalan ini memberikan banyak bukti dan contoh bagaimana pertumbuhan ekonomi hijau dapat bekerja – dan di banyak kasus telah berjalan dengan baik – di sektor-sektor utama ekonomi. Peta jalan ini menjelaskan bagaimana kebijakan, perencanaan dan investasi dapat terhubung secara lebih sistematis untuk mendapatkan hasil-hasil pertumbuhan ekonomi hijau dan bagaimana kita dapat mengukur kinerja proyek dan program hijau. Akhirnya, peta jalan ini menawarkan rencana aksi dari 50 aksi utama yang dapat membantu Indonesia mencapai visi pertumbuhan ekonomi hijau untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Penggerak pertumbuhan Indonesia yang sesungguhnya bukanlah teknologi atau satu sektor tertentu. Melainkan, dinamisme dan kreativitas masyarakat Indonesia serta kekayaan alam dan warisan budaya. Sebagai sebuah bangsa, kita menghadapi sebuah pilihan. Haruskah kita melanjutkan jalur pertumbuhan, yang di masa lalu, menghasilkan beban sosial dan lingkungan hidup? Atau haruskah kita memilih jalur baru yang lebih hijau? Ini adalah pilihan generasi masa kini yang dapat memengaruhi generasi-generasi mendatang. Jika kita memilih jalur pertumbuhan ekonomi hijau, yang saya percaya harus kita pilih, peta jalan ini akan memandu kita mengukir sejarah. Rumah-rumah di antara persawahan di area Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat © CIFOR (CC BY-NC 2) Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Kata Pengantar Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 2 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia TANTANGAN PERTUMBUHAN Ekonomi Hijau BAGIAN 1 Pemerintah Indonesia memahami peluang dan potensi ekonomi Lintasan hijau untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Pertumbuhan penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan di Ekonomi Indonesia. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia Indonesia diperlukan pendekatan sistematis dengan langkah-langkah nyata yang akan menghantarkan Indonesia dari situasi saat ini menuju visi ekonomi hijau. Dr Lukita Tuwo Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian I ndonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang kuat dan konsisten selama 15 tahun terakhir. PDB Indonesia meningkat sekitar 6 persen per tahun yang tangguh, menggunakan sumberdaya dengan lebih efisien, dan menilai aset alam yang sering tidak dihitung nilai ekonominya meskipun telah mendukung keberhasilan disebabkan oleh akses terhadap sumberdaya alam yang ekonomi selama berabad-abad yang akhirnya melimpah, pertumbuhan penduduk, meningkatnya menentukan kesejahteraan manusia. standar hidup dan berkembangnya pasar domestik. Indonesia bercita-cita menjadi negara berpenghasilan Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan tidak tinggi di tahun 2030-an. Hal ini memerlukan ramah lingkungan, pertumbuhan ekonomi seperti ini berlanjutnya pertumbuhan ekonomi yang cepat. Seperti pada akhirnya akan mengurangi kemakmuran di masa dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, pertumbuhan depan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi hijau terpusat ekonomi perlu berbasis pada masyarakat sehingga dapat pada kualitas pertumbuhan ekonomi, mewujudkan memberikan standar hidup yang tinggi bagi semua kemakmuran ekonomi dengan memberikan dampak warga negara di semua wilayah nusantara. sosial yang lebih baik dan mengurangi tekanan pada lingkungan dan modal alam Indonesia. Pertumbuhan Sifat dan jenis pertumbuhan di masa depan yang ekonomi hijau juga dapat mewujudkan ketahanan diinginkan oleh Indonesia akan menjadi penting dalam pangan, energi, dan maritim. Meskipun akan ada menentukan kemakmuran ekonomi yang berkelanjutan biaya dalam proses transisi menuju pertumbuhan jangka panjang. Kualitas pertumbuhan sama pentingnya ekonomi hijau, setidaknya dalam jangka pendek, secara dengan laju pertumbuhan. keseluruhan biaya ini akan diimbangi bahkan dilampaui oleh manfaat yang akan diperoleh. Dengan demikian, Pertumbuhan ekonomi hijau adalah suatu pendekatan trade-off antara kelestarian lingkungan dan kemajuan untuk mencapai sejumlah tujuan secara serentak ekonomi tidak harus terjadi. Secara keseluruhan, sehingga Indonesia dapat lebih dekat dengan upaya menghijaukan pertumbuhan ekonomi tidak pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya. Hal perlu menghambat penciptaan kemakmuran atau ini dirancang untuk mewujudkan peningkatan PDB dan pekerjaan; pada kenyataannya, penghijauan tersebut standar hidup yang berkelanjutan dan terdistribusi berarti kemajuan di berbagai tujuan sosial, termasuk secara adil, sementara pada saat yang sama, membatasi pertumbuhan yang lebih inklusif 1. Namun, agar hal ini polusi, membangun infrastruktur yang bersih dan dapat terwujud, kebijakan yang tepat dan keterlibatan aktif sektor bisnis sangatlah penting. Hambatan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Sifat dan jenis pertumbuhan di hijau sangat beragam, mulai dari kurang dihargainya sumberdaya alam dan jasa lingkungan, investasi masa depan yang diinginkan oleh yang terpaku pada pola-pola konvensional seperti perluasan kegiatan yang menghabiskan sumberdaya Indonesia akan menjadi penting dan kepentingan komersial yang diciptakannya, hingga kepada hambatan kelembagaan dan perdebatan dalam dalam menentukan kemakmuran menentukan model ekonomi baru yang memberikan kemakmuran. Kendala dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ekonomi hijau juga mencakup kebutuhan untuk mengelola proses transisi menuju model pertumbuhan jangka panjang. Kualitas ekonomi yang baru, yang setidaknya dalam jangka pendek dapat merugikan pihak tertentu dan menguntungkan pertumbuhan sama pentingnya pihak lainnya. Pengalaman sejarah Indonesia dengan reformasi ekonomi menunjukkan bahwa manfaat dapat dengan laju pertumbuhan. lebih besar daripada biaya penyesuaian, karena model Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 3 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pertumbuhan ekonomi yang baru memberikan kesempatan baik Bagian 1 memberikan gambaran capaian pertumbuhan ekonomi bagi bisnis maupun masyarakat secara keseluruhan. Indonesia yang mengesankan dalam beberapa dekade terakhir, tetapi juga menunjukkan bahwa hasil-hasil positif tersebut disertai Peta jalan ini menawarkan panduan bagi Indonesia untuk dengan peningkatan beban ekonomi, sosial, dan lingkungan menjawab tantangan-tantangan tersebut. Peta jalan ini bukanlah yang mengancam pertumbuhan ini menjadi tidak berkelanjutan. blue print atau rencana yang terinci. Sebaliknya, peta jalan Alternatif ke depan adalah mengenalkan pertumbuhan ekonomi dimaksudkan untuk memandu pendekatan yang menyeluruh hijau. Bagian 2 membahas peluang-peluang untuk bergerak untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau berdasarkan: ke arah pertumbuhan ekonomi hijau di dalam dan di antara penciptaan kondisi yang kondusif untuk mendorong dan sektor-sektor ekonomi kunci dan memberikan contoh proyek- mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau di dalam dan proyek dan inisiatif-inisiatif yang telah berjalan dan perlu lintas sektor; mengikuti proses perencanaan yang terpadu dan ditingkatkan. Bagian 3 menjabarkan kondisi pemungkin yang terkoordinasi dengan baik; mendukung investasi kegiatan-kegiatan diperlukan untuk membangun iklim investasi yang kondusif dalam terkait keberlanjutan; serta pemantauan dan pengukuran kinerja mendorong pertumbuhan ekonomi hijau. Bab ini menjabarkan pertumbuhan ekonomi hijau. Peta jalan ini dimaksudkan untuk cara mencapai pertumbuhan ekonomi hijau secara sistematis, melengkapi dan mendukung inisiatif kebijakan seperti Strategi dengan memberikan perhatian khusus pada pengarusutamaan Perencanaan dan Penganggaran Hijau (GPB) yang diluncurkan pertumbuhan ekonomi hijau dalam perencanaan pembangunan; oleh Kementerian Keuangan dan Upaya Konsumsi dan Produksi meningkatkan perencanaan tata ruang dan penilaian lingkungan Berkelanjutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. strategis; menerapkan teknik untuk menilai dan merancang Terdapat berbagai aksi yang direkomendasikan dalam peta jalan investasi hijau; dan pemantauan dan pengukuran kinerja proyek ini berdasarkan atau melengkapi inisiatif tersebut. dan kebijakan. Terakhir, Bagian 4 menawarkan visi awal bagi masa depan pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia yang dilengkapi dengan rangkaian tindakan prioritas yang rinci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau selama 35 tahun ke depan. Lima hasil yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi hijau Pertumbuhan ekonomi hijau bukan hanya terkait laju pertumbuhan ekonomi tetapi juga kualitas pertumbuhan, yaitu pertumbuhan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang meningkatkan kualitas kehidupan manusia di semua lapisan masyarakat 2. Kerangka Pertumbuhan Ekonomi Hijau (Green Growth Framework-GGF) untuk Indonesia yang dikembangkan oleh berbagai pemangku kepentingan pemerintah dan non-pemerintah 3 mengartikulasikan lima hasil yang diharapkan dari ekonomi dengan mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi hijau berkualitas tinggi di seluruh sektor produktif: GAMBAR 1.1 1. Pertumbuhan ekonomi yang $ Lima hasil yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi hijau $ $ terus berkembang menyoroti pentingnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup kuat dan beragam agar dapat mendukung pembangunan berbasis masyarakat luas. Hal ini menekankan bahwa pembangunan ini harus diukur dengan cara yang cukup luas untuk menangkap dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan yang mempengaruhi kualitas hidup, dan pentingnya pembangunan untuk dapat memberikan manfaat baik hari ini maupun jangka panjang. Dengan kebijakan dan kondisi pemungkin yang tepat, pertumbuhan ekonomi dapat melampaui model pembangunan ekonomi industri yang dipelopori oleh negara ekonomi maju yang berbasis sumberdaya intensif dan tidak lestari. 2. Pertumbuhan yang inklusif dan adil bagi kepentingan semua lapisan masyarakat: semua anak-anak, wanita, dan laki-laki, di seluruh wilayah nusantara, tidak hanya kelompok kaya dan masyarakat perkotaan, tetapi juga kelompok miskin dan terpinggirkan. Lembaga-lembaga yang memiliki tata kelola yang baik dan akuntabel serta kebijakan yang berbasis masyarakat yang memberdayakan masyarakat sangat penting untuk mencapai tujuan ini. Hasil ini berkorelasi dengan kualitas pertumbuhan ekonomi dan lingkungan. Negara-negara dengan tingkat kemiskinan dan kerusakan lingkungan yang lebih tinggi cenderung memiliki kesenjangan yang lebih besar; negara-negara ini cenderung Pertumbuhan mendapatkan manfaat paling banyak dari intervensi pertumbuhan ekonomi hijau bukan ekonomi hijau karena pihak yang terkena dampak paling besar dari degradasi lingkungan adalah masyarakat miskin. hanya mengenai laju pertumbuhan ekonomi tetapi juga kualitas pertumbuhan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 4 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia $ 3. Ketahanan sosial, ekonomi dan lingkungan menekankan pada pertumbuhan yang membangun kapasitas untuk memelihara atau memulihkan stabilitas ekonomi, keuangan, sosial, dan lingkungan yang tahan guncangan. Misalnya dapat beradaptasi dengan dampak fisik dari perubahan iklim, termasuk menciptakan infrastruktur baru, diversifikasi sektor ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, energi dan maritim, dan mengelola stabilitas uang dan perdagangan. Negara-negara yang lebih terkena dampak fisik dan sumberdaya dari perubahan iklim, dan negara-negara yang menghasilkan sebagian besar PDB mereka dari sektor ekstraktif dan sumberdaya-intensif, akan mendapatkan manfaat lebih dari intervensi pertumbuhan ekonomi hijau. 4. Ekosistem penyedia jasa yang sehat dan produktif menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang melestarikan modal alam yaitu cadangan sumberdaya alam yang normalnya memberikan manfaat yang terus-menerus dalam bentuk jasa lingkungan. Jasa lingkungan seperti penyediaan air bersih dan tanah produktif yang memfasilitasi ketahanan pangan memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan manusia, tetapi sering tidak dihargai sebagai input produksi ekonomi sehingga tidak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Pertumbuhan ekonomi hijau berusaha untuk memperbaiki kegagalan pasar dengan menghargai jasa lingkungan secara penuh dan eksplisit. 5. Pengurangan emisi gas rumah kaca menekankan pada pentingnya pertumbuhan rendah karbon yang berkontribusi terhadap upaya global dan nasional untuk mengurangi perubahan iklim dan mengurangi dampak negatif di masa depan terhadap masyarakat lokal dan internasional, sekaligus meningkatkan ketahanan energi. Negara-negara dengan intensitas emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi memiliki peluang lebih besar dalam upaya pengurangan emisi yang hemat biaya dan memerlukan bantuan mendesak. Penurunan emisi gas rumah kaca biasanya akan diiringi dengan peningkatan kualitas udara setempat, melalui pengurangan polusi udara. Upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca juga akan meningkatkan kinerja pengurangan polusi lokal lainnya, seperti polusi air dan tanah, yang penting untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup bagi masyarakat Indonesia. Lima hasil yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia digambarkan dalam Gambar 1.1. Hasil ini terkait erat dengan prinsip-prinsip yang dibahas dalam Strategi Perencanaan dan Penganggaran Hijau (Green Planning and Budgeting-GPB) Kementerian Keuangan 4. Contohnya, GPB menggunakan 'valuasi yang lebih kuat tentang sumberdaya alam' sebagai salah satu prinsip utama yang terkait dengan hasil 'ekosistem yang baik dan produktif'. Demikian pula, penekanan GPB terhadap kebutuhan 'ketahanan pangan, air dan energi' mencerminkan fokus dalam 'ketahanan sosial, ekonomi dan lingkungan’ 5. Beberapa unsur kunci untuk mencapai kesuksesan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau cenderung sama di antara sejumlah negara maju dan negara berkembang 6. Unsur kunci tersebut antara lain termasuk kepemimpinan politik, kepemimpinan sektor swasta, dan kombinasi yang tepat dari kebijakan dan insentif untuk mengalihkan produksi, konsumsi, dan investasi kepada praktik-praktik yang lebih berkelanjutan dan lestari. Faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi hijau 7 meliputi: Efisiensi dan manajemen sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang baik, ketersediaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan secara terus-menerus penting bagi kemakmuran ekonomi jangka panjang dan kualitas hidup. Investasi infrastruktur yang rendah karbon dan tahan iklim, yang menyokong pertumbuhan ekonomi modern. Menstimulasi inovasi dan investasi sektor swasta dalam teknologi yang baru dan adaptif untuk meningkatkan produktivitas yang penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Fokus pada sumberdaya manusia untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan yang diperlukan bagi ekonomi yang kurang bergantung pada ekstraksi sumberdaya, sementara mendorong hasil sosial yang lebih baik. Mengatasi kegagalan pasar dalam mencapai tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan, karena pertumbuhan ekonomi dikatalisis oleh alokasi sumberdaya yang lebih efisien. Faktor-faktor pendorong tersebut tercermin dalam berbagai faktor pemungkin pertumbuhan ekonomi hijau di berbagai sektor yang dijabarkan di Bagian 2, dan diringkas dalam Rencana Aksi di Bagian 4. Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 5 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pertumbuhan pdb, 2003-13 PEndapatan per kapita (Tingkat pertumbuhan tahunan, %) (PPP, tetap 2011 internasional $) 5,7% 7,2% 15.000 10,0% 14.555 Brasil 1,3% 13.863 Dunia 1,3% 12.106 Afrika Selatan 1,1% 11.525 Cina 11.125 10.000 10.076 10.614 9.151 8.724 9.895 9.254 Indonesia 6.035 5.000 5.112 5.238 India 4.598 2.907 Dunia 1.909 1.939 Afrika Selatan Brasil 0 Cina India 1993 2003 2013 Indonesia Gambar 1.2 Perkembangan ekonomi Indonesia dibandingkan secara internasional Sumber: Bank Dunia, Indikator Pembangunan Dunia TREN MASA LALU, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo TREN EKONOMI SAAT INI Ekonomi Indonesia berkembang secara cepat dengan besar beberapa dekade sebelumnya dan saat ini adalah konsisten selama lebih dari satu dekade dan sedang eksportir gas alam yang besar dan eksportir batubara yang menuju menjadi negara berpenghasilan menengah- lebih banyak untuk pembangkit listrik. Volume produksi atas. Meskipun tingkat pertumbuhan Indonesia lebih batubara meningkat lebih dari empat kali lipat selama rendah dibandingkan dengan Cina dan India, tingkat dekade 2002-2012. pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang besar lainnya. Gambar Pendapatan nasional dari pemanfaatan sumberdaya alam 1.2 menunjukkan perubahan pendapatan per kapita meningkat lebih cepat pada masa jaya sumberdaya global di berbagai negara berkembang dan dunia secara selama dekade terakhir. Sebagai contoh, nilai dolar dari keseluruhan sejak tahun 1993. ekspor minyak sawit naik lebih dari tiga kali lipat dari tahun 2006-2011, atau rata-rata hampir 30 persen per Pembangunan ekonomi Indonesia sebagian dicapai tahun, didukung harga pasar dunia yang lebih tinggi serta melalui ekspansi industri berbasis sumberdaya alam yang perluasan produksi 8. Namun, tren saat ini dengan jatuhnya tidak berkelanjutan, khususnya pertambangan, energi, harga sumberdaya alam dan menurunnya pendapatan, pertanian, dan kehutanan, serta ketersediaan tenaga berpotensi memberikan efek negatif pada keuntungan, kerja murah. Bahan bakar fosil juga memainkan peran investasi dan pendapatan pajak dari industri berbasis penting dalam mewujudkan pembangunan ekonomi sumberdaya alam. Kecenderungan ini mungkin terus Indonesia. Indonesia yang sekarang harus mengimpor berlanjut, terutama jika pertumbuhan ekonomi Cina terus minyak dari negara lain merupakan eksportir minyak yang berada pada tingkat moderat. Pendapatan dari ekspor bahan bakar fosil telah membantu anggaran keuangan negara, termasuk investasi dalam Struktur perekonomian Indonesia sumberdaya manusia dan infrastruktur. Di sisi lain, subsidi untuk bahan bakar transportasi dan penggunaan listrik sudah berubah, dengan pergeseran untuk kebutuhan pribadi telah mengakibatkan inefisiensi dan biaya anggaran yang besar. Penurunan subsidi bahan bertahap dari industri primer ke bakar fosil baru-baru ini telah memperbaiki sebagian masalah tersebut. Ketergantungan terhadap bahan bakar industri sekunder dan tersier. fosil juga berarti bahwa ekonomi dan keuangan pemerintah Indonesia rentan terhadap perubahan harga energi internasional, dan meningkatnya ketergantungan pada batubara membawa serta beban lingkungan yang signifikan (lihat Gambar 1.3). Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 6 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kekayaan alam dan modal modal Indonesia (dari atas): Ekoturisme di Jawa Barat © Berto Wedhatama Danau dan hutan di Papua © Martin Hardiono Pertumbuhan ekonomi dapat juga dicapai dari perubahan struktural dalam perekonomian. Struktur perekonomian Indonesia telah berubah dengan mengalami pergeseran dari industri primer ke industri sekunder dan tersier. Pertanian menyumbang 16 persen dari PDB pada tahun 2000 dan 12 persen pada tahun 2013; pertambangan 12 persen pada tahun 2000 dan hanya 7 persen pada tahun 2013. Keuntungan justru didapatkan dari sektor jasa yang mengalami peningkatan kontribusi terhadap PDB dari 39 persen menjadi 48 persen selama periode 13 tahun, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 7,2 persen. Peningkatan yang mengesankan juga didapat dari investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto yang meningkat dari sekitar 20 persen pada tahun 2000 menjadi sekitar 30 persen dari total PDB pada 2013. Walaupun data yang akurat cenderung langka, terdapat bukti bahwa pertumbuhan ekonomi ini telah didorong sebagian oleh investasi swasta: jumlah investasi di bidang infrastruktur dengan partisipasi swasta telah meningkat dari sekitar $ 15 M per tahun pada pergantian abad menjadi $ 44 M per tahun menurut data 2013 9. Secara keseluruhan investasi asing langsung telah meningkat dari jumlah tidak signifikan/negatif menjadi sekitar 2,5 persen dari total PDB pada periode yang sama 10. Kombinasi dari restrukturisasi, pergerakan harga internasional dan, dalam beberapa kasus, penipisan sumberdaya alam berarti bahwa nilai ekonomi yang dihasilkan dari sumberdaya alam di Indonesia secara keseluruhan telah menurun dalam beberapa tahun terakhir (lihat Gambar 1.4). Hasil gabungan dari sumberdaya energi, mineral dan hutan menyumbang lebih dari 10 persen dari total PDB selama 40 tahun terakhir (dan selama lebih dari 20 persen pada tahun 1970-an). Sejak tahun 2009, hasil dari pemanfaatan sumberdaya telah menurun menjadi sekitar 8 persen yang diakibatkan oleh penurunan harga minyak dan gas. Gambar 1.3 PDB berdasarkan sektor dari masa ke masa 3.000

  2. 258 Jasa Lainnya 2.500 272 Sektor Keuangan 218

  3. 292 Transportasi & Komunikasi 221 2.000 Perdagangan 501 & Pariwisata 218 161 400 1.500 161 109 182 Konstruksi 130 294 115 150 707

  4. 65 Manufaktur 597 1.000 224 104 492 77 368 500 187 196 Pertambangan 168 165 305 340

  5. 254 Pertanian 217 0 total 1381,38 1739,23 2296,41 2749,14 2000 2005 2010 2013 Sumber: BPS, melalui database CEIC Indonesia Catatan: definisi sektor disini berbeda dengan definisi di Peta Jalan Bagian 2 Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 7 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia DAMPAK SOSIAL DAN LINGKUNGAN Ekspansi ekonomi telah membawa kemakmuran dan 150 150 meningkatkan kondisi kehidupan bagi masyarakat setempat, termasuk melalui penciptaan lapangan pekerjaan, investasi PENGELUARAN KESEHATAN infrastruktur, dan peningkatan ketersediaan layanan publik PER KAPITA (TETAP 2005 intl $, PPP) yang penting seperti transportasi, komunikasi, kesehatan dan pendidikan. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan. Bidang kesehatan mengalami peningkatan secara dramatis yang sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pengeluaran oleh pemerintah untuk kesehatan yang dilakukan secara terus-menerus. Demikian juga pencapaian 100 di bidang pendidikan meningkat secara konsisten dari masa Angka Partisipasi Sekolah ke masa. 83 Menengah Pertama (% bruto) Walau demikian, arah pertumbuhan Indonesia saat ini juga 71 68 menimbulkan tantangan sosial dan lingkungan yang sangat 64 Angka harapan nyata. Misalnya, pertumbuhan Indonesia juga diiringi dengan 57 58 58 hidup saat kelahiran meningkatnya kesenjangan pendapatan, yang ditunjukkan 50 45 (tahun) oleh Koefisien Gini yang mengalami peningkatan dari 0,33 44 38 pada tahun 2002 menjadi 0,42 pada 2012 a.

  6. 25 Angka kematian bayI Tantangan sosial dan lingkungan lainnya, baik lokal (per 1000 kelahiran hidup) 18 maupun global, juga mulai muncul. Konversi hutan menjadi 12 perkebunan kelapa sawit yang terus-menerus merupakan contoh yang utama. Hal ini merupakan salah satu penyebab 0 utama deforestasi di Indonesia beberapa tahun terakhir 11 Tingkat Kemiskinan (definisi nasional) yang mempengaruhi daerah aliran sungai dan jasa lingkungan (% dari penduduk) yang mendukung ekonomi lokal, peningkatan emisi gas 1992 2002 2012 rumah kaca, dan menyebabkan punahnya keanekaragaman hayati. Kerusakan hutan juga dapat membahayakan mata pencaharian lokal dan mengancam potensi wisata. Gambar 1.5 Indikator sosial terpilih Sumber: Bank Dunia, Indikator Pembangunan Dunia Gambar 1.4 Harga dari sumberdaya Indonesia 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 16 14 12 10 8 6 4 2 BATU BARA HUTAN MINERAL GAS MINYAK 0 Sumber: Bank Dunia, Indikator Pembangunan Dunia Mewujudkan a. Pertumbuhan Koefisien Gini adalah ukuran Ekonomi Hijau ketimpangan di nilai Indonesia: distribusi, Tren 0 menyatakan jumlah kesetaraan dan nilai 1 ketidaksetaraan maksimal. Data diambil dariMasa Lalu,B.Proyeksi, Milanovic, dan Biaya (2014) 'Semua datasetdari Gini’.Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 8 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pembukaan lahan yang biasanya dilakukan secara ilegal Gambar 1.6 menggunakan api menyebabkan kerusakan signifikan Emisi CO2 Indonesia dari pengunaan energi dibandingkan negara lain bagi Indonesia dan negara-negara tetangganya dalam bentuk polusi udara yang mengakibatkan masalah 9,00 kesehatan dan hilangnya produktivitas. Pembukaan lahan dan praktik pengelolaan lahan yang merusak lingkungan tidak hanya menyebabkan kerusakan 8,00 lingkungan, tetapi juga mengakibatkan hilangnya kesempatan, merugikan kesejahteraan ekonomi 7,00 mereka. 6,00 Jika dihitung dari sisi penggunaan energi saja tanpa mempertimbangkan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, ekonomi Indonesia terhitung lebih 5,00 tidak intensif karbon dibandingkan Cina, India, atau Afrika Selatan. Namun, terdapat kecenderungan 4,00 peningkatan emisi CO2 yang pesat terutama karena peningkatan dalam konsumsi bahan bakar fosil, 3,00 khususnya batubara untuk listrik. 2,00 Seperti dijelaskan lebih lanjut di bawah, tantangan lingkungan tersebut telah menimbulkan biaya yang besar dan memberikan beban berat pada masyarakat 1,00 dan pada ketahanan pangan dan energi Indonesia. TANTANGAN MASA DEPAN sia a a il ric ld ne in di Braz a W Ch In Af or do h In ut So Tantangan ekonomi masa depan adalah mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, namun inklusif dan Emissions growth Per capita emissions Emissions intensity of GDP berbasis masyarakat demi mencapai tujuan-tujuan (average annual %, (tCO2/person, in 2012) (tCO2/US$ 100 (PPP 2005) sosial Indonesia yang ambisius. Namun, tekanan 2002-2012) in 2012) terhadap lingkungan yang terus meningkat mengancam pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Modal alam dasar Indonesia sedang terkikis dan berdampak pada ketahanan pangan, air, energi, dan akhirnya pada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dalam beberapa dekade kedepan, tren ini akan menjadi terbalik karena proporsi penduduk usia kerja akan Pertumbuhan ekonomi hijau akan membutuhkan menurun. Oleh sebab itu, upaya mencapai keuntungan teknologi baru, pengorganisasian dan proses, kebijakan produktivitas menjadi penting untuk mempertahankan pemerintah yang efektif untuk melindungi lingkungan, pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan peningkatan dan keterlibatan pihak swasta yang konsisten untuk pendapatan per kapita untuk seluruh masyarakat. bergeser ke bisnis yang lebih bersih, dan pertumbuhan yang lebih inklusif. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan juga akan membutuhkan peningkatan hasil sosial yang terus Pertumbuhan yang ramah lingkungan berarti berlanjut. Masyarakat yang harmonis merupakan berkurangnya ekspansi kegiatan ekstraktif dan fondasi penting untuk mewujudkan perubahan yang sumberdaya yang intensif, dan pertumbuhan yang berkelanjutan menuju status masyarakat berpenghasilan lebih cepat dalam pelayanan dan manufaktur, dengan tinggi. Stabilitas sosial dan lingkungan lokal yang baik peningkatan produktivitas yang terus-menerus. adalah prasyarat untuk menarik industri manufaktur Perlambatan terhadap permintaan sumberdaya global yang memiliki nilai tambah yang tinggi dan industri jasa membatasi sejauh mana kegiatan sumberdaya intensif di pasar global yang kompetitif untuk investasi dan lokasi dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis. Indonesia memiliki potensi besar dalam kompetisi ekonomi makro dalam jangka pendek, jangka ini dengan nilai-nilai alam, budaya dan sosial yang menengah, dan jangka panjang. Perluasan lebih lanjut menarik dan sistem politik yang demokratis. dari industri ekstraktif dan berbasis sumberdaya akan mencapai batas-batas fisik dan lingkungan dan akan Indonesia juga dapat melakukan perbaikan yang besar semakin sulit untuk mencapai peningkatan produktivitas dalam mengurangi intensitas emisi dari pertumbuhan dalam industri tersebut. ekonomi. Analisis nasional baru-baru ini dalam sebuah proyek PBB menunjukkan bagaimana Indonesia dapat Kebijakan dapat mempercepat perubahan struktural mencapai lintasan rendah emisi hingga 2050 tanpa yang telah berlangsung. Indonesia saat ini tengah mengorbankan kesempatan untuk kemakmuran menikmati bonus demografi dengan meningkatnya ekonomi dan sementara itu merancang keberlangsungan proporsi penduduk usia kerja. Namun dalam rangka pengembangan energi terbarukan yang bersih, termasuk memanfaatkan potensi tersebut untuk meningkatkan tenaga surya 12. Investasi peralatan yang berkualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dibutuhkan rendah yang masih dapat dipakai sampai paruh abad kesempatan kerja produktif bagi penduduk usia kerja di kedua tidak sesuai dengan ambisi untuk mewujudkan Indonesia yang jumlahnya terus meningkat. ekonomi tinggi yang berkelanjutan. Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 9 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hal ini ditekankan dalam laporan OECD baru-baru ini, Menuju Pertumbuhan Hijau di Asia Tenggara 13. Beberapa tahun ke depan, saat investasi meningkat dengan cepat, akan terdapat kesempatan untuk menentukan infrastruktur dan lingkungan buatan yang akan mempengaruhi konsumsi energi, polusi dan ketahanan dalam beberapa dekade mendatang. Patut untuk dicatat bahwa sebagian besar investasi di sektor tenaga listrik di Cina sekarang merupakan yang terdepan dalam teknologi yang tersedia. Indonesia juga memiliki potensi yang sangat besar untuk menggunakan energi terbarukan yang dapat mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga energi, dan juga memiliki dampak lingkungan lokal yang rendah dan emisi karbon yang hampir tidak ada. Peluang untuk ekspansi mencakup penggunaan tenaga panas bumi, tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan biomasa. Biaya investasi untuk teknologi bersih tidak perlu ditanggung oleh anggaran pemerintah; dalam hal ini kebijakan pemerintah dapat berperan besar untuk mendorong investasi Energi panas bumi di Jawa Barat swasta, misalnya standardisasi peraturan dan harga karbon © Berto Wedhatama (perdagangan emisi atau pajak karbon), yang bahkan dapat menyediakan sumber pendapatan bersih bagi pemerintah. Berbeda dengan pasar karbon internasional, pengaturan harga karbon domestik juga dapat menyediakan sumber langsung terhadap pendapatan fiskal Indonesia. Strategi Perencanaan dan Penganggaran Hijau membahas opsi-opsi ini dan menunjukkan bagaimana lintasan pertumbuhan hijau bagi perekonomian dapat dicapai tanpa perlu tambahan belanja pemerintah 14. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan luar biasa yang dapat mengurangi kelemahan negeri ini dalam menghadapi harga energi yang fluktuatif Kekayaan alam Indonesia tersebar di seluruh negeri, seperti sawah di Sumatra ini © Aulia Erlangga / CIFOR Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 10 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Proyeksi ekonomi yang tumbuh dan lebih hijau Sebuah perhitungan numerik sederhana dapat menunjukkan efek yang kuat di mana pergeseran menuju pertumbuhan yang lebih hijau melalui perubahan struktur ekonomi dan teknologi bertahap namun terus-menerus dapat memberi hasil lingkungan agregat dalam waktu 25 tahun. Sebagai ilustrasi upaya efisiensi sumberdaya dan tekanan lingkungan secara keseluruhan, proyeksi ini menggunakan jumlah penggunaan energi dan emisi karbon dioksida total di Indonesia. Proyeksi makro ekonomi Indonesia untuk 2040 dibuat melalui dua skenario berikut: 1. Skenario ‘bisnis seperti biasa’, dengan melanjutkan tren selama dua dekade terakhir; dan 2. Skenario 'pertumbuhan hijau', dengan percepatan perubahan struktural, peningkatan produktivitas sumberdaya dan energi dengan cepat, dan peningkatan upaya dalam memperbarui teknologi dan perlindungan lingkungan. Kedua skenario tersebut didasarkan pada proyeksi Beberapa variabel kuncinya antara lain adalah total konsumsi pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan PDB yang sama energi di Indonesia, yang mewakili intensitas sumberdaya dan pertumbuhan pendapatan per kapita. Perbedaannya ekonomi secara keseluruhan, dan total emisi CO2 Indonesia terdapat pada komposisi ekonomi dan indikator hasil dari penggunaan energi, yang mewakili dampak lingkungan sumberdaya dan lingkungan. Pada kenyataannya, skenario secara keseluruhan dari industri, transportasi dan penggunaan pertumbuhan ekonomi hijau dapat menghasilkan tingkat energi oleh rumah tangga. Emisi dari perubahan penggunaan pertumbuhan PDB dan pendapatan per kapita yang lebih lahan dan pertanian tidak diperhitungkan karena memasukan tinggi jika potensi peningkatan produktivitas ekstra dapat kedua emisi tersebut akan lebih menonjolkan perbedaan hasil diperoleh. Dalam hal ini, skenario–skenario tersebut lingkungan antara dua skenario. menganggap rendah potensi keuntungan dari pertumbuhan ekonomi hijau. Skenario 'bisnis seperti biasa' dibuat berdasarkan tren saat ini dari pengunaaan intensitas sumberdaya dan energi dan Asumsi dan data yang mendukung dua skenario di atas dirinci intensitas karbon dari pasokan energi di Indonesia. Skenario dalam kotak dan tabel di bawah ini. Asumsi dalam skenario ini mengekstrapolasi tren melalui moderasi bertahap dari ‘bisnis seperti biasa’ secara kasar mengekstrapolasi tren waktu ke waktu. Skenario 'pertumbuhan ekonomi hijau', yang telah terjadi. Skenario pertumbuhan ekonomi hijau sebaliknya, berdasarkan pada tingkat perubahan intensitas memetakan konstelasi perbaikan terus-menerus yang muncul energi dan intensitas karbon dari sistem energi yang telah karena adanya pengalaman negara lain dan perkembangan terbukti dapat dilaksanakan di negara-negara lain. Skenario ini teknologi. Skenario ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi, mengasumsikan bahwa tingkat perubahan intensitas energi tetapi sebagai ilustrasi dari apa yang dapat dicapai dalam dan intensitas karbon Indonesia secara bertahap mendekati beberapa dekade mendatang melalui perubahan secara praktik terbaik di dunia yang diamati sampai saat ini. bertahap dan terus-menerus dalam struktur ekonomi dan teknologi. Dari kiri: Efek negatif 'bisnis seperti biasa': kemiskinan kota di Jakarta © Axel Drainville, Jakarta Traffic © Charles Wiriawan / CC BY-NC-ND 2.0 Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 11 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Gambar 1.7 'Bisnis seperti biasa' vs pertumbuhan ekonomi hijau Sumber: Vivid Economics (dari BPS) SKENARIO 'Bisnis seperti biasa' 4,5 4,40 Produk Domestik 4,0 Kotor 3,5 3,20 CO2 IndeKS, 2013 = 1 3,0 2,70 Penggunaan 2,5 Energi 2,0 1,5 1,60 Produktivitas Energi 1,0 0,5 0,0 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 2027 2029 2031 2033 2035 2037 2039 VS SKENARIO PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU 4,5 4,40 Produksi Domestik 4,0 Kotor 3,5 IndeKS, 2013 = 1 3,0 2,5 2,40 Produktivitas Energi 2,0 1,80 Penggunaan Energi 1,5 1,50 CO2 1,0 0,5 0,0 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 2027 2029 2031 2033 2035 2037 2039 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi Kotak 1.1 Asumsi dalam skenario 'bisnis seperti biasa' dan pertumbuhan ekonomi hijau 12 Part 1: Indonesia's Growth Trajectory PDB dan populasi Energi Menurut kedua skenario tersebut, PDB Indonesia Dalam skenario bisnis seperti biasa, peningkatan Dalam skenario 'pertumbuhan ekonomi hijau', peningkatan meningkat 4,4 kali dari tahun 2013 hingga tahun 2040, produktivitas energi tahunan dari PDB diasumsikan tahunan produktivitas energi dari PDB juga diasumsikan dengan pendapatan per kapita naik 3,5 kali lipat menjadi dimulai sebesar 2,5 persen per tahun (pengurangan dimulai sebesar 2,5 persen per tahun. Namun bukannya 32.000 dolar per orang (menggunakan dolar internasional 2,5 persen per tahun dari intensitas emisi ekonomi). melambat, peningkatan tahunan produktivitas energi tahun 2011). Tingkat pertumbuhan PDB tahunan Ini adalah tingkat produktivitas energi yang diamati diasumsikan meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu, diasumsikan 6,5 persen per tahun hingga tahun 2020, dan selama sepuluh tahun terakhir di Indonesia. Tingkat ini sebesar 0,05 persen per tahun, menjadi 3,8 persen per tahun kemudian secara bertahap turun menjadi 4,5 persen pada diasumsikan secara perlahan berkurang 0,05 persen per pada tahun 2040. Nilai ini mendekati tingkat pengurangan tahun 2040. Pertumbuhan tahunan rata-rata adalah 5,8 tahun, 1,1 persen per tahun pada tahun 2040. Sebagai intensitas energi dari ekonomi Cina saat ini, dan tergolong persen selama tahun 2020-an dan 4,8 persen selama tahun perbandingan, peningkatan tahunan produktivitas energi tinggi dibandingkan sejarah global. Oleh sebab itu, jumlah 2030-an. Proyeksi penduduk adalah proyeksi penduduk di negara-negara OECD adalah 1,7 persen dalam dekade penggunaan energi meningkat rata-rata hanya 2,3 persen per resmi terbaru di Indonesia (data dari BPS, seperti yang terakhir. Akibatnya, penggunaan energi meningkat hampir tahun selama rentang waktu proyeksi dan kurang dari 1 persen dilaporkan dalam McDonald, 2014, BIES 50: 1, 123-12). 4 persen per tahun selama periode proyeksi keseluruhan. per tahun pada paruh kedua tahun 2030-an Kotak ini menyajikan dokumentasi data dan asumsi lengkap yang digunakan dalam merumuskan dua V skenario diatas. skenario 'bisnis seperti biasa’ Berdasarkan skenario ‘bisnis seperti biasa’, pada tahun 2040, konsumsi energi di Indonesia meningkat menjadi 2,7 kali lebih TABEl 1.1 tinggi dibandingkan saat ini, sementara Data dan asumsi, skenario ‘bisnis seperti biasa’ 15 emisi karbon dioksida meningkat lebih cepat CO2/energi 49 53 57 58 0,7% 0,2% dihitung menjadi 3,2 kali lebih tinggi dibandingkan saat ini. Kedua konsumsi energi dan emisi t/TJ akan terus meningkat setelah tahun 2040 dengan laju perkembangan serupa. Energi/PDB 4,0 3,4 2,8 2,5 -1,9% -1,4% dihitung PJ/$miliar Di dalam skenario pertumbuhan ekonomi hijau, penggunaan energi total dalam CO2/kapita 1,8 2,4 3,4 4,6 3,6% 3,0% dihitung perekonomian Indonesia akan mencapai t/orang keseimbangan pada tahun 2040, sementara perekonomian akan terus tumbuh dengan CO2 458 652 1.018 1.449 4,6% 3,6% IEA cepat. Dalam kedua scenario tersebut, PDB Mt Indonesia pada tahun 2040 meningkat 4,4 kali saat ini, dengan pendapatan per Pengunaan Energi 9.275 12.235 17.877 24.994 3,9% 3,4% IEA kapita naik 3,5 kali lipat menjadi 32.000 PJ dolar per orang per tahun (menggunakan Tingkat pertumbuhan rata-rata pertahun dolar internasional tahun 2011). Ini berarti bahwa akan terjadi kenaikan dramatis PDB/kapita 9,3 13,2 21,4 32,3 4,9% 4,2% dihitung dalam produktivitas energi (jumlah energi Tetap. 2011 yang digunakan per unit PDB). Berdasarkan intl $ ‘1000 skenario pertumbuhan ekonomi hijau, PDB 2.312 3.590 6.339 10.178 5,8% 4,8% WDI produktivitas energi meningkat 2,4 kali lipat Tetap. 2011 dibandingkan pada skenario 'bisnis seperti intl $ miliar biasa’ yang meningkat 1,6 kali lipat. Proyeksi resmi Populasi 250 271 296 315 0,9% 0,6% BPS sesuai dengan McDonald 2014 Dalam skenario pertumbuhan ekonomi hijau, juta emisi karbon dioksida dari penggunaan energi akan mencapai puncaknya pada awal Sumber untuk tahun 2030-an pada tingkat hanya 2,5 ton 2013 2020 2030 2040 2020s 2030s data saat ini CO2 per orang, jauh di bawah tingkat emisi karbon dioksida negara-negara maju dan Cina saat ini. Rendahnya proyeksi tingkat emisi karbon dioksida Indonesia ini berpotensi membuat Indonesia memimpin dalam upaya menghambat emisi karbon dioksida dari penggunaan energi. Hal ini dimungkinkan karena adanya peningkatan produktivitas Meskipun demikian, skenario-skenario modern yang hemat energi umumnya energi seiring dengan peningkatan intensitas tersebut dapat dilihat sebagai pendekatan akan berjalan seiring dengan penggunaan karbon melalui pergeseran secara bertahap kualitatif tingkat tinggi terhadap aspek sumberdaya lainnya secara lebih efisien, menuju penggunaan energi yang lebih bersih, penting lainnya dari pertumbuhan ekonomi seperti air bersih untuk digunakan oleh termasuk energi terbarukan. hijau. bisnis atau di rumah, atau tanah untuk produksi pertanian. Skenario-skenario ilustrasi ini hanya untuk Pertama, produktivitas energi dapat penggunaan energi dan emisi karbon menjadi representasi terhadap berbagai Kedua, faktor penyebab lain yang dapat dioksida. Dengan demikian, terdapat banyak jenis intensitas sumberdaya lainnya dalam mempercepat pemisahan emisi karbon aspek penting lain yang tidak diperhitungkan perekonomian. Hal ini karena perubahan dioksida dari pertumbuhan ekonomi hampir dari penggunaan sumberdaya dan polusi struktural menuju aktivitas yang rendah sama dengan penyebab berkurangnya yang hilang. energi dan peningkatan investasi teknologi polutan lokal. Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 13 Part 1: Indonesia's Growth Trajectory Emisi karbon dioksida Dalam skenario bisnis seperti biasa, perubahan intensitas penggunaan energi meningkat dari 1.8 ton menjadi 4.6 ini menuntut perlambatan segera dari perluasan karbon tahunan dari pasokan energi sesuai dengan ton pada tahun 2040, lebih dari dua kali lipat tingkat rata- pembangkit listrik berbahan bakar batubara, nilai yang ditunjukkan Indonesia selama sepuluh tahun rata emisi layak global jika pemanasan global harus dijaga dengan lebih banyak menggunakan gas dan energi terakhir yang meningkat 1,3 persen per tahun. Ini adalah pada dua derajat Celcius. terbarukan, diikuti dengan upaya berkelanjutan untuk akibat dari terus meningkatnya penggunaan batubara mengembangkan energi terbarukan sebagai pengganti dalam pemanfaatan energi di Indonesia, terutama untuk Dalam skenario pertumbuhan ekonomi hijau, perubahan bahan bakar fosil. Total emisi CO2 dari energi mencapai pembangkit listrik. Intensitas karbon tahunan Indonesia intensitas karbon tahunan diasumsikan meningkatkan puncaknya di tahun 2030-an. Emisi CO2 per kapita dari diasumsikan akan menurun sebesar 0,05 persen per lebih cepat, sebesar 0,2 persen per tahun hingga 2020 penggunaan energi meningkat dari saat ini 1.8 ton tahun, mencapai 0 persen per tahun pada tahun 2040. dan 0,1 persen per tahun pada tahun berikutnya. menjadi 2.5 ton sekitar tahun 2030, dan kemudian Dengan kata lain, dibutuhkan kurun waktu hingga tahun Maka dari itu, intensitas karbon akan mencapai puncak perlahan-lahan kembali turun ke tingkat tahun 2020 2040 agar intensitas emisi pasokan energi Indonesia pasokan energi Indonesia pada 2020, dan pada tahun pada tahun 2040. berhenti meningkat. Emisi karbon dioksida per kapita dari 2040 menurun sebesar 2 persen per tahun. Skenario VS Skenario Pertumbuhan Ekonomi Hijau TABEL 1.2 Data dan asumsi, skenario Pertumbuhan Ekonomi Hijau Pertumbuhan pertahun 1,3 41 -1,6% persen pada awalnya; kemudian berkurang 0,01 persen poin hingga 2020 dan berkurang 0,005 persen 49 51 48 -0,6% poin tiap tahun setelahnya. Dengan perlahan Pengurangan pertahun memasuki area praktik 2,5 persen pada awalnya; kemudian berkurang 0,05 4,0 3,3 2,4 1,7 -3,1% -3,6% persen poin tiap tahun. terbaik, Indonesia dapat secara drastis dihitung 1,8 2,2 2,5 2,2 1,1% -1,1% mengurangi kerusakan lingkungan hidup dihitung 458 608 739 702 2,0% -0,5% sambil tetap memiliki tingkat pertumbuhan dihitung 9.275 11.889 15.281 16.961 2,5% 1,0% yang cepat Tingkat pertumbuhan rata-rata pertahun dihitung 9,3 13,2 21,4 32,3 4,9% 4,2% Pertumbuhan pertahun 6,5 persen hingga 2020; kemudian berkurang 0,05 2.312 3.590 6.339 10.178 5,8% 4,8% persen poin tiap tahun. BPS 250 271 296 315 0,9% 0,6% Asumsi 2013 2020 2030 2040 2020s 2030s Keduanya menunjukkan pergeseran dalam Dengan secara bertahap mendekati praktik cara-cara mengurangi polusi akibat proses terbaik, Indonesia secara signifikan dapat produksi komoditas utama (dalam skenario, mengurangi kerusakan lingkungan dengan tetap energi) dengan cara menggantikan input dan menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang berinvestasi pada teknologi yang lebih bersih tinggi. Hasil akhirnya adalah ekonomi yang dan modern. lebih kuat dengan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat yang lebih luas - tidak Oleh karena itu, lintasan serupa dapat diamati hanya didorong oleh peningkatan pendapatan, secara kualitatif untuk variabel seperti polusi tetapi juga oleh kondisi kesehatan, ketahanan udara, polusi air dan polusi kimia, meskipun pangan dan energi, dan keberlanjutan yang tingkat perubahan dan waktu puncaknya akan mungkin hanya dapt diperoleh ketika kerusakan bervariasi. lingkungan dan ekosistem dapat dibatasi. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 14 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia BIAYA STATUS QUO Analisis sebelumnya menunjukkan bahwa upaya mendukung aktivitas manusia dan ekonomi, seperti yang berkelanjutan pada skala yang dapat dikelola air bersih atau perlindungan dari banjir; kerusakan menghasilkan peningkatan efisiensi sumberdaya dan infrastruktur; efek buruk pada kesehatan masyarakat; lingkungan secara drastis di Indonesia. Bagaimanapun penurunan keanekaragaman spesies dan berpotensi juga pertumbuhan ekonomi hijau akan memerlukan berdampak pada pertanian; dan kualitas sistem investasi yang signifikan, akan tetapi mempertahankan lingkungan yang rendah. status quo juga memerlukan biaya yang besar. Dalam beberapa kasus, sulit untuk menilai besaran Polusi udara, air dan lahan serta tekanan lainnya atau bahkan sifat dari dampak lingkungan. Dalam pada lingkungan di Indonesia telah memberikan banyak kasus, terdapat kesulitan dalam menggunakan dampak negatif pada ekonomi dan sosial seperti ukuran moneter untuk menghitung biaya ekonomi dari bidang kesehatan dan keadilan sosial. Secara khusus, kerusakan lingkungan. Namun, beberapa perhitungan polusi sering menyebabkan hilang atau rusaknya jasa dapat memberikan gambaran agregat dari kemungkinan lingkungan dan sebagai akibatnya menyebabkan tanah besarnya biaya ekonomi yang terkait dengan skenario menjadi tidak produktif, pasokan air berkurang dan ‘bisnis seperti biasa’ yang menimbulkan tekanan yang dampak lain yang mengancam ketahanan pangan semakin besar pada lingkungan dan konsekuensinya bagi dan air. Contoh lainnya termasuk berkurangnya masyarakat Indonesia. kapasitas lingkungan dalam menyediakan layanan yang Kualitas udara lokal Emisi gas dan partikel berbahaya dapat menurunkan Perkiraan terbaru menunjukkan biaya kematian dari Efek negatif 'bisnis seperti biasa': polusi udara di kualitas udara di berbagai kota. Partikel ini bersumber partikel berbahaya (PM2.5) akibat polusi udara luar Jakarta © Ansyor Idrus dari pembakaran batubara, pembakaran bahan bakar ruangan di Indonesia sekitar tiga persen dari PDB fosil padat dan cair lainnya, dan kebakaran hutan. pada tahun 2010. Biaya ini lebih rendah dari estimasi Sebagian besar kota di Indonesia kini telah melebihi biaya di Cina, India dan banyak negara maju, tapi tetap ambang batas kualitas udara Organisasi Kesehatan merupakan biaya ekonomi yang cukup besar dan akan Dunia tentang level partikel berbahaya di udara, terus meningkat kecuali polusi dikelola lebih baik 16. seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.8 di bawah ini. Polusi udara luar ruangan di Indonesia diperkirakan Kebakaran gambut kronis juga merupakan sumber kabut menyebabkan 32.000 kematian per tahun pada tahun asap yang signifikan dan berulang yang menimbulkan

  7. 2004 (WHO, 2009) dan kemungkinan akan terus bahaya kesehatan yang serius bagi rakyat Indonesia. memburuk. Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa Gambar 1.8 b Tingkat PM10 di Indonesia dan beberapa kota di Asia Tenggara yang melebihi garis pedoman WHO annual mean PM10 120 100 80 60 40 WHO's Air Quality Guideline 20 0 Jakarta Bangkok Pekanbaru Surabaya Bandung Kuala Lumpur Medan Metro Manila b. Sumber: Semua data adalah World tahunOrganisation Health 2008 kecuali data Metro Manila (2007). PM10 tahunan rata-rata adalah rata-rata Mewujudkan berdasarkan Pertumbuhan jumlah penduduk Ekonomi Hijau di perkotaan Indonesia:di kota- kota dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa. Pedoman Kualitas Air WHO 2005 menetapkan Peta rata-rata jalan untuk PM10 tahunan Kebijakan, adalah 20μg Perencanaan, dan/ m3. Investasi 15 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia kebakaran bentang alam di Asia Tenggara meningkatkan tingkat kematian kardiovaskular pada orang dewasa sebesar dua persen per tahun 17. Perkiraan ini cenderung tidak memperhitungkan efek pada penduduk Indonesia yang menanggung risko kesehatan yang lebih besar 18. Kebakaran hutan tahun 1997 yang diteliti secara mendalam diperkirakan merupakan penyebab kematian lebih dari 16.400 anak di Indonesia 19 . Abstraksi air tanah, drainase, dan subsidensi tanah Di cekungan Jakarta, hampir semua kebutuhan air untuk industri dipenuhi melalui abstraksi air tanah bukan dari air permukaan. Penegakan peraturan abstraksi air tanah masih lemah, sementara insentif untuk mendorong efisiensi penggunaan air juga lemah atau bahkan tidak ada. Sebagai akibatnya, terjadi subsidensi tanah yang signifikan. Berbagai penelitian menunjukkan tingkat penurunan tanah 15-20cm per tahun 20 dan penurunan kumulatif lebih dari 4 meter selama tiga dekade terakhir 21. Beberapa bagian Jakarta yang padat penduduk sekarang berada sekitar 2 meter di bawah permukaan air laut. Risiko ini akan lebih diperburuk oleh kenaikan Aliran sungai di Jakarta © World Bank Photo Collection / CC BY-NC-ND 2.0 permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Riset yang meneliti gabungan antara kenaikan permukaan laut dan perkiraan banjir pesisir memperkirakan Jakarta merupakan salah satu dari 20 kota di dunia yang berisiko terkena banjir pesisir di tahun 2070-an dengan 2,2 juta orang berisiko Masalah serupa juga muncul akibat pengeringan rawa gambut terkena dampaknya 22. Palembang juga sangat berisiko, dengan yang dikonversi menjadi lahan pertanian. Sebuah riset terbaru kerugian PDB lokal diperkirakan sebesar 0,4 persen per tahun menyimpulkan bahwa drainase lahan gambut di Asia Tenggara sebagai akibat dari banjir saja. dapat menyebabkan banjir parah dalam beberapa dekade ke depan dan mengurangi produksi pertanian antara 30 persen Masalah-masalah inilah yang kemudian mendorong dimulainya hingga 69 persen di lahan basah pesisir selama waktu 50 tahun. pembangunan tembok laut (sea wall) di pesisir ibu kota yang Studi ini menunjukkan bahwa masalah ini merupakan masalah akan menelan biaya hingga $ 40 miliar . 23 akut yang terjadi di Indonesia 24. Ketersediaan dan kualitas air Deforestasi dan pertambangan memiliki dampak yang besar Banjarmasin. Di Pontianak, biaya memperoleh air dari hulu terhadap ketersediaan dan kualitas air. Sebagai contoh, diperkirakan sebesar USD $ 2 juta per tahun 26. Polusi air serius deforestasi dan pemadatan tanah menyebabkan aliran dasar juga terjadi akibat kegiatan pertambangan yang menghasilkan yang lebih rendah selama musim kemarau. Hal ini dapat merkuri, mangan dan sianida. Limbah pertambangan ini menyebabkan kekurangan air di hilir dan memaksa rumah mencemari sumber air yang menimbulkan risiko yang besar tangga, bisnis, dan pengguna air lainnya untuk mencari sumber- bagi kesehatan manusia. Perkiraan lain menyebutkan total biaya sumber alternatif yang mahal. Sebuah studi baru-baru ini pembersihan pencemaran air sampai tahun 2025 adalah US $ 2 yang terpusat di Kalimantan menemukan bahwa fasilitas air di miliar 27. Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat memiliki dua mata air yang kering pada musim kemarau karena ekspansi perkebunan Ketersediaan air merupakan masalah yang berkembang di kelapa sawit di hulu 25. Fasilitas air di Kalimantan juga telah berbagai bagian Indonesia. Sebuah laporan baru-baru ini mengalami penurunan aliran dasar, mengakibatkan kenaikan menemukan bahwa 14 persen cekungan drainase berada dalam harga, penjatahan air dan investasi dalam sumber-sumber kondisi kritis, sementara survei Kementerian Lingkungan Hidup alternatif. tahun 2008 menemukan bahwa mayoritas sungai di negara ini sangat tercemar 28. Hal ini terutama bermasalah dalam konteks Rendahnya pembuangan air tanah ke laut selama musim pertumbuhan ekonomi yang cepat dan migrasi dari desa ke kemarau juga mengakibatkan intrusi air laut yang semakin kota. Kegunaan air untuk industri semakin bersaing dengan mempengaruhi kualitas air di kota-kota seperti Pontianak dan kegunaan untuk lahan pertanian yang saat ini mencapai lebih Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 16 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari 80 persen dari total penggunaan air 29. Kombinasi antara meningkatnya kebutuhan penggunaan air seiring degradasi lingkungan dan polusi cenderung membahayakan ketahanan pangan yang pada akhirnya menyulitkan Indonesia mencapai swasembada pertanian. Selain itu, memburuknya kualitas air menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi masyarakat yang mengandalkan air sungai untuk minum. Sedimentasi sungai Sedimentasi sungai akibat deforestasi dan praktik Sedimentasi sungai juga terkait dengan peningkatan yang tidak berkelanjutan di sektor kehutanan kejadian banjir. Pemerintah, misalnya, mengkaitkan dan penggunaan lahan merupakan masalah yang sedimentasi sungai-sungai di Jawa Tengah dengan banjir berkembang di Indonesia dan menyebabkan besar yang terjadi pada akhir 2008 dan awal 2009. Biaya terbatasnya kapasitas transportasi dan ketidakstabilan normalisasi sungai-sungai tersebut merupakan biaya infrastruktur. Perusahaan tambang batubara mulai yang cukup besar dan terus-menerus. Pada saat itu, banyak menemukan sedimentasi yang menyebabkan perkiraan total biaya normalisasi delapan sungai yang sungai tidak dapat dilayari. Sebagai contoh, hulu terkait dengan kejadian banjir tersebut adalah US $ 64 Sungai Barito di Kalimantan Tengah tidak dapat dilayari juta 31. selama hampir 5 bulan di tahun ini, dan laporan biaya pengerukan untuk pelabuhan Pontianak dan Banjarmasin masing-masing mencapai US $ 3 juta dan US $ 11 juta 30. Dampak lokal pertambangan dan pembakaran batubara Pertambangan dan pembakaran batubara memiliki Dengan menggunakan perkiraan dari studi di Amerika, dampak lingkungan yang menimbulkan biaya pada Indonesia dapat membuat perkiraan biaya utama sekitar masyarakat, termasuk dampak kesehatan masyarakat $ 100 miliar per tahun, tidak termasuk kerusakan yang pertambangan, kerusakan lingkungan di daerah disebabkan oleh perubahan iklim. Tentu saja perkiraan pertambangan dan akibat transportasi batubara, serta biaya kerusakan tersebut bergantung pada berbagai efek kesehatan dari emisi polusi udara dari pembakaran. ketidakpastian dan pertimbangan nilai, dan kondisi Perkiraan terbaru tentang eksternalitas yang berkaitan lokal di Indonesia yang dapat menghasilkan penilaian dengan produksi dan penggunaan batubara di Amerika yang berbeda. Namun demikian, biaya eksternal Serikat adalah $ 345 milyar per tahun (kisaran: $ pertambangan, transportasi dan pembakaran batubara 175 milyar hingga $ 523 milyar), atau sekitar $ 280 di Indonesia tidak diragukan lagi cukup besar dan akan milyar – belum termasuk kerusakan perubahan iklim terus meningkat sampai saat lintasan pertumbuhan di masa depan 32. Diperkirakan $ 100 milyar atau lebih ekonomi hijau dipilih. kerusakan ini dapat dikaitkan dengan pertambangan dan transportasi. CO2 Biaya sosial karbon Emisi CO2 Indonesia dari konsumsi bahan bakar fosil oleh pemerintah Amerika Serikat c dapat menunjukkan saat ini sekitar 500 juta ton per tahun, sementara total biaya sosial emisi CO2 tahunan Indonesia untuk emisi bersih CO2 dari perubahan penggunaan lahan sektor energi $ 20 miliar per tahun, dan mungkin $ 40 dan kehutanan mungkin lebih dari 1 miliar ton per miliar lagi untuk perubahan penggunaan lahan dan tahun. Khususnya, emisi gas rumah kaca dari kebakaran kehutanan. Dengan demikian, biaya ekonomi masa gambut di Indonesia memiliki jumlah yang sangat besar. depan dunia dari emisi CO2 di Indonesia saat ini mungkin Kebakaran gambut pada tahun 1997 dan 1998 saja di urutan 1 hingga 3 persen dari PDB Indonesia saat ini, telah melepaskan sekitar 0,95 Gt karbon ke udara atau dan hingga 8 persen dari PDB menurut perkiraan di level setara dengan sekitar 15 persen dari emisi bahan bakar yang paling tinggi. fosil global pada saat itu. Emisi ini menimbulkan biaya ekonomi bagi generasi mendatang di Indonesia dan Penggunaan data global untuk mengetahui biaya global. masa depan yang harus dikeluarkan Indonesia akibat perubahan iklim menutupi tingginya kerentanan Biaya global yang dikeluarkan di masa depan untuk Indonesia terhadap kerusakan dari perubahan iklim. emisi gas rumah kaca saat ini yang timbul akibat efek Peningkatan suhu, perubahan curah hujan dan cuaca negatif dari perubahan iklim terhadap kegiatan ekonomi ekstrim yang lebih umum cenderung memiliki efek yang di masa depan diperkirakan berdasarkan "biaya sosial merugikan terhadap hasil pertanian dan ketahanan karbon". Perkiraan biaya sosial karbon yang digunakan pangan. c. Masa Tren Biaya Lalu, sosial Proyeksi, karbon memperkirakan kerusakan dan Biaya dari Statusekonomi Quo yang disebabkan oleh setiap ton tambahan CO2 yang dihasilkan pada tahun tertentu. Perkiraan Mewujudkan pusat pemerintah Pertumbuhan Ekonomi ASHijau adalahdi$ Indonesia: 39 / tCO2 pada 2015 (berkisar dari $ 12 sampai $ 116), dan $ 65 di 2040 (berkisar $ 22 sampai $ 204). Lihat laporan tehnis Interagency Working PetaGroup jalan on SocialKebijakan, untuk Cost of Carbon (2013): Laporan Perencanaan, danTeknis Biaya Investasi Sosial Karbon yang diperbaharui untuk peraturan Analisa Dampak dibawah Executive Order 12866. 17 Bagian 1: Lintasan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kesimpulan Catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tiga dekade terakhir sangat mengesankan dan telah meningkatkan standar hidup dan mengurangi kemiskinan di seluruh negeri. Di masa depan, tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan memastikan bahwa hal itu dicapai secara berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi harus terus dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan secara luas dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan penduduk Indonesia dan khususnya tidak membahayakan ketahanan pangan dan energi. Biaya yang berkaitan dengan status quo memiliki nilai yang cukup besar; biaya ini diantaranya termasuk konsekuensi terhadap kesehatan yang merugikan akibat kualitas air dan udara yang buruk, kerawanan pangan akibat ketersediaan air yang tidak menentu, dan peningkatan kerusakan akibat banjir yang disebabkan oleh deforestasi dan sedimentasi sungai. Terdapat banyak kesempatan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau telah ada di Indonesia. Meskipun pendekatan yang lebih komprehensif dan sistematis akan dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi hijau di seluruh Indonesia, namun awal yang baik telah dilakukan dalam berbagai hal oleh pemerintah pusat dan daerah, Dari atas: perusahaan swasta, masyarakat, dan organisasi masyarakat sipil yang Asap dan api di Sumatra © NASA Goddard Space Flight Center / CC BY 2.0 didukung oleh investasi swasta dan publik. Peluang dan beberapa proyek Pabrik minyak kelapa sawit di Jambi, Indonesia dan inisiatif yang telah dilaksanakan di berbagai sektor dan tempat di © CC BY-NC-ND 2.0 Indonesia dibahas di Bagian 2. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Tren Masa Lalu, Proyeksi, dan Biaya dari Status Quo Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 18 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Pertumbuhan ekonomi Banyak peluang dapat digunakan untuk memfasilitasi hijau bukanlah konsep transisi menuju ekonomi hijau. Di Bagian 2, peta jalan ini meneliti peluang tersebut di dalam dan di antara sektor- baru di Indonesia. Berbagai sektor kunci dan menjabarkan faktor-faktor pemungkin utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hijau contoh positif walaupun yang telah mulai dilaksanakan oleh pemerintah, badan usaha, atau lainnya. Berbagai proyek dan inisiatif yang masih terisolasi telah ada disoroti di sini menggambarkan cara dan pendekatan untuk BAGIAN 2 mencapai hasil pertumbuhan ekonomi hijau. di seluruh nusantara. Peluang Pertumbuhan Ekonomi VISI UNTUK Hijau Indonesia yang Hijau L angkah penting untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau bagi Indonesia adalah dengan membangun konsensus visi untuk menjadi negara yang Indonesia inginkan pada tahun 2050 – satu visi yang terkait dengan strategi yang komprehensif dari pertumbuhan ekonomi hijau. Visi tersebut akan mencerminkan keragaman serta kesatuan bangsa; kekayaan sumberdaya manusia dan alam; dan kepemimpinan yang kuat dan komitmen yang diperlukan untuk terus maju dan berhasil menuju pertumbuhan ekonomi hijau. Peta jalan ini mencakup pernyataan sederhana yang dirancang untuk membingkai tantangan dalam mencapai hasil pertumbuhan ekonomi hijau yang berarti pada tahun 2050 (lihat Kotak 2.1). PELUANG PRIORITAS UNTUK MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU Untuk mencapai visi di atas diperlukan pengambilan Peta jalan ini mengelompokkan berbagai contoh keuntungan strategis untuk memanfaatkan peluang saat peluang pertumbuhan hijau di berbagai sektor ke dalam ini dan masa depan dalam mewujudkan pertumbuhan empat kelompok: (1) energi dan sektor ekstraktif, (2) ekonomi hijau. Ada berbagai peluang yang terdapat di manufaktur, (3) konektivitas, dan (4) sumberdaya alam beberapa sektor ekonomi. Bahkan, beberapa peluang terbarukan. Dalam setiap kelompok, peluang-peluang ini tersebut telah tercermin dalam kebijakan terbaru dan digambarkan melalui studi kasus singkat dari berbagai telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak dan lembaga, proyek di Indonesia dan contoh praktik-praktik yang meskipun sejauh ini dengan cara sendiri-sendiri dan baik dari negara lain. Selain empat kelompok sektoral, terpisah-pisah. Peluang ini, jika dikapitalisasi dengan kategori kelima melibatkan pasar-pasar berbagai benar, dapat berkontribusi terhadap pergeseran lintasan model bisnis terbaru yang memberikan nilai finansial Indonesia dari skenario bisnis seperti biasa menjadi dari penggunaan modal alam yang non-konsumtif dan skenario pertumbuhan ekonomi hijau seperti yang layanan jasa lingkungan. Peluang-peluang di dalam digambarkan Gambar 1.7. dan di antara kelompok-kelompok tersebut akan gambar 2.1 tabeL 2.1 Hubungan antara kelompok sektor Definisi kelompok sektor % dari PDB Sektor termasuk Indonesia saat ini Minyak Energi dan Gas 12% Sektor Pembangkit tenaga listrik energi terbarukan Pasar baru berbasis modal alam ekstraktif Pembangkit tenaga listrik energi tak terbarukan Pertambangan Industri produksi dan pengolahan manufaktur 24% Teknologi bersih Daur ulang limbah Telekomunikasi Transportasi Konektivitas 17% Infrastruktur Konstruksi Kehutanan Pertanian Sumberdaya alam terbarukan 14% Perikanan Kegiatan penggunaan lahan Kegiatan kelautan Visi untuk Indonesia yang Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi Kotak 2.1 Indonesia seperti apa yang kita inginkan pada tahun 2050? 19 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia pada tahun 2050 adalah negara demokrasi yang maju, kohesif, pasca-industrial yang terdiri atas kepulauan yang saling terhubung dengan keanekaragaman budaya dan alam yang besar dan menunjukkan moto nasional Bhineka Tunggal Ika, atau "kesatuan dalam keragaman." Indonesia yang hijau telah mencapai pendapatan per kapita sebesar $ 32.000, pertumbuhan penduduk yang mendatar dengan jumlah penduduk yang berjumlah 315 juta yang memiliki pendidikan, kondisi kesehatan, dan ekonomi produktif, dan berada di peringkat 10 persen teratas dari global Indeks Kemajuan Sosial. Jasa lingkungan sangat dihargai dan berkelanjutan baik di daerah perkotaan maupun pedesaan dan saling tergantung satu sama lain serta tahan terhadap perubahan iklim dan gangguan lainnya. Negara ini telah berupaya menghindari "jebakan pendapatan menengah" dengan melakukan investasi besar-besaran dalam layanan dasar manusia, konektivitas dan perkembangan pesat dalam sektor jasa. Sebagai hasil dari investasi strategis publik dan swasta di seluruh negeri dalam infrastruktur hijau, komunikasi, teknologi bersih, pendidikan, dan kesehatan, maka anak yang lahir pada tahun 2050 di Papua, Maluku, Nusa Tenggara dapat menikmati kesempatan dan standar hidup yang sama dengan teman sebangsanya di Jawa, Sumatera, atau Bali. Kemakmuran di Indonesia pada tahun 2050 berasal dari ekonomi yang terdiversifikasi, rendah karbon, dan berbasis jasa, bukan dari eksploitasi manusia dan modal alam. Indonesia tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif dan diganti dengan energi terbarukan, teknologi dan layanan yang inovatif. Hilangnya hutan dan terumbu karang yang kaya spesies telah dihentikan dan, di beberapa tempat, telah dipulihkan melalui rehabilitasi ekologi. Sektor berbasis hutan dan perikanan telah kembali berkembang. Sektor ekonomi jasa berkembang pesat dan menjadi pemimpin internasional dalam berbagai bidang, termasuk ekowisata dan teknologi berbasis keanekaragaman hayati, dengan pendapatan ekspor yang kuat. Indonesia secara bijak memanfaatkan panas bumi, panas surya, dan tenaga air serta biofuel, daur ulang, dan efisiensi energi untuk memastikan ketahanan pangan dan energi. Lintasan emisi GRK tahunan Indonesia berada pada kondisi yang terus menurun mengarah pada pertumbuhan ekonomi hijau khas Indonesia yang yang seimbang dan realistis. Kebijakan dan faktor pemungkin ini berkontribusi terhadap pertumbuhan inklusif secara sosial sekaligus selanjutnya dapat dikembangkan untuk menyesuaikan dengan juga menghindari, mengurangi, atau memitigasi biaya lingkungan situasi di masa depan yang sejalan dengan tema besar yang yang dibahas di Bagian 1. diidentifikasi dalam bagian ini. Tabel 2.1 menggambarkan empat kelompok, yang berkontribusi Masing-masing sektor di atas memberikan kesempatan untuk terhadap lebih kurang dua pertiga dari PDB Indonesia saat ini 34. mengembangkan model bisnis baru dan inovatif yang menghargai Untuk setiap kelompok sektoral, dan untuk kategori lintas sektoral, modal alam dengan lebih eksplisit. Peta jalan ini mengidentifikasi sejumlah aksi pemungkin kunci dijabarkan sebagai cara untuk beberapa peluang yang paling menjanjikan. Gambar 2.1 mendorong kebijakan, praktik, dan investasi pertumbuhan ekonomi menggambarkan cara di mana pasar negara berkembang untuk hijau, mengatasi hambatan untuk berubah, dan menghindari atau kelompok sektor modal alam mempengaruhi kelompok sektor mengurangi biaya ekonomi, sosial, dan lingkungan dari tren yang lainnya. terjadi saat ini. Banyak dari aksi pemungkin ini telah dilaksanakan, seringkali dalam bentuk proyek percontohan yang memiliki potensi Contoh-contoh yang dikembangkan melalui proses konsultasi ini yang dapat terus ditingkatkan. Contoh dari proyek –proyek tersebut adalah contoh yang spesifik dan nyata. Contoh ini hanya mewakili termasuk pembayaran jasa lingkungan (Payment for Environmental sebagian kecil dari peluang pertumbuhan ekonomi hijau yang Services - PES) dan instrumen ekonomi lainnya, seperti insentif tersedia bagi Indonesia. Dialog lebih lanjut akan mengidentifikasi pajak, dana investasi hijau, dan asuransi lingkungan d. Faktor lebih banyak contoh, khususnya terkait dengan sektor jasa yang pemungkin tersebut ditampilkan dalam peta jalan tidak untuk tidak dibahas di sini. memberikan panduan lengkap dalam menyukseskan pertumbuhan ekonomi hijau; tetapi merupakan satu set kebijakan dan inisiatif Alasan untuk pengelompokan sektor Kelompok ini mencakup proses-proses yang terlibat dalam kelompok energi yang terbarukan dan tidak terbarukan, serta bahan baku untuk pembangkit listrik tidak terbarukan. 'Ekstraktif' berhubungan dengan ekstraksi bahan bakar fosil untuk energi, tetapi juga dapat mencakup pertambangan mineral lainnya. Hal ini menunjukkan perbedaan yang jelas antara kelompok ini dan kelompok berikutnya. Kelompok ini berfokus pada ekstraksi, sedangkan kelompok sektor manufaktur berfokus pada pengolahan selanjutnya dari bahan tersebut. Pembedaan ini penting ketika mempertimbangkan peluang pertumbuhan hijau. Paralel antara peningkatan nilai tambah dan efisiensi di semua proses dan sektor. Mencapai visi Indonesia hijau membutuhkan Kebutuhan perencanaan dan pembiayaan masing-masing sektor yang sama kemampuan strategis dan dapat lintas sektoral. memanfaatkan peluang masa kini dan masa depan. Prinsip-prinsip dan praktik dan peraturan keberlanjutan yang sama untuk semua sektor sumberdaya alam terbarukan. d. UU Perlindungan Mewujudkan dan Pengelolaan Pertumbuhan Lingkungan Ekonomi Hijau(UU 32 tahun 2009) menyediakan instrumen ekonomi yang dapat digunakan oleh Pemerintah pusat dan daerah untuk mengatur dan memberikan di Indonesia: Petainsentif jalan dalam untukmencapai tujuan Kebijakan, hijau. Beberapa Perencanaan, contoh dan di antaranya ditampilkan di bagian ini. Investasi 20 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau ENERGI DAN SEKTOR EKSTRAKTIF Perubahan menuju sumber energi rendah karbon dan model ekstraksi bernilai tambah dapat membuka peluang pertumbuhan yang signifikan dan menguntungkan seluruh penduduk Indonesia Kelompok ini berkontribusi sekitar 12 persen dari PDB Tindakan-tindakan utama yang direkomendasikan antara Indonesia saat ini, termasuk industri minyak dan gas, lain termasuk mengevaluasi keseluruhan biaya, manfaat, pembangkit listrik terbarukan dan tidak terbarukan, dan kelayakan pembayaran tarif feed-in, menarik dan pertambangan. Signifikansi pertumbuhan ekonomi sektor swasta untuk berinvestasi dalam energi panas hijau terletak pada peluang untuk mengurangi besarnya bumi, dan memanfaatkan keunggulan komparatif dari dampak negatif terhadap lingkungan saat ini, terutama pembangunan fasilitas tambahan pengolahan mineral di dengan meningkatkan efisiensi dan pergeseran ke arah dekat sumberdaya seperti air dan energi rendah karbon sumberdaya terbarukan. TABEL 2.2 Faktor faktor pemungkin untuk energi dan industri ekstraktif TEMA faktor pemungkin Indikator yang disarankan Meningkatkan akses 1. Melaksanakan penilaian secara regional untuk terhadap layanan energi menentukan solusi energi yang tepat • % Penduduk yang mendapatkan akses 2. Memberikan insentif untuk investasi dalam listrik modern di daerah solusi energi bersih • Skor negara di kerangka multi-tier pedesaan terpencil 3. Menyelidiki hambatan lokal dalam investasi dan SE4ALL e Indonesia mengembangkan transfer pengetahuan 4. Mengevaluasi tarif feed-in Mengarahkan sektor 5. Menghapus subsidi bahan bakar fosil • % sumber energi menggunakan 6. Menetapkan harga karbon energi menuju sumber 7. Mencari pilihan lain terkait gas domestik sebagai energi terbarukan • % sumber energi menggunakan gas energi rendah karbon bahan bakar perantara • Indeks Intensitas Karbon Sektor 8. Menarik sektor swasta untuk berinvestasi pada Energi energi panas bumi dengan mengatasi hambatan keuangan dan berbagi resiko 9. Mengembangkan pendekatan yang tepat Meningkatkan nilai sasaran untuk meningkatkan nilai tambah dalam • Nilai tambah bruto sektor pengolahan mineral pengolahan mineral tambah dalam 10. Mengembangkan industri pengolahan mineral • Lapangan pekerjaan dari sektor ekstraksi mineral di daerah dengan energi terbarukan, pasokan air pengolahan mineral atau sumberdaya tambahan lainnya Meningkatkan akses ke layanan energi modern di daerah pedesaan terpencil Indonesia Pemerintah Indonesia mempunyai target untuk meningkatkan rasio elektrifikasi dari 77 persen saat ini menjadi 100 persen pada tahun 2020 35. Meskipun target ini menantang, namun jika target ini tercapai akan membawa manfaat yang besar bagi masyarakat lokal dengan memfasilitasi kebutuhan sosial mendasar seperti pelayanan air, sanitasi, dan kesehatan yang penting untuk mencapai pertumbuhan yang adil dan inklusif. Hal ini juga akan meningkatkan kegiatan ekonomi sekaligus mengurangi biaya polusi udara dan kesehatan. Manfaat tambahan lain adalah akan tersedianya pilihan cara memasak yang modern bagi 42 persen populasi Indonesia yang saat ini masih mengandalkan jenis bahan bakar tradisional, terutama kayu dan gambut di beberapa daerah. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah melalui sumber tenaga listrik terbarukan yang murah (lihat di bawah) yang memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara lokal. Secara global, terdapat sejumlah inovasi dan model bisnis di dalam dan di luar jaringan listrik yang berusaha untuk mengatasi tantangan yang berkaitan dengan akses energi di daerah pedesaan. Banyak dari inovasi dan model ini mungkin tepat untuk direplikasi dan dikembangkan di Indonesia. e. SE4ALL, Energi Sustainable dan Industri Energy for All, adalah inisiatif sedunia yang bekerja untuk menyambungkan orang di seluruh dunia dengan sumber Ekstraktif energi berkelanjutan. Mewujudkan Pertumbuhan SE4ALL membuat Ekonomi Energi kerangka Hijau dan di yang Indonesia: Industri Ekstraktif menilai sejauh mana penduduk suatu negara memiliki akses ke energi yang berkelanjutan. Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi Kotak 2.2 21 Rencana Bagian 100 persen 2: Peluang Pertumbuhan energi terbarukan untuk pulau Sumba Ekonomi Hijau Proyek Pulau Sumba menunjukkan peluang pertumbuhan ekonomi hijau yang dapat terus dikembangkan di Indonesia. Sebagian besar dari total 650 ribu penduduk Pulau Sumba saat ini tidak memiliki akses listrik. Generator diesel adalah sumber utama listrik, dan banyak orang tetap bergantung pada pasokan solar yang cenderung mahal dan tidak dapat diandalkan. Penduduk Pulau Sumba juga menggunakan minyak tanah yang menyebabkan polusi dan mahal untuk penerangan dan kayu bakar untuk memasak, keduanya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang bagi masyarakat. Tujuan proyek ini adalah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 95 persen dan meningkatkan pangsa energi terbarukan di Sumba menjadi 100 persen. Proyek-proyek energi terbarukan skala kecil ini dapat menyediakan listrik untuk masyarakat yang tidak terhubung dengan jaringan listrik. Biogas dan kompor yang lebih baik akan menghasilkan kondisi hidup yang lebih sehat. Sumber energi terbarukan dari angin, air, sinar matahari dan biomas akan menggantikan generator diesel yang menggunakan solar, sementara ke depan ada rencana penggunaan biofuel untuk transportasi. Meskipun proyek ini digagas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama-sama dengan sebuah organisasi dari Belanda yaitu Hivos, peta jalan untuk mencapai tingkat energi terbarukan sebesar 100 persen ini dikembangkan oleh semua pemangku kepentingan terkait di bawah koordinasi dan tanggung jawab dari sebuah tim kerja yang dibentuk melalui Surat Keputusan KESDM. Beberapa proyek elektrifikasi dengan menggunakan energi terbarukan – termasuk tenaga air, angin, biogas, biomas dan solar – telah mulai mendapat dukungan yang cukup Kincir angin Aklihi, besar dari berbagai pemangku kepentingan. Proyek Sumba ini memiliki potensi yang besar untuk direplikasi di pulau- Desa Kamanggih, Sumba Timur pulau kecil lainnya melalui pendekatan kepada para pemangku kepentingan, dengan target yang jelas, ambisius dan © Hivos Southeast Asia didasarkan pada penelitian mendalam dan solusi yang telah terbukti 36. Faktor pemungkin energi dan sektor ekstraktif 1 Melakukan penilaian secara regional untuk menentukan solusi energi yang tepat (pelaksanaan jangka pendek) Upaya menentukan solusi teknologi terbaik untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia akan membutuhkan penilaian secara regional. Misalnya, kelayakan pembangkit listrik dari gas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tergantung pada faktor-faktor seperti frekuensi pengumpulan sampah, pengembangan TPA yang cocok untuk pemulihan metana, komposisi kimia dari limbah, dan lain-lain 37. Faktor-faktor tersebut bersifat spesifik dan harus diperhitungkan oleh para perencana ketika memilih cara yang paling efektif untuk menghasilkan listrik. Format distribusi juga harus diperhatikan kasus-per kasus, terutama mengingat berbagai variasi geografi di seluruh nusantara. Terdapat berbagai pilihan yang tersedia, seperti memperluas jaringan listrik utama, membangun jaringan listrik mini atau bahkan solusi di tingkat individu rumah tangga f. Faktor pemungkin energi dan SEKTOR ekstraktif 2 Memberikan insentif untuk investasi dalam solusi akses energi bersih (pelaksanaan jangka menengah) Upaya memperkenalkan akses energi bersih memerlukan pengaturan sinyal harga untuk mendorong investasi, terutama di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik dan skema listrik micro-grid. Upaya ini membutuhkan peninjauan iklim investasi secara teratur, dari perspektif pertumbuhan ekonomi hijau, untuk memastikan bahwa kebijakan yang tidak konsisten tidak menimbulkan insentif yang bertentangan 39. Hal ini akan membantu untuk mengatasi hambatan pembiayaan yang membatasi investasi terhadap sumber-sumber energi ini. Lembaga utama yang berkontribusi terhadap pengaturan insentif juga harus terlibat dalam memberikan kontribusi terhadap penghijauan iklim investasi. Misalnya, Perusahaan Listrik Negara (PLN) baru-baru ini berkomitmen untuk mendistribusikan jaringan listrik terbarukan untuk setiap daerah (terutama pulau-pulau terpencil) yang memerlukan energi kurang dari 10 MW. Komitmen ini harus dimonitor untuk memastikan PLN mewujudkan janji tersebut. Faktor pemungkin energi dan SEKTOR ekstraktif 3 Mengidentifikasi hambatan lokal dalam investasi dan mengembangkan transfer pengetahuan (pelaksanaan jangka pendek) Kurangnya informasi bagi masyarakat dan pengembang proyek merupakan hambatan yang signifikan terhadap penyerapan distribusi pembangkit energi terbarukan. Hambatan tersebut dapat diatasi melalui program transfer pengetahuan yang melibatkan semua tingkat lembaga perencanaan dan menggunakan bahan, alat dan lokakarya untuk memfasilitasi penyebaran informasi. Peningkatan kesadaran masyarakat dan pengembang proyek tentang metode pembangkit listrik akan membantu mewujudkan pasar energi yang kompetitif, peningkatan penggunaan teknologi pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan, dan peningkatan akses listrik. Peningkatan kesadaran tersebut dapat disertai dengan penelitian untuk mengidentifikasi investasi dan hambatan regulasi yang menghambat penggunaan energi terbarukan secara lebih luas. Temuan investigasi tersebut kemudian akan dimasukkan kembali ke dalam program transfer pengetahuan. f.Mewujudkan 'Dalam jaringan’ atau ‘di luar jaringan’ Pertumbuhan Ekonomimengacu pada Hijau di jaringan listrik nasional. Listrik di luar jaringan masih menggunakan jaringan tetapi independen dari sistem nasional. Indonesia: Listrik Energi jaringan dan mikro Industri Ekstraktif Petaterhubung ke jaringan nasional, tetapi dapat beroperasi secara independen jika perlu. Desentralisasi energi didalam jaringan disediakan oleh generator skala kecil (sebagian besar dari sumber jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi terbarukan) yang menghasilkan energi dekat dengan daerah-daerah yang dilayani. Proyek-proyek ini dapat dilengkapi dengan solusi luar jaringan skala kecil bagi masyarakat yang terisolasi 22 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Kotak 2.3 Dari limbah menjadi sumber energi yang memperluas akses listrik di Mamminasata Upaya mengkonversi sampah kota menjadi energi diusulkan sebagai intervensi kebijakan dalam penelitian bersama terkiat program pertumbuhan ekonomi hijau yang dilakukan sekitar Zona Strategis Nasional KSN di Mamminasata. Saat ini, dekomposisi limbah menghasilkan metana dalam jumlah besar yang dapat merusak lingkungan. Metana yang ditangkap dijadikan bahan bakar pembangkit listrik untuk dapat mengurangi kerusakan lingkungan dan meningkatkan akses ke layanan energi modern. Hal ini diusulkan sebagai hasil analisis biaya- manfaat yang mendalam dan menyatakan bahwa teknologi tersebut layak untuk digunakan di National Zona Strategis KSN. Diperkirakan, proyek pengumpulan dan penggunaan metana ini akan menghasilkan manfaat sosial bersih sebesar 109 juta dolar dari biaya investasi sebesar 12,4 juta dolar. Selain meningkatkan akses terhadap energi, proyek ini akan memberikan berbagai manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat: 1. .Meningkatkan kemandirian energi bagi ekonomi lokal karena penggunaan energi ini bersumber dari bahan bakar lokal yang bersifat non-fosil. 2. Konversi limbah kota menjadi energi memerlukan pengelolaan penduduk lokal yang merupakan penggerak perekonomian lokal. 3. .Berkontribusi pada faktor pemungkin perusahaan manufaktur 'Membangun industri kecil di sekitar produk limbah' dengan menghasilkan energi dari limbah. 4. Membantu pengelolaan penggunaan lahan berkelanjutan dengan mengurangi jumlah lahan yang dibutuhkan untuk TPA. 5. Dari perspektif lingkungan, pelepasan CH4 hingga 9.000 ton per tahun dapat dihindari, serta dapat menghindari pembangunan pabrik baru yang menggunakan bahan bakar fosil 38. Mengarahkan sektor energi menuju sumber energi yang lebih rendah karbon Indonesia telah berkomitmen untuk menggunakan 25 persen sumber energi dari sumber terbarukan pada tahun 2025 40. Ini akan menjadi persentase yang paling besar dibandingkan sumber bahan bakar lainnya 41. Transisi ini akan meyakinkan industri dan investor bahwa energi rendah karbon adalah sumber energi alternatif yang dapat diandalkan dan aman dari bahan bakar fosil dan akan meningkatkan daya saing industri Indonesia sekaligus mengurangi berbagai biaya yang berkaitan dengan bahan bakar tersebut (lihat Bagian I). Faktor pemungkin energi dan SEKTOR ekstraktif 4 Mengevaluasi tarif feed-in (pelaksanaan jangka pendek) Sebuah proses yang transparan, tangguh dan surya photovoltaic (PV), limbah-untuk-energi, tenaga konsisten dalam menetapkan dan merevisi tarif angin, biomas serta mini dan mikrohidro yang saat feed-in harus dikembangkan untuk meningkatkan ini dikelola melalui tarif feed-in. Proses tender juga kepercayaan investor dalam kerangka kebijakan harga harus ditinjau dalam pelaksanaan proyek, dengan g . Elemen-elemen kunci di antaranya adalah proses mempertimbangkan strategi inovatif seperti misalnya yang jelas dan transparan untuk menentukan kapan Afrika Selatan yang melelang tender untuk proyek- dan apakah harga harus disesuaikan, transparansi proyek pembangkit energi terbarukan 43. Strategi lain penuh atas model keuangan yang digunakan untuk yang harus dipertimbangkan adalah investasi publik menetapkan dan merevisi tarif, dan kejelasan langsung dalam proyek-proyek energi terbarukan kenaikan harga. Kredibilitas dalam evaluasi harga untuk memulai aktivitas dan meningkatkan feed-in dapat ditingkatkan dengan pembentukan kepercayaan investor bahwa teknologi terbarukan regulator energi independen, seperti yang diterapkan merupakan alternatif yang layak untuk bahan bakar di Inggris 42. Langkah-langkah ini dapat membantu fosil. untuk mendorong teknologi hijau seperti energi g. dan Energi Indonesia, Industriseperti banyak negara lain, memberikan sinyal harga ini terhadap berbagai pilihan energi terbarukan melalui tarif feed-in. Tarif Ekstraktif Mewujudkan Pertumbuhan ini dimaksudkan Ekonomiharga untuk menjamin Hijau di Indonesia: tetap untuk semua pilihan energi terbarukan yang mempunyai kualifikasi. Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 23 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Faktor pemungkin Energi dan SEKTOR ekstraktif 5 Menghapus subsidi bahan bakar fosil (pelaksanaan jangka pendek) Badan Energi Internasional (International Energy Agency - IEA) mengakui kemajuan yang dilakukan Indonesia baru- baru ini dalam menghapus subsidi energi secara bertahap melalui kenaikan harga secara bertahap bagi pengguna pada tahun 2013 dan 2014 44. Penghapusan subsidi secara penuh untuk mencegah penggunaan sumber energi yang mencemari lingkungan akan menghasilkan manfaat kesehatan yang besar dan mengurangi kemacetan lalu lintas 45. Hal ini dapat didukung melalui: • Promosi penggunaan gas untuk industri dan transportasi secara terus-menerus; • Pelaksanaan mandat penggunaan campuran biofuel untuk bahan bakar transportasi dan industri; • .Investasi bahan bakar alternatif dan bahan bakar kendaraan yang lebih efisien, termasuk pengenalan standar efisiensi bahan bakar kendaraan; • Investasi dalam peralatan industri modern. Langkah-langkah ini memerlukan perubahan dalam peraturan minyak dan gas bumi. Perubahan ini juga perlu disertai dengan kompensasi terhadap pihak-pihak yang terkena dampak, termasuk bisnis, serta konsumen yang berpenghasilan rendah. Mekanisme yang digunakan untuk mendistribusikan kompensasi ini harus ditentukan dengan baik; salah satu solusi untuk menghindari biaya administrasi tinggi adalah melalui bantuan langsung tunai kepada konsumen yang berpenghasilan rendah. Penyesuaian seperti ini di masa depan perlu dapat diprediksi dan memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk melakukan penyesuaian. Cina dan India memiliki rencana untuk mengurangi subsidi selama jangka waktu sepuluh tahun; jangka waktu ini merupakan rentang maksimal untuk Indonesia jika ingin merebut peluang industri hijau. Faktor pemungkin energi dan SEKTOR ekstraktif 6 Menetapkan harga karbon (pelaksanaan jangka menengah) Mengurangi subsidi energi akan menciptakan kesempatan untuk membangun kesiapan bagi negara dengan menempatkan nilai keuangan pada emisi karbon dioksida. Sektor energi merupakan sektor yang tepat untuk memulai proses ini. Perhitungan dalam penetapan harga energi terkait biaya karbon dari produksi energi dan penggunaannya akan membuat sumber energi terbarukan menjadi lebih kompetitif dan meningkatkan serapan, sementara juga mendorong berbagai perbaikan yang diperlukan dalam efisiensi energi. Faktor pemungkin Badak natural gas liquefaction in Bontang, East Kalimantan © www.badaklng.co.id energi dan SEKTOR ekstraktif 7 Mencari berbagai pilihan penggunaan gas domestik sebagai bahan bakar pada masa transisi (pelaksanaan jangka pendek) Penggunaan gas merupakan sebuah solusi jangka pendek-menengah untuk menjembatani kesenjangan antara batubara dan minyak bersifat karbon intensif dengan energi terbarukan. Penggunaan bahan bakar tak terbarukan tidak kondusif untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau dalam jangka panjang. Namun, dengan melakukan pengelolaan secara hati-hati dengan jangka waktu yang jelas, tingkat emisi dapat diturunkan sehingga meningkatkan ketahanan energi dan membantu memfasilitasi perubahan menuju ekonomi hijau. Penyediaan pasokan gas domestik yang cukup untuk menghindari penggunaan bahan bakar fosil yang intensif karbon akan memerlukan perbaikan infrastruktur secara besar-besaran. Fasilitas- fasilitas tersebut harus dikembangkan untuk mendistribusikan gas ke seluruh nusantara, baik dengan mencairkan gas di pelabuhan untuk pengiriman domestik atau melalui transportasi pipa. IEA telah memberi pedoman tentang Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Energi dan Sektor Ekstraktif Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 24 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Tambang batubara di Murung Raya, Kalimantan Tengah © FFI bagaimana membangun pasar gas domestik yang beroperasi dapat penuh, seperti dengan menggunakan regulator yang independen dan memiliki sumberdaya yang baik untuk memastikan pasar yang transparan 46. Penentuan harga untuk karbon juga akan membuat gas lebih menarik karena lebih rendahnya kandungan karbon dalam gas per unit energi 47. Penggunaan batubara juga memiliki peran dalam transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah karbon. Berbagai pilihan kebijakan yang berbeda terkait pengelolaan penggunaan batubara dapat dirumuskan, seperti menaikkan harga per kWh dalam rangka membiayai investasi besar dalam teknologi batubara bersih. Batubara dapat meningkatkan ketahanan energi dan menurunkan biaya bisnis di Indonesia karena dalam jangka pendek-menengah batubara tersedia di dalam negeri dengan harga murah. Hal ini dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi, sembari mengembangkan sumber energi rendah karbon dan inovasi dalam batubara bersih. Namun, keputusan kebijakan apapun yang berhubungan dengan batubara harus ditentukan secara hati-hati untuk memastikan insentif tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dalam jangka panjang. Faktor pemungkin energi dan SEKTOR ekstraktif 8 Menarik sektor swasta dalam investasi panas bumi dengan mengatasi hambatan keuangan dan berbagi risiko (pelaksanaan jangka menengah) Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang besar dan belum dimanfaatkan terutama di Sumatera dan Jawa yang dekat dengan kota-kota besar dan pusat-pusat industri. Namun, terdapat kendala dalam upaya ekspansi yaitu keterbatasan kapasitas jaringan dan adanya risiko investasi 48. Berbagai hambatan utama yang dihadapi antara lain mencakup ketidakpastian apakah tenaga panas bumi dapat diproduksi dan dijual pada tingkat yang akan menutupi biaya investasi. Selain itu, menurut undang-undang yang disahkan pada tahun 2003, pengembang harus menanggung secara penuh biaya eksplorasi lokasi potensial terlepas dari apakah penemuannya layak atau tidak untuk dikembangkan 49. Pengembangan Fasilitas Geothermal Fund (Geothermal Fund Facility - GFF) bersama dengan pembentukan tarif feed-in untuk pembangkit energi panas bumi adalah langkah positif untuk mengatasi hambatan tersebut. Pengembangan GFF harus diprioritaskan sehingga dapat segera beroperasi dan dapat menyalurkan sumberdaya sesegera mungkin. Dana tersebut dapat mengurangi risiko dan menghilangkan hambatan keuangan dalam eksplorasi panas bumi. Perlu ditentukan spesifikasi produk yang akan mendapatkan pendanaan GGF. Misalnya, ada tiga teknologi panas bumi yang berbeda dan teknologi apa yang paling tepat akan tergantung pada suhu dan tekanan aktivitas panas bumi di lokasi potensial. Dry steam plants langsung menggunakan uap dari aktivitas panas bumi, flash steam plants memindahkan air panas bumi bertekanan tinggi ke dalam tangki bertekanan rendah untuk menghasilkan cetusan uap untuk memberi daya pada turbin listrik, dan binary cycle plants Energi dan Sektor Ekstraktif Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 25 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau menggunakan air panas bumi untuk memanaskan cairan sekunder yang memutar turbin. Mengingat Indonesia lebih banyak memiliki sumberdaya air panas dibandingkan sumberdaya uap murni ataupun sumber air suhu tinggi, penggunaan desain binary cycle lebih berpotensi untuk dikembangkan 50. Yang juga tidak kalah penting adalah perlu adanya penafsiran yang konsisten di semua tingkatan pemerintahan tentang peraturan perencanaan yang mempengaruhi proyek panas bumi. Stabilisasi kebijakan harga energi terbarukan, penghapusan subsidi energi bahan bakar fosil dan pengenalan harga karbon akan membantu untuk meningkatkan daya saing dari panas bumi. Dana sebesar 400 juta dolar Amerika Serikat baru-baru ini didapat dari Dana Teknologi Bersih (Clean Technology Fund - CTF) untuk mengembangkan sekitar 800 MW pasokan panas bumi generasi baru di tiga lokasi dan menciptakan fasilitas berbagi risiko dan keuangan yang dirancang untuk mempercepat investasi dalam efisiensi energi dan energi terbarukan. Hal ini akan berperan penting dalam meningkatkan investasi panas bumi dalam skala nasional 51. PENINGKATAN NILAI TAMBAH DALAM EKSTRAKSI MINERAL Pergeseran dari ketergantungan pada eksploitasi kecil terhadap ekonomi lokal. Misalnya sektor mineral mentah akan memberikan dasar 'Pertanian, Kehutanan, Berburu dan Perikanan' untuk masa depan yang aman secara ekonomi. mempekerjakan 25 kali jumlah orang yang Pengolahan bahan baku sebagai salah satu bekerja di sektor 'Pertambangan dan Penggalian' unsur dari ekspansi kegiatan manufaktur dapat pada tahun 2014 52. Mengingat bahwa Cina meningkatkan nilai tambah, menyediakan menyumbang sekitar 50 persen dari perdagangan lapangan kerja, dan diversifikasi ekonomi. ekspor batubara Indonesia dan bahwa konsumsi Meskipun eksploitasi mineral telah memberikan batubara Cina kemungkinan akan mencapai penerimaan devisa bagi Indonesia, kesempatan puncaknya dalam waktu dekat 53, penggunaan kerja di sektor-sektor padat modal tersebut relatif pendekatan nilai tambah merupakan langkah yang terbatas dan memberikan kontribusi yang relatif sangat tepat. FAKTOR PEMUNGKIN ENERGI DAN Sektor EKSTRAKTIF 9 Mengembangkan pendekatan yang tepat sasaran untuk meningkatkan nilai tambah pengolahan mineral (pelaksanaan jangka pendek) Larangan ekspor mineral saat ini dapat dilengkapi ekspor. Singapore Development Board merupakan atau pada akhirnya digantikan dengan pembinaan contoh yang sangat baik tentang bagaimana hubungan yang lebih fleksibel, kasus demi kasus membangun hubungan dengan investor dengan investor, seiring dengan pemberian insentif asing untuk mengamankan investasi dalam positif seperti keringanan pajak selama masa negeri 54. Pemerintah Indonesia juga dapat yang ditetapkan. Hal ini akan mendorong investor mempertimbangkan untuk membuat investasi besar asing dan domestik untuk berinvestasi langsung yang besar dalam membangun industri dalam pengolahan mineral di Indonesia daripada pengolahan mineral di wilayah ekonomi prioritas. di luar negeri dan akan mendukung pendapatan FAKTOR PEMUNGKIN ENERGI DAN Sektor EKSTRAKTIF 10 Mengembangkan industri pengolahan mineral di daerah yang memiliki potensi energi terbarukan, pasokan air atau sumberdaya tambahan lainnya (pelaksanaan jangka menengah) Upaya untuk mencari sumberdaya tambahan menyediakan sumber energi dengan biaya secara bertanggung jawab di dekat daerah marjinal yang rendah. Selain keuntungan ekonomi deposit mineral di seluruh kepulauan – seperti dibandingkan pesaing internasional, hal ini dapat daerah dengan pasokan air berlimpah – dapat menjadi dasar untuk melakukan pengolahan mineral membuka beberapa peluang untuk memberikan yang menimbulkan sedikit tekanan terhadap nilai tambah melalui eksploitasi keunggulan infrastruktur, kurang intensif karbon dan air secara komparatif. Pengambilan keputusan terkait mineral relatif (karena ketersediaan air yang tinggi), dan apa yang akan diolah dapat menggeser dari fokus meningkatkan ketahanan. Model ini berpotensi yang hanya memperhatikan ketersediaan mineral untuk direplikasi oleh industri pengolahan lainnya menjadi pendekatan yang lebih holistik dan yang terletak di dekat sumberdaya tambahan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya lain di kelompok sektor manufaktur. Namun, semua yang diperlukan untuk pengolahan, termasuk air proposal seperti ini harus benar-benar dinilai dengan dan energi. Sebagai contoh, pengolahan alumina alat dan metode yang diuraikan dalam bagian 3 baru-baru ini mendapatkan investasi yang cukup untuk memastikan proposal tersebut tidak merusak signifikan, didorong sebagian oleh ketersediaan sumberdaya alam yang akan dimanfaatkan, misalnya energi panas bumi untuk peleburan yang dapat dengan mencemari persediaan air. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Energi dan Sektor Ekstraktif Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 26 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau MANUFAKTUR Upaya peningkatan efisiensi dan pengelolaan limbah yang lebih baik dapat merangsang pertumbuhan ekonomi hijau yang signifikan dalam industri manufaktur seraya mengurangi biaya lingkungan dan sosial. Kelompok ini menyumbang hampir seperempat Tindakan-tindakan utama yang direkomendasikan kegiatan ekonomi di Indonesia. Kelompok ini antara lain mendirikan industri kecil di sekitar diantaranya termasuk produksi dan pengolahan aliran limbah, mengembangkan insentif fiskal industri, teknologi terbaru untuk proses untuk efisiensi energi, dan investasi untuk manufaktur hijau, dan daur ulang limbah. penelitian dan pengembangan teknologi bersih Pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, terutama mengingat kesempatan kerja yang cukup besar. TABEL 2.3 Faktor pemungkin utama untuk manufaktur TEMA Faktor pemungkin utama Indikator yang disarankan 1. Mengembangkan insentif fiskal untuk efisiensi energi 2. Menghentikan subsidi bahan bakar fosil dan • Konsumsi Energi per unit PDB memperkenalkan harga karbon Meningkatkan • Emisi dari perusahaan manufaktur 3. Memperbaiki metode produksi di industri berat efisiensi energi per unit GVA termasuk sektor penyulingan 4. Melibatkan pemain kunci di dunia industri dalam mewujudkan efisiensi energi 5. Investasi riset & pengembangan teknologi bersih Mengembangkan sektor • Nilai tambah bruto sektor untuk bahan pengolahan teknologi bersih teknologi bersih 6. Mendukung UKM industri berteknologi bersih Mempromosikan 7. Membangun industri-industri baru untuk produk- • Nilai tambah bruto dari industri produk limbah dan pengolahan pengolahan limbah 8. Menstimulasi investasi untuk pembuangan sampah pengelolaan limbah • % Limbah yang dialihkan ke TPA yang lebih baik rendah GRK dan memastikan pelaksanaan proyeknya MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI Visi Energi 25/25 bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi sebesar 15,6 persen terhadap basis data ‘bisnis seperti biasa’ pada tahun 2025 55. Upaya mencapai target ini akan membutuhkan investasi yang besar untuk meningkatkan efisiensi energi. Namun hal tersebut akan meningkatkan ketahanan energi di Indonesia, meningkatkan daya saing ekspor sektor-sektor yang intensif energi, dan menciptakan peluang bagi produsen peralatan efisiensi energi di seluruh perekonomian Indonesia, termasuk sektor transportasi, bangunan komersial dan perumahan, dan industri. Adapun langkah-langkah yang diperlukan saat ini untuk memobilisasi dana yang dibutuhkan antara lain termasuk adanya komitmen dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dalam mewujudkan ekonomi hijau dengan memberikan prioritas kepada investasi dan pengeluaran yang menstimulasi kegiatan ekonomi hijau secara nasional dan di daerah. Peluang untuk membangun kemajuan ini dijelaskan di faktor-faktor pemungkin berikut ini. Manufaktur Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 27 Manufaktur teknologi tinggi di Tangerang © Ricky Yudhistira / The Jakarta Post FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 1 Mengembangkan insentif fiskal untuk efisiensi energi (pelaksanaan jangka pendek) Penetapan mekanisme insentif untuk mendorong efisiensi energi akan mendorong perbaikan di industri. Praktik penetapan mekanisme insentif di berbagai negara menunjukkan bahwa hal ini dapat dicapai dengan baik melalui keringanan pajak penghasilan perusahaan, konsesi keuangan atau tunjangan penyusutan yang dipercepat bagi perusahaan yang berinvestasi pada peralatan berkinerja tinggi. Insentif fiskal dapat disertai dengan meningkatkan kesadaran baik di dunia industri dan di antara investor mengenai teknologi efisiensi dan penghematan biaya seperti Sistem Manajemen Bangunan (Building Management Systems - BMS). BMS mengendalikan sistem mekanik, listrik dan pipa pada bangunan dengan menghitung konsumsi energi dari waktu ke waktu dan dapat mengurangi hingga 30 persen konsumsi energi bangunan komersial yang merupakan rata-rata 30 persen dari anggaran operasional 56. FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 2 Pengapusan subsidi bahan bakar fosil dan memperkenalkan harga karbon (pelaksanaan jangka menengah) Pelaksanaan efisiensi energi terkendala oleh subsidi bahan bakar fosil dan tidak adanya harga karbon yang akan membuat bahan bakar rendah karbon menjadi lebih kompetitif. Dengan demikian, faktor pemungkin yang juga dibahas dalam kelompok energi dan sektor ekstraktif terkait dengan penghapusan subsidi bahan bakar fosil dan pengenalan harga karbon, dapat membantu mendorong peningkatan efisiensi energi. FAKTOR PERUSAHAAN MANUFAKTUR 3 Memperbaiki metode produksi di industri berat, termasuk sektor penyulingan (pelaksanaan jangka menengah) Terdapat berbagai peluang penting untuk meningkatkan efisiensi energi di industri berat di Indonesia salah satunya dengan modernisasi sektor penyulingan minyak, yang tertinggal dibandingkan dengan praktik terbaik internasional. Pelajaran dalam modernisasi pabrik industri produksi dapat dipelajari dari Cina, Korea dan Singapura. Investasi di bidang penelitian dan pengembangan dalam peningkatan efisiensi serta mekanisme fiskal untuk mendorong teknologi dan perilaku yang efisien sumberdaya, dapat mendorong reformasi besar-besaran dalam jangka panjang. Investasi asing langsung dalam meningkatkan efisiensi energi di industri berat tersebut dapat dijaga dengan memastikan bahwa infrastruktur fisik dan peraturan di Indonesia, serta sistem pajak, dapat menarik investasi dalam peningkatan efisiensi. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Manufaktur Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 28 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 4 Melibatkan pemain industri kunci dalam efisiensi energi (pelaksanaan jangka pendek) Industri pengolahan yang intensif energi, termasuk semen dan baja, relatif tidak efisien dalam penggunaan energi sehingga cenderung menghasilkan emisi yang besar. Pengidentifikasian dan pelibatan kelompok kunci industri - seperti asosiasi industri semen Indonesia - sangat penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya efisiensi energi di seluruh kelompok manufaktur. Sektor publik dapat bekerja bersama dengan kelompok-kelompok tersebut untuk mengembangkan program untuk melatih para pelatih (ToT) mengenai bagaimana cara meningkatkan efisiensi energi sekaligus berbagi pengalaman tentang praktik terbaik dan penelitian efisiensi energi. Target benchmarking kunci untuk intensitas energi industri-industri penting tersebut juga dapat dikembangkan 57. MENGEMBANGKAN SEKTOR TEKNOLOGI BERSIH Dengan mempromosikan efisiensi energi dan energi terbarukan (lihat di atas), Indonesia dapat mengembangkan sektor teknologi bersih yang inovatif, mengembangkan dan memproduksi peralatan yang diperlukan sektor ini. Teknologi bersih, atau "cleantech," dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan yang negatif dan polusi akibat kegiatan ekonomi dan proses. Contohnya antara lain termasuk daur ulang, pengurangan limbah, penggunaan energi terbarukan, dan teknologi informasi yang terkait. Industri manufaktur yang memanfaatkan limbah FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 5 untuk energinya sangat efisien dan mengurangi tekanan pengadaan tempat pembuangan sampah © Holcim Investasi di bidang riset dan pengembangan teknologi bersih untuk pengolahan bahan (pelaksanaan jangka pendek) Zona ekonomi khusus seperti Maloy di Kalimantan mempunyai fokus untuk menargetkan investasi di bidang riset dan pengembangan teknologi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau. Pendekatan ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia dengan membuat 'pusat keunggulan' untuk riset dan pengembangan. Hal ini harus disertai dengan peningkatan jumlah mata kuliah dan mahasiswa yang berkaitan dengan teknologi energi terbarukan terutama di universitas teknik. Karir lulusan universitas-universitas tersebut juga harus dilacak untuk mengidentifikasi kerugian jika mereka bekerja untuk pengusaha luar negeri dan berkarir dibidang yang tidak sesuai dengan pertumbuhan ekonomi hijau. Hasil pelacakan ini kemudian dapat menginformasikan investasi pendidikan di masa depan untuk memastikan adanya kelompok berbakat yang dapat dimanfaatkan pada zona ekonomi khusus. Upaya ini akan mendukung program pendidikan teknologi, pelatihan, dan penelitian teknologi bersih Bank Dunia dan membantu untuk memberikan keterampilan teknis dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memperluas pasar teknologi bersih 58. FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 6 Mendukung UKM dalam industri teknologi bersih (pelaksanaan jangka menengah) Kurangnya pembiayaan pada tahap awal dan tahap pengembangan usaha kecil dan menengah telah diidentifikasi sebagai hambatan yang signifikan dalam pengembangan usaha kecil dan menengah di bidang teknologi bersih. Praktik terbaik di seluruh dunia menunjukkan bahwa berbagai strategi seperti pembiayaan celah kelayakan usaha, pengembangan pasar dan kajian kerangka hukum dan peraturan dapat mendorong pertumbuhan industri teknologi bersih. Langkah-langkah tersebut akan membantu mewujudkan sektor teknologi bersih yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan. Lowongan kerja di teknologi bersih juga lebih menguntungkan dibandingkan dengan di sektor lain karena membutuhkan lebih banyak keterampilan serta memberikan gaji dan keselamatan kerja yang lebih baik 59. Manufaktur Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 29 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mempromosikan pengelolaan limbah yang lebih baik Investasi dalam rantai pasokan pengelolaan limbah contoh, Program Biogas Domestik Indonesia, dikelola dan kapasitas pengolahan, seiring dengan pemberian dan dilaksanakan oleh LSM Hivos sejak tahun 2009, telah insentif dan mekanisme dapat membantu untuk membantu petani kecil mengkonversi kotoran hewan merumuskan sektor yang rentan terhadap marginalisasi dan bahan organik lainnya menjadi biogas. Program sosial ekonomi dan mengurangi dampak lingkungan dari ini telah memberikan kontribusi terhadap kelestarian limbah. Sektor pengelolaan limbah juga memiliki potensi lingkungan dan mendukung masyarakat yang rentan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui nilai secara ekonomi 60. tambah produk yang berasal dari bahan limbah. Sebagai FAKTOR PEMUNGKIN MANUFAKTUR 7 Membangun industri-industri baru terkait produk-produk limbah dan pengolahannya (pelaksanaan jangka menengah) Bahan yang saat ini dianggap sebagai limbah merupakan organik digunakan secara lokal sebagai pupuk dan peluang penting bagi pertumbuhan jika diolah dengan sampah non-organik dikirim ke TPA. Sistem ini telah memberikan nilai tambah. Hal ini akan membawa membantu mengatasi pencemaran laut dengan manfaat ekonomi dan lingkungan dengan mengurangi mencegah membuang sampah ke perairan pesisir - sampah ke TPA dan secara bersamaan menyediakan manfaat yang jelas untuk kelompok sumberdaya alam komoditas yang dapat dijual oleh masyarakat setempat. terbarukan. Hasil ekonomi dari upaya ini termasuk tersedianya stok ikan yang sehat serta peningkatan Produsen, pemerintah dan masyarakat harus bekerja produksi pupuk. Model pengolahan sampah ini secara kolektif untuk memperbaiki kebiasaan saat ini. memberikan berbagai manfaat lintas kelompok sektor Contoh praktik yang baik antara lain termasuk skema terutama sektor manufaktur hijau. Dengan adaptasi percontohan berbasis masyarakat dalam meningkatkan regional, model percontohan sederhana seperti contoh pengelolaan sampah di Kota Batam yang menangani Kota Batam ini dapat ditingkatkan untuk dilaksanakan di sampah domestik pencemar perairan pesisir. Limbah seluruh Indonesia. dikumpulkan, disimpan dan kemudian diolah, sampah Bahan yang saat ini Kotak 2.4 dianggap sebagai limbah PRODUKSI SEMEN DIDUKUNG OLEH merupakan kesempatan SAMPAH KOTA penting bagi pertumbuhan Produsen semen Holcim melaksanakan pendekatan inovatif dalam pembuatan jika diolahan untuk semen yang menunjukkan adanya potensi teknologi bersih di kelompok menambah nilai. Hal ini sektor manufaktur. Pabrik Holcim di Jakarta menggunakan sumber energi dari akan membawa manfaat sampah perkotaan yang disortir dan tidak dapat didaur ulang. Pengolahannya ekonomi dan lingkungan menggunakan panas (energi yang terbarukan) dan mineral (bahan daur ulang) dengan mengurangi sampah sampah anorganik baik sebagai bahan bakar alternatif dan sebagai bahan baku. Energi ini menggantikan proporsi bahan bakar utama dan bahan baku ke TPA, sementara secara yang digunakan dalam proses pembuatan semen. Sampah perkotaan tersebut bersamaan menyediakan jika tidak digunakan akan dikirim ke insinerator limbah berbahaya atau TPA. komoditas yang dapat dijual Dengan demikian, pendekatan ini mengkapitalisasi peluang pertumbuhan oleh masyarakat ekonomi hijau, mempromosikan pengelolaan sampah yang lebih baik, dan setempat. meningkatkan efisiensi energi. Selain itu, pendekatan ini juga berkontribusi terhadap ambisi jangka panjang ekonomi sirkular dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Manufaktur Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 30 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Faktor pemungkin manufaktur 8 Merangsang investasi di tempat pembuangan sampah rendah GRK dan memastikan pelaksanaan proyek tersebut (pelaksanaan jangka panjang) Tempat pembuangan akhir rendah emisi Dengan adanya harga karbon, pengelolaan limbah memanfaatkan berbagai teknologi untuk mengurangi yang bertanggung jawab akan menjadi kebutuhan emisi termasuk pembakaran gas dari biogas dan, secara finansial dan berpotensi menguntungkan secara dalam sistem yang lebih canggih, mengunakan biogas bisnis. Pelibatan perusahaan Indonesia dalam Fasilitas untuk menghasilkan listrik h . Terdapat berbagai cara Lelang Bank Dunia untuk Metana dan Mitigasi Iklim untuk mendorong investasi dalam pengembangan juga dapat menjadi strategi yang efektif. teknologi ini. Pembangunan dapat didorong melalui investasi dalam studi kelayakan dan pemberian dana Kepastian mekanisme pembiayaan agar tetap preferensial dalam tahap awal pengembangan proyek. stabil sepanjang pengembangan dan pelaksanaan Penentuan harga karbon domestik yang operasional proyek menjadi sangat penting, dengan awalnya juga akan menjadi stimulan penting. berfokus untuk mendukung skema percontohan agar menjadi operasional sepenuhnya sebelum membuka lokasi lebih lanjut. Dukungan keuangan Kotak 2.5 dan pendampingan mungkin diperlukan, karena TPA Meningkatkan nilai tambah rendah emisi memerlukan biaya modal yang tinggi dan dari limbah industri perikanan lambat dalam pengembalian biaya sehingga sering ditinggalkan. Hal ini akan membantu untuk mendidik Indonesia investor, calon operator dan masyarakat tentang kelayakan tempat pembuangan sampah rendah emisi. Langkah-langkah ini akan membantu mengatasi Analisis proyek KSN Mamminasata oleh Program Green Growth masalah proyek TPA rendah emisi yang telah mulai Pemerintah Indonesia-GGGI menunjukkan potensi manfaat nilai dilaksanakan (melalui mekanisme seperti Mekanisme tambah bagi produk ikan. Proyek ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Pembangunan Bersih), tetapi kemudian dihentikan karena kurangnya dana 62. Satu potensi intervensi kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau melibatkan pembangunan fasilitas industri untuk mengubah sampah Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, upaya ikan menjadi makanan ikan dan minyak ikan, serta pakan ternak untuk mengikuti perkembangan dalam negosiasi internasional akan menjadi penting terutama yang tinggi protein. Hal ini akan menghasilkan manfaat sekitar 29 juta dolar berkaitan dengan Mekanisme Pasar Baru sehingga dari pertumbuhan ekonomi dan 67 juta dollar dari pembangunan pemangku kepentingan Indonesia memiliki posisi yang sosial bagi perekonomian Indonesia. Hal ini juga akan menyebabkan baik untuk menanggapi perkembangan internasional i. penggunaan modal alam yang lebih baik, memberikan kontribusi bagi prioritas kelompok sektor sumberdaya alam terbarukan untuk mengelola lahan dan penggunaan sumberdaya laut secara berkelanjutan. Selanjutnya, hal itu juga akan mendorong model pertumbuhan ekonomi berdasarkan peningkatan pengolahan, menjadikan sektor ini bagian Sumberdaya perikanan dapat lebih dimanfaatkan secara efisien © Ilse Reijs and Jan-Noud Hutten / CC BY 2.0 penting dari perekonomian Sulawesi. Selain itu, manfaat non-kuantitatif yang dihasilkan mencakup pengurangan pembuangan ikan ke laut, menghindari ikan membusuk di tanah, mengurangi ancaman terhadap berkurangnya stok ikan, memberikan pendapatan pada nelayan local, dan meningkatkan aktivitas pertanian dan budidaya lokal 61. h. Yang paling umum adalah pembakaran dari biogas, tetapi dalam sistem yang lebih canggih biogas dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. i. The New Market Mechanism (NMM) sedang dirancang di bawah naungan UNFCCC. Pada tahun 2013 Indonesia mengajukan definisi NMM sebagai mekanisme yang akan beroperasi di bawah bimbingan dan wewenang Konferensi Para Pihak yang terdiri dari skema berbasis pasar untuk inisiatif pengurangan emisi. Indonesia membedakan calon NMM dari mekanisme lain melalui A Vision keterbukaan for A Greenpartisipasi Indonesia - Manufacturing Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: negara terlepas dari kategorisasi di bawah Protokol Kyoto dan kemampuannya untuk secara lebih luas mengakomodasi proyek dan kegiatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Lihat Dokumen Pemerintah Indonesia, ‘Ajuan Indonesia Pada Mekanisme Baru Berbasis Pasar', disampaikan kepada Peta jalan UNFCCC, 18 untuk Kebijakan, September Perencanaan, 2013, diakses 2 April 2015.dan Investasi http://unfccc. int/files/cooperation_support/market_and_non-market_mechanisms/application/pdf/fvanmanmm_indonesia_18092013.pdf. 31 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau KONEKTIVITAS Upaya membuka potensi ekonomi Indonesia yang luar biasa dan menjadi bagian dari luas dan keberagaman Indonesia, serta upaya memastikan ketahanan terhadap perubahan iklim dan risiko lainnya, akan bergantung pada investasi penting dalam konektivitas. Kelompok konektivitas antara lain termasuk utama lainnya yang dapat bertahan lama, maka transportasi darat dan laut, telekomunikasi, dan perencanaan dan keputusan investasi besar lain yang infrastruktur lainnya. Konektivitas berkontribusi dibuat dalam beberapa tahun ke depan akan memiliki sekitar 17 persen dari PDB, tapi yang lebih penting, dampak jangka panjang terhadap keberhasilan konektivitas sangat penting untuk pertumbuhan Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi hijau. ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan untuk Tindakan-tindakan utama yang direkomendasikan mempersempit kesenjangan antar daerah dalam antara lain melaksanakan analisis biaya-manfaat pembangunan. Bersamaan dengan laju pertumbuhan yang diperluas, memperhatikan faktor sosial ekonomi, terdapat tuntutan yang besar terhadap dan lingkungan dalam merumuskan solusi-solusi infrastruktur perkotaan baru terkait transportasi darat permasalahan utama konektivitas, dan memasukkan dan laut. Sehubungan dengan masa guna pelabuhan, penilaian risiko iklim ke dalam perencanaan dan sistem pengairan dan sanitasi, serta infrastruktur investasi pembangunan perkotaan TABeL 2.4 Faktor pemungkin untuk konektivas SUGGESTED INDICATORS TEMA faktor pemungkin Indkator yang disarankan 1. Membangun struktur kelembagaan dan • Penilaian kualitatif dari program kota pintar Membangun kota kapasitas untuk perencanaan kota pintar 2. Memasukkan penilaian risiko iklim ke dalam ‘pintar’ proses investasi pembangunan perkotaan 3. Membangun kapasitas kelembagaan bagi konektivitas antar moda • Penilaian kualitatif terhadap Membangun rantai 4. Membangun aliran proyek infrastruktur hijau program antar moda antar moda transportasi yang tepat sasaran 5. Melaksanakan analisis biaya-manfaat yang diperluas untuk solusi konektivitas yang besar MEMBANGUN KOTA ‘PINTAR’ "Kota Pintar" dan perencanaan tata ruang yang terkoordinasi dengan baik merupakan kesempatan penting dalam menghindari penggunaan sumberdaya yang tidak efisien dan dapat berfungsi sebagai pusat percepatan pembangunan sektor jasa j. Contoh pembangunan “Kota Pintar” di Indonesia antara lain termasuk Kota Palembang di Sumatera Selatan dan Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur. Kota Semarang juga telah memiliki visi hijau yang menunjukkan adanya potensi manfaat dari pembangunan kota pintar. FAKTOR PEMUNGKIN KONEKTIVITAS 1 Membangun struktur kelembagaan dan kapasitas untuk perencanaan kota pintar (pelaksanaan jangka pendek) Perkembangan kota-kota pintar membutuhkan komitmen politik dan kapasitas kelembagaan daerah 63. Struktur pengambilan keputusan yang jelas harus dibuat dengan menggabungkan tanggung jawab lintas sektoral terkait transportasi perkotaan, energi, air, dan limbah dan jaringan transportasi antar kota. Dengan membuat peraturan yang lebih baik, Indonesia akan dapat mengurangi risiko bagi investor swasta. j. Sebuah kotaPertumbuhan Mewujudkan pintar menggunakan teknologi Ekonomi digital Hijau dan berbagai cara lain untuk terlibatkan warga secara interaktif, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan efisiensi di sektor-sektor utama di Indonesia: Konektivitas Petaseperti jalantransportasi, energi, air untuk Kebijakan, dan pengelolaan Perencanaan, danlimbah. Lihat, misalnya, Departemen Inovasi Bisnis dan Keterampilan, Pemerintah Inggris, ‘Kota Pintar', (Oktober 2013), https://www.gov.uk/ Investasi government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/246019/bis-13-1209-smart-cities-background-paper-digital.pdf.Diakses 17 Februari 2015. 32 Kotak 2.6 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau SEMARANG: KOTA HIJAU MASA DEPAN Kebijakan tata ruang dan infrastruktur Kota Semarang didorong oleh visi untuk menjadi kota hijau masa depan. Prioritas pertumbuhan hijau Kota Semarang telah tertanam dalam rencana kotanya, antara lain: • Mengusulkan 30 persen dari wilayah kota sebagai ruang terbuka hijau; • Menargetkan zero limbah; • Kebijakan pengadaan barang hijau, termasuk yang berkaitan dengan efisiensi energi dan kebutuhan bahan daur ulang; • Mengembangkan solusi transportasi massal; • Meningkatkan pengelolaan limbah; • Pengumpulan air hujan untuk meningkatkan keberlanjutan; • Mempromosikan agroforestry di hulu dan penggunaan lahan secara berkelanjutan untuk mengurangi dampak risiko iklim, seperti tanah longsor, banjir dan genangan air laut akibat pasang, kekeringan dan erosi pantai; • Mempromosikan bangunan hijau yang memiliki sirkulasi udara alami, pencahayaan alami, daur ulang air, dan bahan-bahan ramah lingkungan Ambisi kota Semarang telah dipublikasikan dengan baik dan diakui sebagai contoh praktek terbaik oleh para pembuat kebijakan di seluruh negeri 64 . Semarang punya sejarah membanggakan dan masa depan yang hijau © Suherdjoko/The Jakarta Post Untuk meningkatkan kapasitas dan inovasi teknologi di Indonesia, keahlian internasional juga perlu digunakan. Contoh praktik terbaik, seperti pelaksanaan kota hijau di Kota Semarang (lihat Kotak 2.6), juga dapat memberikan pelajaran dan ide-ide untuk pengembangan kota pintar. Prosedur kontrak dan pengadaan barang harus transparan, dengan akuntabilitas kepemilikan dan pemeliharaan sistem. Analisis perencanaan yang komprehensif diperlukan untuk memprediksi permintaan terhadap infrastruktur kota dan untuk mempertimbangkan keterkaitan antar berbagai bagian. FAKTOR PEMUNGKIN KONEKTIVITAS 2 Memasukkan penilaian risiko iklim ke dalam proses investasi untuk pengembangan perkotaan (pelaksanaan jangka panjang) Unsur penting dari perencanaan kota pintar adalah menggabungkan risiko iklim jangka menengah dan panjang ke dalam proses perencanaan. Upaya untuk mencari cara dalam menghindari atau mengurangi dampak banjir sangatlah penting di wilayah pesisir perkotaan. Penilaian risiko iklim perlu dimasukkan ke dalam proses perencanaan kota dan investasi ditargetkan untuk proposal yang memperhitungkan risiko iklim dengan tepat. MEMBANGUN KONEKSI ANTAR MODA Solusi infrastruktur baru merupakan tuntutan saat kebutuhan konektivitas semakin bertumbuh di dalam dan antar kota. Pergeseran pada node infrastruktur transportasi modern antar moda (darat dan laut) merupakan cara yang lebih efisien untuk menghubungkan nusantara 65. Solusi ini dapat membantu mencapai hasil pertumbuhan ekonomi hijau dengan menyediakan infrastruktur rendah karbon di seluruh nusantara. FAKTOR PEMUNGKIN KONEKTIVITAS 3 Membangun kapasitas kelembagaan konektivitas antar moda (pelaksanaan jangka pendek) Komitmen politik dan kapasitas kelembagaan di tingkat kota perlu dikoordinasikan di tingkat nasional dalam memenuhi kebutuhan perhubungan antar kota dan antar provinsi. Komitmen organisasi mitra dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sektor konektivitas. Sebagai contoh, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) telah berkomitmen untuk menjadi penasehat dalam prioritisasi proyek dan pemanfaatan sumberdaya. Hal ini akan meningkatkan transparansi dan tata kelola pengembangan infrastruktur transportasi. Konektivitas Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 33 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Kotak 2.7 Mendorong investasi konektivitas maritim Baru-baru ini pemerintah meluncurkan rencana untuk membangun atau memperbaiki 24 pelabuhan dalam jangka waktu lima tahun untuk meningkatkan transportasi antar-pulau. Rencana ini akan mencakup lima pelabuhan utama di Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Papua untuk melayani kapal-kapal besar dan membangun jalur pengumpan untuk pelabuhan yang lebih kecil. Investasi ini akan menghasilkan peluang ekonomi baru bagi daerah yang sebelumnya tidak terhubung dan membantu mendistribusikan lalu lintas peti kemas nasional dan internasional, yang saat ini terkonsentrasi terutama di pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak. Langkah besar ini memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi energi yang diperlukan dalam pergerakan komoditas secara signifikan - jika prioritas pertumbuhan ekonomi hijau digunakan dalam perencanaan. Langkah-langkah positif telah diambil untuk memastikan bahwa perbaikan konektivitas tersebut mendapatkan pendanaan yang cukup. Perbaikan ini diusulkan untuk dibiayai melalui APBN dan investor swasta dalam skema kemitraan publik-swasta (PPP). Untuk memfasilitasi hal ini, pengoperasian pelabuhan telah membuka kesempatan yang lebih besar untuk partisipasi pihak asing sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 39/2014. Saat ini, kepemilikan modal asing dalam penyediaan fasilitas pelabuhan dapat mencapai hingga maksimal 95 persen - sebelumnya maksimal 49 persen - dalam skema PPP. Kejelasan hukum dan jaminan pemerintah yang lebih baik juga telah meningkatkan daya tarik investasi secara keseluruhan untuk kerangka proyek-proyek PPP. Komitmen ini membuka peluang investasi dan penggunaan tenaga ahli asing dalam perbaikan konektivitas. Hal ini juga berdampak pada penciptaan hasil pertumbuhan hijau, jika kriteria yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi hijau digunakan untuk melaksanakan PPP 66. Perahu tradisional, seperti yang ada di Bitung, Sulawesi, masih menjadi bagian penting dari perekonomian maritim © Andrea Izzotti FAKTOR PEMUNGKIN KONEKTIVITAS 4 Membangun alur proyek (pipeline) infrastruktur hijau yang tepat sasaran (pelaksanaan jangka pendek) Setelah kapasitas kelembagaan dikembangkan, pembuatan alur infrastruktur hijau yang kredibel dapat membantu memastikan pembiayaan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung reformasi pertumbuhan ekonomi hijau. Aliran proyek ini dibuat untuk wilayah sasaran tertentu di bidang infrastruktur, seperti pelabuhan dan bandara. Pembuatan alur infrastruktur hijau ini akan memformalisasi komitmen ekspansi infrastruktur dan juga berpotensi membantu mengatasi masalah investor yang mungkin belum menyadari adanya nilai langsung dalam biaya dimuka yang lebih tinggi dari infrastruktur hijau. FAKTOR PEMUNGKIN KONEKTIVITAS 5 Melakukan analisis biaya-manfaat yang diperluas terhadap solusi konektivitas utama (pelaksanaan jangka menengah) Semua usulan proyek yang ditetapkan melalui aluran proyek perlu dikaji secara menyeluruh untuk memastikan bahwa fokus proyek-proyek tersebut memiliki biaya yang efektif yang berbasis masyarakat, sumberdaya yang efisien, dan meminimalkan dampak lingkungan. Pendekatan pertumbuhan ekonomi hijau menawarkan berbagai cara untuk mengembangkan infrastruktur maritim dan konektivitas. Pembangunan jalan raya di sepanjang Pantai Jawa, pelabuhan samudera dan jaringan logistik serta pengembangan industri perkapalan dapat ditinjau dan didesain ulang melalui analisis biaya-manfaat yang mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan 67. Beberapa contoh pengambilan keputusan yang holistik dapat ditiru dan dikembangkan kembali, seperti keputusan untuk tidak melanjutkan Jembatan Selat Sunda dengan alasan bahwa hal itu akan menyebabkan kesenjangan ekonomi lebih besar antara bagian barat dan timur Indonesia dan tidak sebanding antara biaya dengan manfaatnya 68. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Konektivitas Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 34 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN Upaya mengembalikan produktivitas ekologi dan memberikan penghargaan pada praktik pengelolaan yang baik dalam pengelolaan kehutanan, pertanian, dan perikanan dapat melindungi layanan jasa lingkungan dan komoditas yang menentukan kemakmuran dan kesejahteraan puluhan juta orang. Kelompok ini terdiri atas kehutanan, pertanian, bergantung pada sumberdaya alam terbarukan, tetapi perikanan, kegiatan-kegiatan berbasis penggunaan pengelolaan hutan dan pengunaan lahan yang buruk lahan dan laut yang menyumbang sekitar 14 persen telah merusak fungsi-fungsi ekologi yang menyediakan dari PDB saat ini dan memberi lapangan pekerjaan jasa lingkungan yang berharga. Tindakan untuk paling banyak. Saat ini, kekuatan ekonomi Indonesia membalikkan degradasi sumberdaya alam terbarukan, mengurangi kerusakan lingkungan lebih lanjut, dan merehabilitasi atau memulihkan ekosistem yang rusak Kotak 2.8 sangat diperlukan segera. Tindakan-tindakan utama yang direkomendasikan antara lain memperkuat REDD+ DI INDONESIA kapasitas penegakan tata kelola dan lembaga-lembaga lingkungan, mempercepat inisiatif Satu Peta (One Map), berupaya menuju sertifikasi-sertifikasi internasional, dan REDD+ adalah mekanisme yang memberikan insentif ekonomi untuk mendorong melibatkan masyarakat dalam memulihkan produktivitas negara-negara berkembang mengurangi emisi karbon melalui pengelolaan hutan ekologi darat dan laut. lestari. Dengan lebih dari 130 juta hektar hutan yang meliputi 70 persen dari luas daratannya, Indonesia merupakan kandidat utama dalam menerapkan REDD+. Peluang pertumbuhan hijau berlimpah dalam kelompok Indonesia perlu melaksanakan program-program REDD+ untuk mengurangi emisi ini, termasuk peningkatan produktivitas, penggunaan lahan yang efisien, dan pengelolaan sumberdaya yang cukup besar dari perubahan penggunaan lahan termasuk kehutanan agar secara berkelanjutan di semua sektor. Terdapat juga dapat mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan secara signifikan. kesempatan untuk mengamankan ekosistem laut dan mengembangkan rantai pasokan yang berkelanjutan Indonesia juga sangat berminat untuk berpartisipasi dalam membatasi pemanasan untuk meningkatkan ketahanan pangan. global karena adanya kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Melalui implementasi REDD+, Indonesia akan layak untuk menerima pembayaran berdasarkan kinerja keuangan dalam mereformasi sektor kehutanan dan pengurangan emisi dari hilangnya hutan. REDD+ menawarkan berbagai bentuk pembiayaan yang inovatif dan stabil bagi pemerintah daerah dan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat. REDD+ juga dapat membantu dalam distribusi Kekayaan alam Indonesia tersebra id seluruh negeri, termasuk hutan-hutan di Papua © Martin Hardiono manfaat bagi pengembangan masyarakat sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Sejumlah program yang berhubungan dengan REDD+ ditampilkan dalam kelompok sektor ini, termasuk Satu Peta, kajian perizinan, mitigasi kebakaran, dan program hak masyarakat adat. Secara keseluruhan, REDD+ sangat cocok untuk diterapkan dalam kerangka ekonomi hijau yang lebih luas, untuk memastikan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim dan berbagi manfaat yang selaras dengan tujuan pembangunan dapat terkoordinasi dan konsisten di seluruh sektor. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: A Vision for A Green Indonesia - Renewable Natural Resources Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 35 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau TABEL 2.5 Faktor pemungkin untuk sumberdaya alam terbarukan TEMA Faktor pemungkin utama Indikator yang disarankan • Perubahan tutupan hutan • Kualitas dan aliran jasa lingkungan 1. Mempercepat insiatif Satu Peta misalnya spesies tanaman yang tercatat di 2. Memantau dan memastikan di mana/kapan wilayah dan jangka waktu tertentu konsesi dan izin diberikan • Jumlah konsesi hutan dan perkebunan Memperbaiki 3. Membangun kapasitas penegak hukum yang memenuhi standar praktik yang baik pengelolaan hutan dan lingkungan • Cakupan air di daerah lahan gambut 4. Meningkatkan model pengelolaan hutan dan lahan lahan gambut yang inovatif • Daerah lahan gambut terdegradasi • Emisi gas rumah kaca dari lahan gambut 5. Mengatasi lahan gambut yang terdegradasi dan yang rusak kebakaran gambut • Jumlah kebakaran lahan gambut per tahun • Produktivitas atau penipisan stok ikan 6. Melibatkan masyarakat untuk mengembalikan • Keanekaragaman jenis terumbu karang Mengamankan produktivitas ekologi dari ekosistem laut • Daerah dengan terumbu karang, rumput ekosistem laut 7. Meningkatkan pengelolaan industri limbah cair laut, dan hutan bakau yang berkualitas dan padat di daerah pesisir • Kualitas air laut 8. Meningkatkan Program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan di seluruh kementerian • Nilai produksi berkelanjutan yang 9. Memperkuat ambisi dan menegakkan sertifikasi bersertifikat Mengembangkan • Pelacak pada sertifikasi produk kunci produk domestik rantai pasokan yang 10. Mengembangkan program transfer pengetahuan • Jumlah perusahaan yang memenuhi standar RSPO atau ISPO berkelanjutan tentang rantai pasokan yang berkelanjutan 11. Mengelola peran petani kecil dalam produksi 12. Mempromosikan alternatif alami dari pupuk kimia bagi kesuburan tanah 13. Meningkatkan produktivitas padi, kelapa sawit dan komoditas pangan utama lainnya 14. Diversifikasi makanan pokok Kemajuan menuju • Produktivitas beras per Ha 15. Investasi publik secara langsung dalam kegiatan ketahanan pangan • Jumlah makanan pokok dalam diet rehabilitasi lahan gambut 16. Perluasan dukungan dalam konsesi restorasi ekosistem MEMPERBAIKI PENGELOLAAN HUTAN DAN LAHAN Penghapusan inkonsistensi antara kebijakan daerah, banjir, erosi dan sedimentasi, sekaligus meningkatkan nasional dan sektoral dapat membantu memperbaiki kesehatan tanah, kualitas udara dan air dan mengurangi regulasi tentang pembukaan lahan dan produksi, biaya dijelaskan dalam Bagian 1. Sebagai contoh, khususnya perluasan perkebunan. Peningkatan komponen Hijau dari Program Nasional Pemberdayaan konsultasi dengan masyarakat dan perencanaan yang Masyarakat (PNPM) yang berfungsi untuk memperbaiki terintegrasi di seluruh kementerian dan lembaga dapat pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan sekaligus membantu untuk mengatasi inkonsistensi tersebut meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat dan memberikan manfaat bagi penduduk setempat. miskin dan memberdayakan kelompok-kelompok lokal Upaya meningkatkan transparansi dalam perizinan yang mempersiapkan dan melaksanakan sub-proyek sumberdaya alam juga penting untuk mempromosikan dan kegiatan. Upaya mengadaptasi dan kemudian praktik partisipatif, terutama di tingkat kabupaten. meningkatkan skala program tersebut, sambil belajar Berbagai contoh program inovatif untuk memperbaiki dari pengalaman masa lalu, juga sangatlah penting. pengelolaan hutan dan lahan yang dapat mengurangi FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 1 Mempercepat inisiatif Satu Peta (pelaksanaan jangka pendek) Inisiatif Satu Peta diprakarsai melalui instruksi presiden pada tahun 2010 untuk menyusun informasi geospasial. Pada bulan April 2011, Undang-Undang Informasi Geospasial mendayagunakan lembaga geospasial untuk mengumpulkan dan mengonsolidasikan semua peta yang dihasilkan oleh instansi dan daerah 69. Program Satu Data akan membantu menghubungkan berbagai pengambilan keputusan mengenai manajemen penggunaan lahan melalui penggunaan dataset yang memungkinkan berbagai departemen untuk bekerja menggunakan data umum yang dikumpulkan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Sumberdaya Alam Terbarukan Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 36 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Citra satelit wilayah Katingan di Kalimantan Tengah © Martin Hardiono Kotak 2.9 PEMANTAUAN PENGGUNAAN LAHAN DI INDONESIA DAN BRASIL Sistim Akuntansi Karbon Hutan Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Forest Carbon Accounting System - INCAS), baru-baru ini diluncurkan oleh Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Sistem ini menyediakan pemantauan yang komprehensif tentang perubahan penggunaan lahan dan estimasi emisi gas rumah kaca berbasis lahan. Sistem ini menghasilkan pemantauan spasial tahunan - perubahan tutupan hutan secara rinci dari citra satelit dari waktu ke waktu untuk seluruh Indonesia 71. INCAS akan memberikan dasar yang tepat dan komprehensif bagi pengukuran, pelaporan, dan verifikasi tahunan emisi gas rumah kaca program REDD+ di Indonesia. dengan menggunakan prinsip standar 70. Upaya memastikan bahwa Satu Peta menyimpan data akurat untuk seluruh Indonesia, dan sepenuhnya dimanfaatkan Untuk melakukan pemantauan yang lebih aktif dan memiliki oleh para pengambil keputusan di seluruh kementerian, akan sangat membantu respon yang cepat, pengalaman monitoring penggunaan mempersingkat proses perencanaan dan regulasi. lahan yang dirintis Brazil dapat memberikan pelajaran bagi Indonesia. Sistem berbasis satelit real time Brazil, yang dikenal sebagai ‘DETER’ dapat memantau dan mendeteksi FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA deforestasi dengan interval 15 hari, sehingga sistem ALAM TERBARUKAN 2 ini membantu identifikasi titik-titik deforestasi dengan Memantau dan memastikan transparansi pemberian konsesi cepat. Dengan informasi ini, Institusi Lingkungan Hidup dan izin (pelaksanaan jangka pendek) dan Sumberdaya Alam Brazil beroperasi sebagai polisi lingkungan dalam mentargetkan upaya penegakan hukum Sebuah sistem pemantauan yang komprehensif akan Beberapa kabupaten, berdasarkan peringatan DETER. Kapasitas DETER untuk membantu menyelesaikan sengketa kepemilikan lahan seperti Sekadau di akibat ketidakjelasan batas lahan. Bantuan teknis Kalimantan Barat, menangkap pelanggar memungkinkan lembaga penegak eksternal dapat memberdayakan pemangku kepentingan mencoba beberapa jenis hukum lingkungan untuk menerapkan hukuman berat lokal untuk menahan pelaku penyalahguna izin agar inisiatif transparansi terhadap deforestasi ilegal. DETER juga memiliki fungsi bertanggung jawab. Hal ini akan mengatasi kekhawatiran melalui perizinan preventif penting dengan menghalangi potensi pelanggaran masyarakat yang terus berkembang terkait dengan sumberdaya alam satu dan merupakan alat utama yang mendukung kebijakan izin eksploitasi sumberdaya alam melanggar rencana atap. Peningkatan penggunaan lahan Brazil. tata ruang provinsi 72. Sumberdaya yang terbatas dan inisiatif ini akan manajemen data dan informasi kehutanan Indonesia berkontribusi besar yang buruk menyulitkan lembaga yang bertanggung terhadap pertumbuhan jawab untuk menegakkan batas-batas hutan dan ekonomi hijau. menyetujui konsesi. Isu-isu lain terkait dengan monopoli pembelian kayu oleh perusahaan dan peraturan untuk Sistem pemantauan juga perlu dikelola di tingkat mencegah pembalakan liar belum ditegakkan dengan perencanaan pemerintah provinsi dan nasional untuk efektif. memastikan pendekatan multi-sektoral yang seimbang. Pengelolaan lingkungan merupakan tanggung jawab Faktor pemungkin ini dibangun berdasarkan kemauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, namun politik daerah yang kuat di balik upaya untuk penyebab deforestasi berasal dari sektor yang diatur mereformasi sistem perizinan eksploitasi sumberdaya oleh kementerian lainnya. Upaya untuk memastikan alam yang ada. Kabupaten Merangin, Tebo, dan Muaro koordinasi kebijakan antar kementerian dan lembaga Jambi di Provinsi Jambi kini ditunjuk menjadi model dapat melindungi hutan dari eksploitasi yang berlebihan nasional terkait perbaikan proses perizinan sumberdaya oleh sektor pertanian, energi dan industri ekstraktif. alam. Peninjauan konsesi dan izin yang dilakukan baru- Penggabungan kementerian lingkungan dan kehutanan baru ini oleh BP REDD+ di Kalimantan juga merupakan baru-baru ini di bawah satu kementerian merupakan langkah penting. langkah untuk memperbaiki dan mengoordinasikan pengawasan peraturan. Koordinasi perencanaan tata Banyak kabupaten di Indonesia telah menunjukkan ruang di bawah kewenangan yang diberikan pada tahun kemajuan yang signifikan dalam proses perizinan 2015 kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang eksploitasi sumberdaya alam yang lebih transparan. Hal seharusnya dapat membantu untuk menghindari konflik ini bagian dari inisiatif MCA-I Perencanaan Penggunaan prioritas dalam manajemen penggunaan lahan 74. Lahan Partisipatif (PULP), bersama dengan pengaturan batas desa 73. Sumberdaya Alam Terbarukan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 37 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Kotak 2.10 PERATURAN PENINGKATAN KAPASITAS DI BRASIL Konsultasi dengan masyarakat serta Contoh lain yang relevan dari Brazil adalah Rencana Aksi perencanaan terintegrasi dengan Pencegahan dan Pengendalian Deforestasi di daerah kementerian dan yang setingkat dapat hukum Amazon (PPCDAm). Rencana Aksi ini mencakup menyelesaikan masalah inkonsistensi langkah-langkah untuk membangun peraturan dan dalam kebijakan dan memberi kapasitas penegakan hukum, termasuk meningkatkan manfaat bagi masayarakat lokal. jumlah dan kualitas staf penegakan hukum. Keputusan Presiden Brazil 6321 tahun 2007 membentuk dasar hukum untuk mengidentifikasi kota yang mengalami penggundulan hutan yang intensif. Rencana aksi ini juga membuat sistem pelacakan kendaraan pengangkutan hasil hutan di dalam FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA dan di antara daerah konsesi selain sistem lacak balak untuk ALAM TERBARUKAN 3 melacak setiap pohon yang ditebang. Sebuah sistem audit Membangun kapasitas penegakan hukum lingkungan hutan independen dirancang untuk memastikan bahwa (pelaksanaan jangka menengah) konsesi telah diaudit kepatuhannya setidaknya sekali Peningkatan jumlah dan kualitas personil penegak hukum lingkungan untuk setiap tiga tahun. Bersama-sama, langkah-langkah ini telah meningkatkan konsistensi investigasi dan penerapan sanksi merupakan langkah yang mampu meningkatkan kepatuhan dengan meningkatkan sangat penting. Hukuman dapat berupa denda, embargo, penangkapan dan penyitaan, ketegasan pengenaan sanksi. bersama dengan perusakan barang, alat dan bahan produksi. Indonesia juga dapat mempertimbangkan untuk menyebarluaskan daftar pemilik tanah dari wilayah yang diembargo untuk mendorong perubahan perilaku. Pada tingkat regional, dasar hukum untuk mengidentifikasi daerah yang mengalami deforestasi yang intensif dan mengambil tindakan yang tepat sasaran sangat diperlukan. Kepatuhan dapat ditingkatkan dengan meniru contoh Brazil serta menerapkan sistem untuk memastikan konsesi diaudit setidaknya setiap tiga tahun. Langkah-langkah ini akan memperbaiki tata kelola sektor kehutanan dan membantu mengurangi jumlah penegak hukum yang sebenarnya harus memberikan tindakan disiplin yang dapat menempatkan penegak hukum dalam situasi berbahaya. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 4 Memperbanyak model inovatif untuk pengelolaan hutan dan lahan gambut (pelaksanaan jangka pendek) Sejumlah inisiatif yang telah berjalan di Indonesia dapat direplikasi oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengelola lingkungan hutan secara lebih efektif. Pertukaran lahan yang dikelola dengan baik dapat mengalokasikan lahan terdegradasi untuk penggunaan lahan non-kehutanan, sementara ekosistem hutan yang ditunjuk merupakan lahan pengganti yang disediakan dengan fungsi hutan yang lebih baik. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) mendorong pengelolaan hutan yang lebih baik melalui pemantauan inventarisasi hutan oleh masyarakat. The Green Corridor Initiative (GCI) memiliki target untuk merehabilitasi 400 hektar hutan untuk menyambung kembali dua ekosistem penting di pegunungan Halimun Salak dan menciptakan koridor untuk pergerakan satwa langka utama. Kelompok masyarakat setempat terlibat penuh dalam pekerjaan restorasi, sejumlah pekerjaan hijau terkait dengan pertanian berkelanjutan, pengembangan lembaga ekonomi masyarakat dan pengembangan pusat belajar masyarakat 75. Diskusi perencanaan tingkat desa di Kalimantan Timur © GIZ Forclime Kotak 2.11 PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT DI SETULANG Pemerintah Kalimantan Utara berkolaborasi dengan donor internasional pada program lima tahun untuk mengembangkan KPH. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kerangka kelembagaan dan peraturan dalam pengelolaan hutan lestari, konservasi alam, dan pengurangan emisi gas rumah kaca. Sebagai pilot, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memberikan hak kepada tiga desa untuk menggunakan hutan setempat sebagai hutan desa untuk jangka waktu 25 tahun. Lebih dari 500 petani dan staf lokal di 15 plot demonstrasi kakao dilatih secara intensif terkait agroforestri suksesi. Mitra LSM membantu untuk membangun inventarisasi hutan di Desa Manua Sadap. Semua pihak yang terlibat dalam inventarisasi mendapatkan pelatihan tentang pengumpulan data. Mitra LSM juga mendukung pelaksanaan pengelolaan hutan berbasis masyarakat di desa-desa tersebut. Kegiatan ini telah meningkatkan hak masyarakat lokal atas tanah, selain memastikan transparansi yang lebih baik, partisipasi yang lebih kuat dalam proses perencanaan, dan tindakan yang lebih efisien. Dalam jangka panjang, intervensi ini akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor kehutanan dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat pedesaan yang miskin 76. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi A Vision for A Green Indonesia - Renewable Natural Resources 38 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Konsesi Restorasi Ekosistem (KRE) menyediakan model yang inovatif dan layak secara komersial untuk dimanfaatkan oleh investasi swasta untuk membantu merehabilitasi produktivitas ekologi hutan yang rusak. Dipelopori oleh Burung Indonesia, KRE mendorong pergeseran dari eksploitasi kayu yang berlebihan kepada pendekatan yang lebih seimbang dan berbasis ekosistem untuk pengelolaan hutan sehingga bermanfaat bagi keanekaragaman hayati dan masyarakat setempat. Model KRE lebih disukai oleh investasi swasta dalam proyek-proyek perdagangan karbon REDD+, terutama terkait hutan rawa gambut mengingat cadangan karbon bawah-tanah sangat besar. Daerah KRE saat ini, sekitar 480.093 ha, terfragmentasi dan terisolasi. KRE perlu ditingkatkan untuk mencakup daerah yang lebih luas dan berdekatan dengan daerah kesatuan ekosistem atau lanskap. Pemberian insentif bagi perusahaan dan pemerintah daerah untuk memperluas KRE dapat memberikan efek multiplier saat daerah yang terisolasi dapat terhubung dan membentuk koridor yang dilindungi. Studi kasus yang ditampilkan dalam Kotak 2.14 menggambarkan potensi KRE dalam memberikan aliran pendapatan tambahan bagi masyarakat serta untuk mengembalikan jasa lingkungan yang berharga, seperti dari hutan rawa gambut. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 5 Mengatasi lahan gambut yang terdegradasi dan kebakaran gambut (pelaksanaan jangka menengah) Seperti dijelaskan dalam bagian 1, kebakaran gambut dan emisi gas rumah kaca dari lahan gambut yang rusak menimbulkan biaya kesehatan yang besar dan biaya lainnya yang dapat diatasi dengan berbagai cara 77. Sebuah langkah penting yang perlu dilakukan adalah menerapkan "Master Plan" untuk merehabilitasi satu juta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah yang terdegradasi oleh Proyek Sejuta Hektar Lahan Gambut (PSHLG) 78. Hal ini dapat dilengkapi dengan menyalurkan investasi publik langsung, baik dari pemerintah maupun dari dana iklim internasional, untuk kegiatan rehabilitasi lahan gambut tertentu dalam wilayah PSHLG dan tempat lain di Kalimantan dan Sumatera79. Perluasan konsesi restorasi ekosistem, seperti yang direkomendasikan dalam faktor pemungkin di atas, dapat juga berkontribusi terhadap restorasi lahan gambut. Akhirnya, moratorium konversi hutan rawa gambut dapat diperpanjang dan perkebunan baru tidak akan berlokasi di lahan gambut k. MENGAMANKAN EKOSISTEM LAUT World Resources Institute (WRI) menghitung bahwa terumbu karang Indonesia dapat menghasilkan potensi keuntungan bersih untuk ekonomi yang berkelanjutan sebesar US $ 1,6 miliar per tahun. Hal ini membuat batu karang menjadi komoditas penting dalam pasar berbasis modal alam 80. Menjaga ekosistem laut sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan mengingat bahwa 65 persen dari total asupan protein hewani berasal dari ikan dan produk perikanan 81. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015- 2019 mencakup tindakan-tindakan untuk memperkuat kedaulatan maritim, menghapus penangkapan ikan ilegal dan pembajakan, mengurangi pencemaran laut, dan meningkatkan ketahanan pangan. Setiap tujuan tersebut dapat berkontribusi terhadap ekonomi hijau. Berbagai program pemerintah yang sedang berjalan di bidang ini berusaha untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam manajemen perikanan dan terumbu karang dan membangun kapasitas masyarakat lokal dan perikanan komersial. Sebagai contoh, dalam pembangunan kembali setelah bencana tsunami, kapasitas pemerintah daerah dan provinsi serta masyarakat nelayan dibangun untuk bersama-sama mengelola perikanan pesisir dengan cara yang lebih berkelanjutan 82. Jika terus ditingkatkan, langkah- langkah positif seperti ini memiliki potensi untuk memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi hijau. k. Analisis Biaya Manfaat yang diperdalam dari proyek restorasi hutan rawa gambut yang dilakukan oleh Program Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Green Growth RI-GGGI mendukung klaim ini. Untuk keterangan lebih lanjut, lihat GGGI, Biaya dan Manfaat Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi Investasi di Restorasi Ekosistim dan Konservasi: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Lahan Gambut di Katingan. Laporan Teknis, 2014 yang tersedia di http://gggi.org/. 39 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 6 Melibatkan masyarakat untuk mengembalikan produktivitas ekologi ekosistem laut (pelaksanaan jangka menengah) Terdapat kesempatan penting bagi pemerintah dan masyarakat pesisir untuk bekerja bersama-sama dalam memulihkan dan bertanggung jawab mengelola ekosistem laut dekat pantai, termasuk terumbu karang, padang lamun, dan hutan bakau. Sejumlah inisiatif berbasis masyarakat telah dijalankan, seperti proyek Rehabilitasi Ekologi Mangrove di Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara. Dari tahun 1993 sampai 2011, proyek ini berhasil memulihkan daerah mangrove yang rusak demi kepentingan ekonomi masyarakat lokal 83. Meningkatkan upaya tersebut akan sangat berguna untuk memulihkan produktivitas ekologi yang menopang perikanan artisan dan komersial di berbagai kawasan. Proyek rehabilitasi dan manajemen terumbu karang (Coral Reef Rehabilitation and Management Project - COREMAP) sejak tahun 2004 telah merehabilitasi terumbu karang melalui penentuan zona perikanan dan perlindungan yang diatur secara lokal. Pendekatan ini memberdayakan nelayan untuk memantau dan mengelola perikanan berbasis terumbu karang di bawah naungan lembaga berbasis masyarakat. Tahap ketiga COREMAP, dimulai pada tahun 2014, bertujuan untuk melembagakan secara nasional pendekatan COREMAP di bawah kebijakan dan kerangka hukum yang bertujuan untuk menjaga ekosistem laut 84. Mengukur hutan bakau di Kubu Raya, Kalimantan Barat © CIFOR / CC BY-NC 2.0 Menjaga ekosistem laut sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan mengingat bahwa 65 persen dari total asupan protein hewani berasal dari ikan dan produk perikanan. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 7 Meningkatkan pengelolaan industri limbah cair dan padat di daerah pesisir (pelaksanaan jangka menengah) Peningkatan kapasitas dan berbagi pengetahuan dengan industri berat dalam menunjukkan manfaat pemulihan ekosistem laut yang lebih bertanggung jawab dapat memainkan peran penting dalam jangka waktu menengah. Upaya ini telah dilaksanakan pada skala lokal yang menunjukkan beberapa keberhasilan dengan menampilkan gambaran potensi yang terukur dalam mengatasi pencemaran laut melalui perubahan perilaku. Salah satu contoh adalah program percontohan untuk mencegah polusi industri perairan pesisir di Kota Batam. Pada akhir tahun 2007, 79 industri besar menandatangani surat perjanjian yang mewajibkan mereka untuk melaporkan proses pemantauan dan pengelolaan lingkungan. Keberhasilan ini sebagian besar dicapai melalui kegiatan peningkatan kapasitas yang bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan industri limbah cair dan padat. Hasil dari upaya ini dapat menciptakan lingkungan yang positif dan mengurangi kemungkinan sengketa wilayah atas sumberdaya alam 85. Contoh ini dapat diperluas untuk program regional dan akhirnya tingkat nasional untuk industri berat di wilayah pesisir. Sekelompok ikan di Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara © Ilse Reijs and Jan-Noud Hutten / CC BY 2.0 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Sumberdaya Alam Terbarukan Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 40 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau MENGEMBANGKAN RANTAI PASOKAN YANG BERKELANJUTAN Model produksi yang tidak berkelanjutan menimbulkan biaya lingkungan dan sosial yang besar dan akhirnya menyebabkan kegagalan menyejahterakan masyarakat yang terus bertambah. Pengembangan rantai pasokan secara berkelanjutan dapat memainkan peran kunci dalam mempromosikan ketahanan pangan, sekaligus mengurangi tekanan pada sumberdaya hutan Indonesia. Selain ketahanan pangan, rantai pasokan yang berkelanjutan akan memastikan kegiatan industri di Indonesia memiliki basis aset yang sehat untuk memperoleh bahan baku dalam jangka panjang. Rantai pasokan juga akan memastikan bahwa produk Indonesia dapat bersaing di dalam negeri dan internasional, mengingat adanya peningkatan pengawasan dari konsumen. Dengan demikian, langkah-langkah ini secara signifikan dapat meningkatkan ketahanan kelompok sektor industri manufaktur. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 8 Meningkatkan program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan di kementerian (pelaksanaan jangka pendek) Program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (lihat Kotak 2.12) telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019 dan akan sepenuhnya dilakukan dan dilembagakan di berbagai sektor dengan dukungan dari sektor swasta. Kerangka peningkatan pengetahuan dan kapasitas akan dikembangkan bersama dengan kerangka indikator. Fokus awal adalah pada rantai pasokan untuk produk kertas, plastik, logam, dan makanan. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 9 Memperkuat ambisi dan pelaksanaan sertifikasi produk domestik (pelaksanaan jangka menengah) Dorongan terhadap produsen Indonesia untuk memenuhi sertifikasi produk yang lebih ketat akan membantu membuka akses ke pasar internasional yang lebih luas. Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dapat lebih ditingkatkan khususnya di bidang verifikasi lacak balak dan sertifikasi dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di luar sektor kehutanan 87. Upaya penguatan ini akan membantu memastikan keberlanjutan rantai pasokan. Demikian pula, sertifikasi ISPO Indonesia juga dapat diperkuat dengan memberikan kewajiban hukum kepada pemasok untuk memenuhi ISPO dan sementara itu secara bertahap meningkatkan persyaratan agar para pemasok tersebut sejalan dengan praktik terbaik internasional dan memastikan kepatuhan para pemasok diaudit secara komprehensif. Kotak 2.12 Program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (Sustainable Consumption and Production program- SCP) Dipimpin oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Program-program ini telah dilaksanakan oleh sejumlah institusi, antara lain Bappenas, program SCP adalah program ekonomi yang berfokus pada Kamar Dagang (KADIN) yang telah berupaya untuk meningkatkan kapasitas perubahan kebiasaan produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan industri dalam negeri untuk produksi produk hijau, Badan Pengkajian dan di masyarakat. Jika dilaksanakan secara efektif, program ini akan secara Penerapan Teknologi berupaya untuk meningkatkan inovasi produk hijau, signifikan berkontribusi terhadap pertumbuhan hijau di Indonesia. dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia berusaha untuk meningkatkan pemahaman konsumen tentang produk hijau. SCP telah resmi diadopsi Program ini bertujuan untuk membuat pola produksi ekonomi yang lebih dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015- efisien dengan mendorong perubahan perilaku industri dan pola konsumsi 2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas, dan yang lebih diarahkan pada produk dan jasa hijau di tingkat rumah tangga dan kementerian terkait lainnya dalam proses konfirmasi dan membangun korporasi. SCP diluncurkan sebagai Kerangka 10-Tahun Program Nasional daftar indikator nasional SCP di kementerian dan lembaga. SCP Indonesia (2013) yang memiliki empat program yang diharapkan dapat dilaksanakan segera, yaitu: Inisiatif yang pada dasarnya bersifat umum ini mencerminkan perlunya keterlibatan antar kementerian agar program ini dapat berhasil. Program • Kementerian Energi mengembangkan kriteria untuk eco-labeling yang ini dapat menyelaraskan kebiasaan konsumsi dan produksi dengan basis merupakan sistem untuk memverifikasi pelabelan dan informasi publik perekonomian aset alam jika diakomodasi secara konsisten di seluruh untuk mendukung inisiatif ini serta pengadaan barang publik hijau. kementerian dan didukung oleh insentif ekonomi dan non-ekonomi yang • Upaya-upaya Kementerian Perindustrian menuju penghijauan industry. sesuai seperti pajak, pembebasan pajak, dan sertifikasi 86. • Kementerian Pekerjaan Umum dan Dewan Bangunan Hijau (Green Building Council) mengembangkan konstruksi bangunan hijau. • Kementerian Pariwisata meningkatkan kapasitas ekowisata berbasis konsumsi dan produksi model yang berkelanjutan. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 41 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 10 Mengembangkan program alih pengetahuan terkait rantai pasokan yang berkelanjutan (pelaksanaan jangka menengah) Sebuah program yang menyediakan alih pengetahuan berkaitan dengan informasi REDD+, minyak kelapa sawit yang berkelanjutan (Sustainable Palm Oil -SPO) dan inisiatif lain yang tersedia dalam bahasa setempat dan yang menjelaskan bagaimana manfaat dari hal-hal di atas dapat disebarluaskan ke masyarakat sehingga dapat membantu memperjelas potensi yang akan diperoleh dari manajemen rantai pasokan yang berkelanjutan. Pendidikan dan inisiatif yang berhubungan dengan peningkatan kesadaran juga dapat berkontribusi dalam pengelolaan sumberdaya alam terbarukan yang lebih berkelanjutan. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 11 Meningkatkan peran petani dalam produksi (pelaksanaan jangka panjang) Mengakui sepenuhnya peran penting petani kecil dalam produksi minyak sawit dan kayu sangat krusial untuk mencapai rantai pasokan yang benar-benar berkelanjutan dalam jangka panjang. Walaupun perusahaan besar mungkin mampu membuat komitmen keberlanjutan, tetapi petani yang memberikan pasokan kepada perusahaan- perusahaan tersebut akan lebih sulit diakses. Meskipun demikian, petani mewakili komponen penting dari rantai pasokan. Inisiatif yang melibatkan petani, termasuk membantu mereka yang terlibat dalam praktik-praktik bisnis yang berkelanjutan dalam mengakses pembiayaan akan lebih membantu dalam menunjukkan manfaat ekonomi dari pengelolaan penggunaan lahan berkelanjutan. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani sekaligus melindungi hutan di Sumatera bagian selatan. Program pertanian organik telah mulai dilaksanakan di 34 desa melalui dukungan skema keuangan mikro, sedangkan kaum perempuan di Way Kambas, Lampung telah mendapatkan pelatihan terkait metode perikanan organik. Program-program seperti ini dapat terus diperluas 88. KEHATI juga telah membentuk praktik Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) dilebih dari 60.000 ha hutan di Provinsi Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Masyarakat ditawarkan dukungan untuk mendapatkan sertifikasi RSPO dan membantu dengan cara lain untuk mengalihkan pertanian ke arah yang lebih berkelanjutan. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 12 Mempromosikan alternatif alami dari pupuk kimia untuk kesuburan tanah (pelaksanaan jangka menengah) Pupuk kimia memberikan hasil panen jangka pendek yang menguntungkan petani kecil dan konsumen. Namun, dalam jangka panjang pupuk kimia menyebabkan hilangnya bahan organik dan nutrisi tanah. Saat ini, pemerintah setiap tahunnya menghabiskan sekitar Rp 21 triliun untuk subsidi pupuk yang dirancang untuk petani kecil 89. Pendekatan ekonomi hijau tidak dapat serta-merta menghentikan subsidi ini, karena subsidi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup petani kecil dan masyarakat pedesaan. Sebaliknya, pendekatan ekonomi hijau dapat mempromosikan alternatif sumber kesuburan tanah alami, termasuk penggunaan teknik pertanian konservasi yang meningkatkan unsur organik tanah. Subsidi pupuk kimia dapat dikurangi ketika alternatif ini telah tersedia. Selain itu, pendekatan hijau justru menekankan pentingnya efektifivitas pemberian subsidi pupuk terutama untuk petani miskin. Pasar tradisonal, seperti yang terlihat pada gambar di Tangerang, masih menjadi tautan penting bagi ekonomi hijau © Dhoni Setiawan / The Jakarta Post Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Sumberdaya Alam Terbarukan Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 42 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Kekayaan modal alam Indonesia (arah jarum jam): Hutan yang subur di Kalimantan © YLI Sungai di Kalimantan © KFCP Bekerja di ladang di Toraja, Sulawesi Selatan © Martin Hardiono Pompa Barsha di Desa Kadahang, Sumba Timur © HIVOS Asia Sumberdaya Alam Terbarukan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 43 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau KEMAJUAN MENUJU KETAHANAN PANGAN Ketahanan pangan merupakan prioritas strategis bagi Langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi produksi Indonesia; pertumbuhan ekonomi hijau dapat membantu padi dan produk makanan utama lainnya dapat memastikan pencapaian hal tersebut. Meskipun meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi di seluruh merupakan produsen beras terbesar ketiga di dunia, nusantara. Namun, penting bagi para pembuat kebijakan Indonesia tetap menjadi negara pengimpor beras. Situasi untuk mempertimbangkan aspirasi pertumbuhan hijau ini terus berlanjut karena teknik pertanian yang masih dalam rangka menghindari timbulnya biaya lingkungan tidak efisien, ditambah lagi dengan ketergantungan yang tidak perlu saat mewujudkan ketahanan pangan. terhadap beras dalam pola makan sehari hari 90. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 13 Meningkatkan produktivitas padi, kelapa sawit dan komoditas pangan utama lainnya (pelaksanaan jangka pendek) Mengingat pentingnya peran beras dalam pola makan kebanyakan orang Indonesia, peningkatan produktivitas padi sangat penting untuk mencapai ketahanan pangan. Saat ini KADIN tengah mengembangkan sebuah program kemitraan dengan petani padi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi padi melalui penggunaan teknologi baru dan program pembiayaan yang inovatif. Program ini dapat diperluas jika terbukti berhasil 91. Perhatian yang lebih pada peningkatan produktivitas, bukan hanya produksi, dapat membantu memastikan peningkatan produksi tidak menyebabkan biaya lingkungan yang tidak perlu, misalnya, akibat penggunaan lahan yang tidak efisien. Demikian pula, peningkatan produktivitas kelapa sawit harus menjadi prioritas penting sebagai sumber pendapatan dan makanan serta potensinya untuk merusak lingkungan. Kedua langkah ini dapat membantu untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan meningkatkan daya tahan terhadap fluktuasi harga impor pangan. Manfaat lain dari peningkatan produktivitas meliputi peluang potensial untuk mendapatkan pendapatan dari ekspor jika surplus dapat dicapai seiring dengan pengurangan ekspansi perkebunan ke wilayah hutan dan lahan gambut. FAKTOR PEMUNGKIN SUMBERDAYA ALAM TERBARUKAN 14 Diversifikasi makanan pokok (pelaksanaan jangka menengah) Diversifikasi pangan pokok akan membantu mengurangi permintaan beras dengan mempromosikan tanaman lain yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan mendukung pola makan yang sehat dan seimbang. Diversifikasi juga dapat meningkatkan ketahanan pangan dari ancaman risiko iklim dalam menghadapi kondisi ke depan yang tidak pasti. Diversifikasi pangan dapat dicapai dengan mendistribusikan informasi tentang varietas berbagai tanaman serta mendorong berbagi pengetahuan di antara masyarakat pertanian. Subsidi benih untuk tanaman yang kurang dimanfaatkan seperti sagu panjang yang merupakan makanan pokok di Indonesia Timur, juga harus dipertimbangkan 92. Pendekatan ini berkaitan dengan faktor pemungkin ‘membangun, mendukung dan memantau pasar berbasis modal alam terbarukan’ yang merekomendasikan pengembangan dan penggunaan database spesies yang kurang termanfaatkan. Dengan demikian, diversifikasi tanaman memiliki potensi untuk menghasilkan pendapatan serta untuk meningkatkan ketahanan pangan. Ketahanan pangan merupakan prioritas strategis bagi Indonesia; pertumbuhan ekononomi hijau dapat membantu memastikan pencapaiannya. Meskipun produsen beras terbesar ketiga di dunia, Indonesia tetap menjadi negara pengimpor beras. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Sumberdaya Alam Terbarukan Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 44 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM Upaya mengenali dan memanfaatkan nilai yang melekat pada sumberdaya alam dapat memberikan berbagai peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia memiliki kekayaan alam yang besar, termasuk melekat pada sumberdaya alam dapat memunculkan ekosistem hutan dan terumbu karang yang paling berbagai peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi beragam di dunia secara biologis, tanah vulkanik yang yang berkelanjutan. Tindakan-tindakan utama yang subur, dan ekosistem air tawar yang sangat produktif. direkomendasikan antara lain termasuk mengembangkan Model bisnis yang didasarkan pada pemanfaatan modal ekowisata di seluruh kepulauan Indonesia, memelihara alam secara non-konsumtif menawarkan berbagai pasar baru yang berbasis modal alam seperti pengaturan peluang terbaru, beberapa di antaranya seperti farmasi untuk pembayaran jasa lingkungan (PES) dalam skala bioteknologi yang masih dalam tahap pengembangan. besar, mengembangkan pasar karbon domestik, dan Upaya mengenali dan memanfaatkan nilai yang memobilisasi pendanaan karbon hutan. TABEL 2.6 Faktor pemungkin untuk pasar baru berbasis modal alam TEMA Faktor pemungkin Indikator yang disarankan Meningkatkan • Penilaian kualitatif program 1. Melaksanakan pelatihan dan pemantauan ekowisata ekosistem ekowisata 2. Menetapkan, mendukung dan memantau Mengidentifikasi pasar pasar baru berbasis modal alam • Nilai tambah bruto dari baru yang berbasis 3. Melakukan bioprospecting yang pasar baru modal alam modal alam bertanggung jawab untuk mendukung pengembangan industri bioteknologi Menetapkan pembayaran 4. Memperkenalkan tata kelola Pembayaran Jasa • Banyaknya pembiayaan PES jasa lingkungan Lingkungan (PES) yang dibayarkan Mempercepat • Volume pembiayaan karbon 5. Mengembangkan kerangka pasar karbon untuk proyek-proyek Indonesia pembayaran ganti rugi domestik • Jumlah proyek baru terdaftar di 6. Merespon secara dinamis diskusi internasional karbon internasional dan bawah skema pembayaran ganti tentang penetapan harga karbon domestik rugi karbon 7. Mengembangkan alur prioritas kegiatan Memobilisasi pendanaan 8. Menetapkan pembiayaan utang jangka • Banyaknya pembiayaan REDD+ karbon hutan yang dibayarkan panjang yang terpilih MENINGKATKAN EKOWISATA Pendapatan pariwisata Indonesia menyumbang sebesar 9,1 persen dari PDB pada tahun 2013. Pariwisata sebagian besar bergantung pada kualitas lingkungan alam negara tersebut 93. Sebagai bagian dari pergeseran secara luas ke arah ekonomi berbasis jasa, industri ekowisata di Indonesia perlu ditingkatkan. Peningkatan ekowisata ini membutuhkan kebijakan dan insentif konsisten jangka panjang dengan mendorong model ekowisata yang sesuai. Sebayak 10 persen dari pengunjung internasional adalah pengunjung ekowisata sebagai sub-sektor yang tumbuh sebesar 30 persen per tahun khususnya pertumbuhan dalam ekowisata bahari 94. Pasar Baru Berbasis Modal Alam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 45 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Kotak 2.13 PROYEK EKOWISATA HARAPAN PARI MANTA95 Ikan Pari Manta menghadapi ancaman yang terus meningkat akibat praktik penangkapan dan bycatch perikanan, dan diklasifikasikan sebagai spesies yang rentan mengalami kepunahan di alam liar. Meskipun mereka tidak dianggap sebagai sumberdaya perikanan yang berkelanjutan, namun terdapat pasar yang bersifat destruktif yang melakukan penjualan tulang saring insang manta untuk tujuan pengobatan. Untuk mengatasi hal ini, Proyek Harapan Pari Manta mengusulkan pariwisata yang dikelola secara bertanggung jawab melalui aktivitas menonton pari manta sebagai alternatif ekonomi yang berpotensi menguntungkan. Diperkirakan wisata Manta Ray memiliki nilai ekonomi secara global Keanekaragaman hayati laut Indonesia menawarkan banyak peluang untuk ekowisata ©Manta Ray of Hope diperkirakan lebih dari US $ 100 juta per tahun, dibandingkan dengan US $ 11 juta untuk perdagangan global insang tulang saring. Sejumlah strategi telah diusulkan untuk mewujudkan transisi ini. Strategi tersebut termasuk pengembangan ekowisata di masyarakat pesisir; pendidikan konsumen agar tidak percaya tentang manfaat obat insang; penekanan pada langkah-langkah perlindungan internasional; moratorium perdagangan di pusat-pusat perdagangan insang; perlindungan habitat kritis pari manta; dan strategi penegakan hukum untuk semua Ekowisata adalah model yang sangat mudah diadaptasi dan dapat memberikan aliran pendapatan negara dari tindakan perlindungan. Dengan dukungan dari Proyek Harapan Pari Manta, Indonesia budaya dan pertunjukkan kreatif seperti arkeologi, desa, telah menyetujui undang-undang untuk sepenuhnya melindungi semua pari manta lokakarya kerajinan dan festival budaya serta potensi flora dalam zona ekonomi eksklusif seluas hampir enam juta kilometer persegi, menjadikannya dan fauna. Jika sektor swasta memiliki kesempatan dan tempat perlindungan terbesar untuk pari manta di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa insentif untuk menghijaukan rantai pasokan pariwisata, hasil pertumbuhan hijau dapat dicapai jika sumberdaya alam dipandang sebagai peluang berbagi manfaat dalam hal pekerjaan, maka pengurangan pendapatan yang menguntungkan untuk dikelola secara bertanggung jawab, bukan kemiskinan dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dapat menjadi signifikan. dieksploitasi secara berlebihan. FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 1 Melaksanakan pelatihan ekowisata dan pemantauannya (Pelaksanaan jangka panjang) Upaya memaksimalkan manfaat dari ekowisata tergantung pada manajemen yang tepat dan membutuhkan peningkatan kapasitas pemerintah untuk mengawasi industri serta dukungan dari organisasi non-pemerintah seperti Jaringan Ekowisata Indonesia (Indecon). Tantangan dalam memaksimalkan manfaat dari ekowisata ini termasuk memastikan bahwa operator wisata yang mengklaim sebagai 'eco' memberikan manfaat yang mereka janjikan. Secara paralel, upaya harus dilakukan untuk melibatkan industri pariwisata konvensional di Indonesia. Menunjukkan praktik terbaik ekowisata dan peluang bisnisnya kepada para pelaku bisnis yang berpengaruh akan membantu proses penghijauan industri pariwisata konvensional dan akhirnya dapat meningkatkan kesempatan kerja dan permintaan yang lebih besar bagi industri jasa yang sejalan dengan target pertumbuhan jangka panjang Identifikasi pasar baru berbasis modal alam Pandangan yang cukup baru dalam menilai sisi ekonomi ekonomi yang signifikan. Industri yang telah modal alam yang dikombinasikan dengan kekayaan dikembangkan terkait keanekaragaman hayati Indonesia ekologi di Indonesia menyatakan bahwa terdapat banyak yang kaya spesies palem (seperti sagu, aren dan siwalan) kesempatan yang belum dimanfaatkan. Apabila investor dapat memberikan contoh yang baik bahwa manfaat dapat diyakinkan akan adanya potensi tersebut, seiring ekonomi dapat dinikmati jika pasar berbasis modal alam dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan stabilitas diidentifikasi untuk berbagai tanaman obat dan tanaman di pasar-pasar berbasis modal alam, maka pasar- akar diseluruh wilayah nusantara. pasar baru tersebut dapat menciptakan pertumbuhan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Pasar Baru Berbasis Modal Alam Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 46 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 2 Membangun, mendukung dan memantau pasar baru berbasis modal alam (pelaksanaan jangka menengah) Berbagai contoh model bisnis mandiri yang inovatif dan bergantung pada penggunaan modal alam Indonesia secara berkelanjutan dapat terus ditingkatkan. Peternakan kupu-kupu di Papua yang telah menikmati keberhasilan dalam memenuhi permintaan kolektor global melalui dukungan WWF dapat terus diperluas. Peternakan kupu kupu berfungsi sebagai alat konservasi dan juga habitat kupu-kupu karena kupu-kupu harus dipelihara dalam lingkungan hutan alam. Dengan menyediakan lapangan kerja alternatif ini, ketergantungan ekonomi pada pertanian dapat dikurangi dan dengan demikian juga membantu pencegahan kerusakan habitat utama 96. Gaharu, atau kayu gaharu, juga merupakan komoditas yang sangat dicari dan merupakan kesempatan kunci untuk mendapatkan penghasilan jika upaya untuk meningkatkan metode budidayanya didukung dan ditingkatkan terutama untuk kepentingan petani kecil di tepi hutan 97. Data terkait spesies yang kurang termanfaatkan dan memiliki potensi komersial yang tinggi harus digunakan untuk mengarahkan strategi keterlibatan pemerintah 98. Langkah-langkah dukungan harus memastikan bahwa yang didukung adalah petani kecil - bukan operator komersial besar - yang menerima manfaat utama dari proses ini dan bahwa produksi tersebut memperkuat ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat. FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 3 Melakukan bioprospecting yang bertanggung jawab untuk mendukung pengembangan industri bioteknologi (pelaksanaan jangka panjang) Bioprospecting yang bertanggung jawab dapat memberikan pedoman bagi industri bioteknologi dalam menghasilkan keuntungan melalui penggunaan sistem kehidupan untuk menciptakan produk yang bermanfaat. Bioprospecting, atau mencari spesies baru yang mempunyai potensi untuk penggunaan komersial, cocok bagi kekayaan keanekaragaman hayati serta kearifan lokal Indonesia 99. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mendirikan pusat-pusat keanekaragaman hayati di beberapa provinsi untuk mengidentifikasi dan mendata sumberdaya genetik yang endemik di Indonesia 100. Demikian pula, obat tradisional (jamu) kini diproduksi secara komersial sebagai produk herbal untuk dijual oleh produsen lokal dan digunakan terutama sebagai obat-obatan, lilin, suplemen dan perawatan di spa 101 . Sangatlah penting untuk memastikan bahwa skema tersebut disusun dengan benar dan diawasi oleh instansi pemerintah dalam pengaturan akses dan pembagian manfaat yang muncul dari pemanfaatan sumberdaya 102. MENETAPKAN PEMBAYARAN Air terjun di Gunung Simpang, Jawa Barat © CC BY-NC-ND 2.0 UNTUK JASA LINGKUNGAN Daerah aliran sungai, produksi kayu, penyerapan karbon, lahan gambut dan mangrove menyediakan layanan penting yang perlu dilindungi. Pembayaran untuk Jasa Lingkungan atau Payments for Ecosystem Services (PES) merupakan cara yang sangat efektif untuk melindungi jasa lingkungan tersebut. Salah satu contoh adalah skema di Kalimantan Barat yang berfokus pada pemanfaatan kayu, produk hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan secara berkelanjutan, dan satu skema di Lombok yang berfokus pada agroforestri berbasis masyarakat untuk rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) 103. Program-program ini dapat terus ditingkatkan dan diperluas serta diadopsi ke dalam suatu kerangka yang menjamin keadilan dan konsistensi. Pasar Baru Berbasis Modal Alam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 47 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 4 Memperkenalkan tata kelola PES (pelaksanaan jangka pendek) Meskipun instrumen ekonomi dalam mempromosikan perlindungan lingkungan telah diamanatkan dalam undang-undang sejak tahun 2010, penyusunan peraturan pemerintah tentang instrumen ini masih dalam proses. Diharapkan peraturan tersebut dapat segera diselesaikan dan menjadi langkah maju dalam pembentukan PES secara luas 104. Analisis Biaya Manfaat yang diperluas (eCBA, yang dijelaskan di Bagian 3) akan menjadi kunci untuk mengidentifikasi daerah- daerah baru untuk PES. Dukungan teknis diperlukan untuk membuat proses yang sesuai dalam mengembangkan, menerapkan, dan mengelola kontrak PES. Model PES yang inovatif saat ini sedang dikembangkan di Sangihe oleh KEHATI di mana sumber energi mikrohidro dibangun dengan menggunakan pendapatan dari konservasi hutan. Hal ini juga dapat menjadi pelajaran yang berguna. Kotak 2.14 KONSESI RESTORASI EKOSISTEM DI KALIMANTAN TENGAH Sebagian besar hutan di Indonesia adalah hutan produksi yang terbuka untuk kegiatan ekonomi. Agar berhasil, upaya untuk memulihkan dan menjaga modal alam harus kompetitif secara ekonomi. Menurut pemrakarsa proyek dan investor, kredit karbon (dibeli oleh pembeli baik domestik maupun internasional) sejauh ini adalah sumber pendapatan yang paling bagus untuk mendukung investasi dalam konsesi restorasi ekosistem (KRE). Namun, pengembangan KRE menghadapi ketidakpastian regulasi dan risiko bisnis yang besar. Akibatnya, RE saat ini tidak dapat bersaing dengan alternatif penggunaan lahan untuk hutan produksi seperti minyak sawit dan kayu. Analisis yang dilakukan sebagai bagian dari Program Green Growth Pemerintah Indonesia-GGGI menunjukkan bahwa dengan harga karbon USD 2,57 / ton karbon, investasi KRE akan balik modal. Dengan harga sekitar Lahan gambut yang rusak seperti di Katingan, Kalimantan Tengah, penting untuk direhabilitasi USD 9,3 / ton, investasi KRE bahkan dapat lebih menguntungkan dari pada skenario bisnis seperti biasa. untuk mengembalikan nilai ekologi, sosial dan Ini merupakan peluang besar untuk menyelamatkan ekosistem hutan jika harga karbon dapat ditentukan ekonomi mereka © Rimba Makmur Utama dan diterima secara luas 105. MEMPERCEPAT PEMBAYARAN GANTI RUGI KARBON INTERNASIONAL DAN DOMESTIK Pada tahun 2009, Indonesia berkomitmen untuk diperlukan untuk mempertahankan pasar ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen dan memberikan kesempatan bagi pengembangan ekonomi 41 persen dengan dukungan internasional. Komitmen berbasis layanan di Indonesia. Namun demikian, ini ditegaskan kembali dalam RPJM 106. Mekanisme pembayaran ganti rugi karbon membutuhkan kerangka berbasis pasar dapat memainkan peran penting dalam kerja internasional dan nasional yang kompleks, serta memfasilitasi pengurangan emisi tersebut dengan komitmen kebijakan jangka panjang l. Pelaksanaan cara yang hemat biaya. Mekanisme ini juga dapat pembayaran ganti rugi karbon secara penuh dan menyediakan pembiayaan untuk proyek-proyek yang operasinya seharusnya dipandang sebagai tujuan jangka mendukung pemeliharaan dan pengembangan modal panjang beserta tema lain dan faktor pemungkin yang alam Indonesia, dan mata pencaharian yang bergantung diuraikan dalam bagian ini. padanya. Pada akhirnya, kegiatan pendukung yang FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 5 Mengembangkan kerangka pasar karbon domestik (pelaksanaan jangka pendek) Dalam jangka pendek, peluang untuk menggunakan pembayaran ganti rugi internasional dalam kelompok modal alam paling mungkin berasal dari pasar sukarela. Hal ini memerlukan peningkatan pemantauan, pelaporan dan verifikasi pengurangan emisi yang tidak mudah bagi banyak upaya pengurangan emisi yang terkait dengan modal alam m. l. Carbon Mewujudkan offsetting Pertumbuhan Ekonomi Hijau adalah pengukuran di atau penguranganIndonesia: menghindari emisi karbon dioksida dari satu sumber untuk mengimbangi jumlah yang setara dari emisi Pasar Baru lain. sumber-sumber Berbasis Modal Alam m. PetaPenilaian jasa modal jalan untuk alam danPerencanaan, Kebijakan, jasa ekosistem merupakan tantangan utama ketika melakukan Analisis Biaya Manfaat yang diperdalam terhadap restorasi hutan rawa gambut selama melaksanakan dan Investasi program gabungan dengan pertumbuhan ekonomi hijau. Untuk keterangan lebih lanjut, lihat GGGI (2014) Biaya dan Manfaat Investasi di Restorasi Ekosistim dan Konservasi, op. cit . 48 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau Panorama hutan pagi hari di Gunung Gede Pangrango © CIFOR / CC BY-NC-ND 2.0 Pada saat yang bersamaan, mekanisme pembayaran ganti rugi seperti Skema Karbon Nusantara dapat diuji. Mekanisme ini berpotensi dilaksanakan bersama program pilot pengaturan harga karbon dalam negeri, di mana keberhasilan dan tantangan dimonitor secara berhati hati, sehingga akhirnya dapat diperluas implementasinya. Pengembangan metodologi untuk mengukur pengurangan emisi terutama dalam kaitannya dengan REDD+ dan pengurangan emisi lainnya dari aforestasi, kehutanan dan perubahan penggunaan lahan sektor lainnya dapat membantu pengembangan pasar karbon. Peningkatan kapasitas penegakan hukum lingkungan yang direkomendasikan oleh Kelompok Sumberdaya Alam Terbarukan menjadi penting untuk mendukung keberhasilan potensi pasar karbon. FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 6 Secara dinamis menanggapi diskusi internasional mengenai harga karbon (pelaksanaan jangka menengah) Dalam jangka menengah, tindakan yang diuraikan di atas harus dilengkapi dengan fokus yang kuat pada diskusi yang muncul di tingkat global tentang penggunaan kredit internasional untuk mendukung pengurangan emisi dalam kaitannya dengan REDD+ dan Mekanisme Pasar Baru. Pemantauan diskusi secara dekat akan memungkinkan Indonesia untuk bergerak cepat ketika mekanisme tersebut menjadi lebih jelas, sehingga dapat meminimalkan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam kaitannya dengan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM). MEMOBILISASI PENDANAAN KARBON HUTAN Indonesia berada pada posisi yang baik untuk menarik Dunia Kemitraan Karbon Hutan (FCPF) dan Program investasi publik dan swasta dalam upaya mengurangi Investasi Hutan dari Dana Investasi Iklim untuk perubahan iklim di sektor kehutanan. Pemerintah mengembangkan kegiatan tersebut. Pada tahun 2010, bekerja sama dengan, antara lain, Fasilitas Bank Norwegia menjanjikan US $ 1 miliar untuk mengurangi Pasar Baru Berbasis Modal Alam Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 49 Bagian 2: Peluang Pertumbuhan Ekonomi Hijau emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) 107. mekanisme efektif yang tepat dengan basis "kontribusi Karbon hutan dapat memberikan peluang besar untuk untuk pengurangan emisi yang telah diverifikasi". menyalurkan pendanaan bagi proyek-proyek jika Indonesia dapat mempersiapkan dan memanfaatkan satu atau lebih FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 7 Mengembangkan alur kegiatan prioritas (pelaksanaan jangka pendek) Terdapat 11 provinsi REDD+ di mana 526 kegiatan telah diidentifikasi dari 8 SRAPs, 10 RAD-GRKs. Proyek REDD+ didukung oleh LSM, organisasi masyarakat sipil, lembaga donor dan sektor swasta 108. Saat ini terdapat kekurangan modal internasional untuk menjalankan proyek-proyek kehutanan dan persaingan yang sengit untuk modal yang terbatas. Membangun alur yang kredibel untuk proyek dapat memberikan kontribusi signifikan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau, mengingat bahwa deforestasi dan degradasi hutan adalah kontributor tunggal terbesar emisi CO2 di Indonesia. Dalam jangka menengah, pengembangan alur kegiatan prioritas juga dapat menjadi penting ketika dana telah tersedia dari Green Climate Fund. FAKTOR PEMUNGKIN PASAR BARU BERBASIS MODAL ALAM 8 Membangun preferensial pembiayaan utang jangka panjang (pelaksanaan jangka menengah) Pembiayaan utang jangka panjang dapat memainkan peran sentral dalam mengembangkan kerangka penilaian yang baik untuk membangun alur yang besar dari proyek kehutanan dan menyalurkan dana preferensial jangka panjang kepada pembangunan proyek tersebut. Hal ini dapat meningkatkan minat pemerintah terhadap potensi keberhasilan proyek tersebut yang dapat menambah dorongan untuk menyelaraskan koordinasi pemerintah pusat-daerah. Lembaga keuangan tradisional tidak mungkin berinvestasi dalam proyek-proyek ini untuk saat ini karena mereka memiliki profil risiko yang lebih tinggi dan keuntungan lebih rendah dibandingkan peluang investasi seperti kelapa sawit atau pertambangan. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Pasar Baru Berbasis Modal Alam Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 50 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi BAGIAN 3 Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Membahas strategi pertumbuhan hijau di tingkat desa © GGGI Indonesia K omitmen dan upaya sistematis untuk mengarusutamakan prinsip-prinsip, pendekatan, dan praktik pertumbuhan hijau ke dalam dalam perencanaan tata ruang yang bertujuan untuk mengintegrasikan sejumlah tujuan lain yang bersaing dengan tujuan konservasi dan pembangunan n 109. kebijakan perencanaan, dan investasi nasional dan Beberapa upaya-upaya lokal diuraikan dalam peta jalan daerah sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan sebagai studi kasus. Meskipun hingga saat ini Indonesia skala, memperluas cakupan, dan mereplikasi proyek- belum merumuskan strategi nasional pertumbuhan proyek hijau yang menjanjikan tetapi terisolasi seperti hijau, peta jalan ini merupakan batu loncatan menuju yang digambarkan di Bagian 2. Bagian 3 menjelaskan pengembangan strategi nasional pertumbuhan hijau. kebijakan hijau yang berorientasi pada pertumbuhan, kondisi pemungkin, perangkat analisis untuk membantu Pada tahun 2014, Kementerian Keuangan meluncurkan pengambilan keputusan investasi, dan mekanisme Strategi Perencanaan dan Penganggaran Hijau untuk pemantauan untuk mengukur kinerja pertumbuhan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia 110 . Meskipun investasi hijau. hanya mencakup kerangka waktu lima tahun, kebijakan ini memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan Upaya pengarusutamaan akan efektif jika dilengkapi strategi pertumbuhan ekonomi hijau nasional jangka dengan strategi pertumbuhan ekonomi hijau yang panjang yang komprehensif. Rekomendasi kebijakan komprehensif dengan tujuan dan kegiatan yang utama dari strategi perencanaan dan penganggaran hijau terintegrasi ke dalam regulasi, insentif, perencanaan (Green Planning and Budgeting - GPB) diuraikan pada pembangunan, dan pembiayaan dan diarahkan bagian di bawah ini. pada desain dan investasi di tingkat proyek. Saat ini, Indonesia tengah mengimplementasikan rencana Pendekatan dan metode yang dibahas di Bagian 3 aksi strategis nasional dan daerah untuk pengurangan dibangun berdasarkan sistem dan instrumen pemerintah emisi gas rumah kaca. Selain itu, beberapa kabupaten yang telah ada ada tetapi dengan penekanan tujuan dan kota juga tengah bergerak menuju strategi untuk lebih meningkatkan efisiensi, akuntansi untuk pertumbuhan hijau melalui pendekatan ‘bentang alam’ biaya dan manfaat sosial, lingkungan dan ekonomi, dalam rangka mewujudkan kelima hasil yang diinginkan dari pertumbuhan ekonomi hijau. Pertama, bagian Upaya pengarusutamaan akan efektif jika tersebut menjelaskan kebijakan fiskal yang akan memungkinkan dan memandu perencanaan dan dilengkapi dengan strategi pertumbuhan investasi pertumbuhan ekonomi hijau, sebagaimana ditetapkan dalam Strategi GPB. Berikutnya adalah ekonomi hijau yang komprehensif menguraikan fitur utama dari perencanaan pembangunan Indonesia dan mengidentifikasi titik dengan tujuan dan kegiatan yang masuk strategis untuk pendekatan, metode, dan perangkat pertumbuhan ekonomi hijau, sekaligus terintegrasi ke dalam regulasi, insentif, juga membahas bagaimana pendekatan, metode, dan perangkat tersebut dapat digunakan untuk mengatasi perencanaan pembangunan, dan tantangan dalam mengimplementasikan perencanaaan proyek dan investasi ‘yang lebih hijau’. Bagian ini pembiayaan dan diarahkan pada desain diakhiri dengan menguraikan indikator-indikator untuk memantau dan mengukur kinerja pertumbuhan dan investasi di tingkat proyek. ekonomi hijau. Pengarusutamaan n. Pertumbuhan Para penulis 2014 Ekonomi Kajian OECD, MenujuHijau Pertumbuhan Hijau di Asia Tenggara, menemukan bahwa "upaya untuk mengejar pertumbuhanMewujudkan Pertumbuhan ekonomi hijau Ekonomi paling efektif Hijau didengan bila dipandukan Indonesia: strategi nasional ...Perencanaan dalam Kebijakan, [dan] diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan dan anggaran nasional" (hal. 65) . Menurut penelitian ini, sejauhPeta dan Investasi ini hanya jalandua negara untuk ASEAN -Kamboja Kebijakan, dan Vietnam Perencanaan, dan–yang telah Investasi mengadopsi strategi pertumbuhan ekonomi hijau nasional. 51 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Kotak 3.1 Mendukung Pemerintah Kabupaten Konsesi kelapa sawit untuk merencanakan Indikator risiko dan menerapkan Risiko rendah strategi pertumbuhan Risiko sedang ekonomi hijau Risiko tinggi Tidak diperbolehkan Provinsi Kalimantan Tengah sedang menghadapi tantangan yang cukup besar terkait dengan perluasan BANAMA perkebunan kelapa sawit dan karet. Masalah-masalah ini TINGANG termasuk deforestasi ilegal yang luas, penyalahgunaan izin, perusakan lahan gambut, perambahan kawasan lindung dan konflik sosial. Rencana KAHAYAN tata ruang yang tidak lengkap dari provinsi mempersulit masalah TENGAH ini karena batas lahan tidak jelas. Berlanjutnya ekspansi tanaman perkebunan ini akan menyebabkan kerusakan hutan besar besaran. JABIREN RAYA Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Pemerintah Indonesia-GGGI mendukung pemerintah provinsi khususnya di dua kabupaten, Pulang Pisau dan Murung Raya, dalam merancang dan menerapkan strategi SEBANGAU pertumbuhan hijau di wilayah mereka. Langkah pertama dalam proses KUALA ini adalah mendukung pemerintah kabupaten dalam menilai prosedur perencanaan saat ini dan mengidentifikasi titik masuk untuk meningkatkan KAHAYAN perencanaan tata ruang. Sektor karet dan kelapa sawit adalah penyebab HILIR utama deforestasi, tetapi karet dan sawit juga merupakan sumber pendapatan lokal dan provinsi yang paling penting. Oleh karena itu, MALIKU sektor-sektor ini secara khusus menjadi target dalam mengembangkan KAHAYAN KUALA strategi pertumbuhan ekonomi hijau dan mengidentifikasi bagaimana PANDIH BATU pertumbuhan ekonomi hijau dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal melalui mata pencaharian yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi. Upaya di atas digunakan untuk mengembangkan rencana pengembangan strategis untuk masing-masing sektor sebagai jalur menuju pertumbuhan ekonomi hijau serta rencana tata ruang kabupaten secara umum. Rekomendasi akan dicantumkan dalam revisi rencana tata ruang berikutnya. PULANG PISAU Indikator Risiko HCV (High Conservation Value) dan Konsesi Kelapa Sawit PENGARUSUTAMAAN Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke Kebijakan Fiskal S ejumlah intervensi kebijakan fiskal akan mendukung terwujudnya strategi pertumbuhan ekonomi hijau nasional Indonesia. Kebijakan fiskal ini disusun berdasarkan strategi GPB Kementerian Keuangan yang baru diterbitkan. Bagian ini menguraikan empat kebijakan tersebut dan potensinya untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi hijau. MEMBERIKAN SINYAL HARGA YANG TEPAT UNTUK INVESTASI SEKTOR SWASTA Pertumbuhan ekonomi hijau bergantung pada pertimbangan pertumbuhan ekonomi hijau dapat penyediaan sinyal harga yang tepat kepada sektor menguatkan kebijakan yang ada. Ke depan, kebijakan swasta untuk mempertimbangkan nilai ekonomi, reformasi subsidi, rezim insentif untuk energi manusia dan lingkungan. Perubahan terbaru dalam terbarukan, skema pembayaran jasa lingkungan dan subsidi energi yang – membebaskan sumberdaya harga karbon, dapat memperkuat insentif untuk untuk inisiatif pemerintah lainnya sambil memberikan investasi yang akan menghasilkan pertumbuhan insentif untuk efisiensi – memberi contoh bagaimana ekonomi hijau. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi ke Kebijakan Fiskal 52 MEMBERIKAN INSENTIF YANG TEPAT UNTUK INVESTASI SEKTOR PUBLIK Sektor publik juga harus mendapatkan insentif yang tepat untuk mendorong pembelanjaan anggaran yang “hijau”. Sistem transfer fiskal antar pemerintah dapat digunakan untuk memberi insentif kepada pemerintah kabupaten dan provinsi yang mendukung pertumbuhan hijau. Hal ini dilakukan melalui penyediaan tambahan insentif kepada pemerintah daerah untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi hijau, termasuk penerapan instrumen pajak seperti mekanisme pengambilan nilai tanah. MEMBUAT BELANJA PUBLIK LEBIH EFEKTIF Belanja publik dapat digunakan untuk meningkatkan modal swasta dan dengan demikian meningkatkan arus investasi hijau. Hal ini memungkinkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau tanpa peningkatan pengeluaran publik, melainkan dengan mengarahkan tingkat pengeluaran publik yang ada dengan cara yang lebih strategis. Dana bergulir, jaminan pinjaman energi terbarukan dan efisiensi energi akan membantu sektor swasta berinvestasi melalui pengurangan risiko dan meningkatkan ketersediaan pembiayaan. Akan tetapi, akan ada anggaran untuk pinjaman yang tidak menghasilkan tujuan yang dimaksudkan dan "gagal." MENGATASI KEGAGALAN PASAR LAINNYA Pemerintah juga perlu campur tangan di mana kegagalan pasar mencegah swasta dari menghitung penuh dampak sosial dan lingkungan. Seperti yang tercantum dalam Strategi GPB, ini dapat mencakup investasi dalam penelitian pertanian terapan atau mendukung penelitian dan pengembangan dalam teknologi terbarukan yang berpotensi untuk meningkatkan kinerja ekonomi sekaligus mengurangi intensitas kerusakan lingkungan. Peraturan yang terkendali dan terkontrol juga diperlukan untuk membatasi kerusakan ekonomi dan lingkungan dari praktik-praktik yang tidak berkelanjutan. Contoh dari Strategi GPB termasuk perizinan di bidang kehutanan, sertifikasi di bidang pertanian dan regulasi dalam efisiensi energi. PENGARUSUTAMAAN Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Perencanaan Pembangunan Ekonomi B agian ini menjelaskan siklus perencanaan dan lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengembangan dan perencanaan ekonomi di Indonesia. Bagian ini juga mengidentifikasi titik masuk penting untuk pertumbuhan ekonomi hijau untuk dimasukkan ke dalam rencana, perencanaan tata ruang, penganggaran dan pengambilan keputusan investasi. Titik masuk ini mempertimbangkan kedua tantangan untuk mengarusutamakan pertumbuhan ekonomi hijau dan solusi untuk mengatasi tantangan. Kotak 3.3 PROSES PERENCANAAN NASIONAL SEKARANG Sistem perencanaan saat ini dapat digambarkan sebagai berikut. Rencana energi, mengamankan sumberdaya maritim, berinvestasi dalam konektivitas Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), yang mencakup rentang maritim dan infrastruktur lainnya, perluasan pariwisata, dan investasi pada 25 tahun (saat ini 2005-2025), mencerminkan beragam prioritas strategis, pengembangan sumberdaya manusia dan birokrasi yang berorientasi layanan 111 termasuk mempercepat pengentasan kemiskinan, mengubah struktur industri, . Provinsi, kabupaten (termasuk daerah metropolitan), dan bahkan desa meningkatkan akses air minum, konsolidasi demokrasi, dan meningkatkan dan kelurahan masing-masing menyiapkan rencana pembangunan jangka ketahanan energi. Rencana pembangunan jangka panjang menetapkan target menengah mereka sendiri sesuai dengan siklus lima tahun yang berbeda untuk setiap provinsi, tapi tidak eksplisit secara spasial. Sebaliknya, masalah untuk diselaraskan dengan rencana dari yurisdiksi yang lebih besar di mana tata ruang dibahas dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). mereka berinduk. Kedua dokumen diatas menyediakan kerangka kerja bagi Rencana Pembangunan Rencana pembangunan nasional jangka panjang dijabarkan ke dalam Rencana Jangka Menengah (RPJMN), yang meliputi setiap periode lima tahun dalam Kerja Pemerintah (RKP) dan memandu perumusan Rencana APBN (RAPBN), RPJPN tersebut. Rencana jangka menengah mencakup strategi pembangunan, yang harus mendapatkan persetujuan legislatif. Rencana jangka panjang juga kebijakan umum, program kementerian/lembaga, antar-kementerian/lembaga, memandu masing-masing kementerian dan lembaga lainnya dalam membentuk wilayah dan program antar daerah, dan termasuk kerangka makro-ekonomi yang rencana lima tahun strategis (RENSTRA) dan rencana kerja tahunan. Rencana menyoroti kondisi ekonomi dan kebijakan fiskal. Di antara prioritas strategis yang tematik lainnya seperti Rencana Aksi Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi hijau dalam rencana jangka menengah Kaca (RAN-GRK) adalah lintas sektor dan antar lembaga. Proses perencanaan Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: saatdalam ini, yang mencakup periode 2015-2019, mencapai ketahanan pangan dan Kebijakan, Perencanaan dan Investasi nasional diilustrasikanPeta pada Gambar 3.1. jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 53 Kotak 3.2 MEMANFAATKAN INVESTASI HIJAU SEKTOR SWASTA Beberapa laporan internasional meninjau sejauh mana pengeluaran publik untuk pertumbuhan hijau dapat meningkatkan investasi sektor swasta. Kajian ini dilakukan oleh UN High Level Advisory Group, Green Investment Report, kajian portofolio iklim IFC dan World Resources Institute. Untuk pembelanjaan langsung pada layanan dan infrastruktur publik, rasio leverage umumnya diperkirakan kurang dari 1: 1. Untuk modalitas yang secara eksplisit bertujuan untuk mempromosikan investasi swasta, bukti internasional menunjukkan bahwa rasio leverage dapat bervariasi dari 2: 1 sampai lebih dari 10: 1. Dukungan langsung untuk bisnis, seperti melalui hibah, cenderung menghasilkan rasio leverage rendah. Rasio leverage tertinggi adalah kebijakan terutama peraturan. Bukti langsung rasio leverage yang dicapai masih sedikit di Indonesia. Namun, Strategi GPB menunjukkan bahwa, jika norma-norma internasional dicapai, rasio leverage rata-rata sekitar 1,9 mungkin dapat tercapai dalam jangka pendek. Dalam jangka menengah dengan fokus lebih besar pada kebijakan yang mengandalkan pasar, sektor keuangan dan peraturan, rasio leverage dapat meningkat menjadi 3,4, atau sekitar sepertiga dari tingkat biasanya dicapai oleh negara Investasi bidang transportasi umum seperti MRT yang sedang maju. Peningkatan ini berimplikasi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi hijau dan dapat dibangun di Jakarta membantu menghasilkan sebanyak 5 persen dari semua investasi, baik publik maupun swasta, yang ditujukan mengatasi kemacetan dan mengurangi polusi di kota-kota untuk pertumbuhan ekonomi hijau. padat Indonesia © Dhoni Setiawan / The Jakarta Post MEMASUKKAN PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU KE DALAM PERENCANAAN Tujuan dari pengarusutamaan pertumbuhan ekonomi hijau dalam proses perencanaan adalah untuk memastikan bahwa isu-isu pertumbuhan hijau tidak menjadi isu sampingan, melainkan tertanam dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah dan instansi lainnya. Pengarusutamaan juga bertujuan untuk memastikan bahwa aksi pertumbuhan ekonomi hijau dikoordinasikan dan diintegrasikan lintas sektor dan kementerian, dan sinergi sektoral direalisasikan. Selama proses perencanaan, kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau dapat diselaraskan dengan tujuan dan kebijakan lain untuk memastikan saling mendukung dan tidak berlawanan dengan tujuan strategis nasional dan regional Indonesia. Pengarusutamaan secara sistematis akan membantu memastikan bahwa kebijakan dan rencana untuk pertumbuhan ekonomi hijau dilaksanakan dengan cara hemat biaya dan tanpa menciptakan perlawanan kelembagaan yang tidak perlu, dengan memodifikasi atau meningkatkan proses yang ada daripada merancang yang baru dari awal. Gambar 3.1 Gambaran dari proses perencanaan pembangunan nasional 112 Rencana Rencana Rencana 20th 5th 1th Anggaran RPJPN RPJMN RKP RAPBN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) (Rencana (Rencana Kerja Pembangunan Jangka Pemerintah) Menengah Nasional) MP3EI Renstra KL Renja KL RKA KL RTRWN (Ministry / Institution (Ministry / Institution (Ministry / Institution Work (Economic National Strategic Plan) Work Plan ) Plan and Budget) Spatial Plan) Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi ke dalam Pembangunan Ekonomi 54 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan tata ruang © Moses Ceaser / CIFOR / CC BY-NC-ND 2.0 TANTANGAN UNTUK MENGARUSUTAMAKAN PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU KE DALAM PERENCANAAN Ada empat tantangan utama untuk proses pengarusutamaan: Kebingungan yang disebabkan oleh rencana yang tumpang tindih Ada beberapa rencana yang bertujuan untuk memandu dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan ekonomi hijau. Ini termasuk RPJM/P dan RTRW, rencana ad hoc yang timbul dari negosiasi perubahan iklim internasional, seperti rencana aksi nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (RAN-GRK) dan untuk daerah (RAD-GRK), rencana aksi nasional untuk adaptasi perubahan iklim (RAN-API), dan rencana MP3EI untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Rencana-rencana ini harus konsisten dan terkoordinasi dengan baik untuk menghindari kebingungan calon investor terhadap pertumbuhan ekonomi hijau. Pemerintah saat ini sedang berusaha mengatasi masalah ini. Terbatasnya kapasitas di tingkat pemerintah daerah Pemerintah daerah sering kesulitan untuk memenuhi tuntutan tambahan yang dikenakan oleh rencana baru aksi perubahan iklim, juga persyaratan yang relatif baru untuk penilaian lingkungan strategis untuk semua kebijakan, rencana dan program utama yang baru. Kantor-kantor di daerah melihat persyaratan baru sebagai beban administrasi tambahan dengan anggaran dan kapasitas terbatas, meskipun ada juga risiko bahwa mereka melihatnya sebagai peluang sogokan baru. Kesulitan dalam integrasi vertikal dan horisontal Ada sejumlah tantangan yang terlibat dalam mencapai koordinasi yang sistematis (konkurensi) antar instansi pemerintah terkait dengan penyusunan perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya-baik di tingkat yurisdiksi yang sama dan antara yurisdiksi nasional dan daerah. Yurisdiksi desa biasanya ditinggalkan dalam koordinasi perencanaan kecuali sebagai obyek. Hal ini benar meskipun faktanya ada 80.000 desa di seluruh wilayah nusantara dan dapat menjadi pemain kunci dalam pertumbuhan ekonomi hijau nasional. UU nomor 6 tahun 2014 tentang Pemerintahan Desa mulai mengatasi tantangan ini dengan mengalokasikan dana pembangunan yang lebih langsung ke desa-desa, memperkuat status hukum mereka sebagai pemerintahan sendiri, dan investasi dalam kapasitas dan transparansi lembaga lokal. Proses perizinan yang tidak memadai Rencana tata ruang dapat dielakkan melalui manipulasi proses perizinan sumberdaya alam yang sering tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan pembangunan. Meskipun rencana tata ruang (RTRW) dan penilaian lingkungan strategis (KLHS) menunjukkan ruang untuk pertumbuhan ekonomi hijau, keduanya tidak dapat mendorong investasi pertumbuhan hijau yang layak kecuali ada penegakan hukum lingkungan yang proaktif. Ini termasuk, khususnya, upaya untuk mengurangi praktik-praktik yang merusak melalui proses perizinan sumberdaya alam yang diatur dengan baik untuk infrastruktur, pertambangan, kehutanan, perkebunan dan perikanan. Tata kelola yang baik dan peningkatan transparansi akan meningkatkan pengawasan publik dan akuntabilitas pemegang lisensi dan pemberi lisensi, mengaktifkan peran yang lebih besar bagi masyarakat sipil dan masyarakat lokal, dan menarik investor yang lebih bertanggung jawab. Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: ke dalam Pembangunan Ekonomi Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 55 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi MENGATASI TANTANGAN Menanggapi tantangan yang diidentifikasi di atas, dua solusi utama dapat membantu mengintegrasikan pertumbuhan hijau ke dalam proses perencanaan. Pertama, sangat penting untuk menyepakati kerangka spasial umum, termasuk kebijakan satu peta, yang meliputi pemukiman desa dan mengadopsi pendekatan lanskap untuk perencanaan tata ruang. Kedua, aplikasi yang lebih luas dari Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk mengevaluasi potensi dampak lingkungan dari kebijakan secara signifikan yang dapat memperkuat hasil pertumbuhan ekonomi hijau. Setiap solusi dibahas di bawah ini. Meningkatkan keadilan dan transparansi dalam perencanaan tata ruang Tanggung jawab untuk memimpin dan "Menempatkan Rakyat Papua dalam Rencana" dengan mengkoordinasikan perencanaan tata ruang, overlay lokasi pemukiman desa ke peta perencanaan sebelumnya terletak di Kementerian Pekerjaan Umum, tata ruang utama 114. Organisasi masyarakat sipil dapat tahun 2015 dipindahkan ke Kementerian Agraria dan memainkan peran penting untuk mencapai masyarakat Tata Ruang. Sebelum itu, Direktorat Jenderal Penataan lokal dan memfasilitasi partisipasi mereka dalam Ruang di Kementerian Pekerjaan Umum telah mulai perencanaan. memperkuat tata ruang tingkat desa sebagaimana disebutkan dalam Hukum Perencanaan Tata Ruang Bergerak menuju transparansi dan konsistensi yang No.26 tahun 2007 113. lebih besar, pemerintah Indonesia menyadari kebutuhan untuk mengembangkan satu peta dasar umum nasional Mengingat upaya untuk pertumbuhan ekonomi hijau sebagai referensi untuk semua sektor dan tingkat melibatkan keadilan dan pengamanan terhadap efek pemerintahan dalam perencanaan kegiatan dan alokasi yang tidak diinginkan, langkah utama yang diperlukan izin untuk perkebunan, penebangan dan konsesi adalah mengidentifikasi terutama dalam rencana tata pertambangan, dan proyek restorasi ekosistem konsesi. ruang di mana masyarakat tinggal dan mata pencaharian Kebijakan "Satu Peta" diharapkan dapat membantu mereka. Misalnya, pemerintah provinsi Papua menyelesaikan klaim tumpang tindih lahan lama antara memelopori langkah pertama menuju berbagai sektor dan wilayah hukum. Kotak 3.4 PERENCANAAN TINGKAT DESA DI KALIMANTAN TENGAH 115 Daerah Kemitraan Hutan dan Iklim Kalimantan (Kalimantan Forests and Climate Partnership KFCP) terletak di kubah gambut di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terdiri atas dua lanskap yang berbeda: (a) hutan rawa gambut utuh yang menyediakan jasa lingkungan yang penting, termasuk menjaga dan menyimpan karbon di hutan dan di tanah gambut bawah di bagian utara lokasi, dan (b) hutan gambut yang sebagian besar rusak, setelah hutan ditebang secara besar besaran dan lahan gambut dikeringkan melalui pembangunan jaringan kanal di tahun 1990-an untuk mendukung proyek penanaman padi di bagian selatan lokasi. Sekitar 10.000 orang tinggal di daerah proyek, di sembilan desa di sepanjang Sungai Kapuas. Mayoritas penduduk mencari nafkah dari karet, perikanan dan hutan tanaman, yang secara langsung tergantung pada lingkungan. Proses deforestasi dan degradasi memiliki konsekuensi berat bagi perekonomian lokal. Dengan terpengaruhinya masyarakat lokal secara langsung oleh degradasi lingkungan, secara signifikan akan meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses perencanaan legendA: tingkat desa. Desa Sungai Draft Batas Desa Dusun Jalan Lokal Pada tahun 2013-14, pendekatan perencanaan partisipatif penggunaan lahan Rencana Pola Ruang Kawasan Desa Katimpun dilakukan di desa-desa yang berpartisipasi untuk memetakan dan menentukan Area Konsesi Kelapa Sawit PT. RASR (Rezeki Alam Semesta Raya) rencana aksi untuk daerah pengembangan (Kawasan Budidaya/Non-Hutan) Area untuk Penghijauan dan kawasan hutan (Kawasan Hutan). Pendekatan perencanaan ini langsung Badan Air Hutan yg Dilindungi 5-20 tahun berhubungan dengan perlindungan masyarakat untuk menggunakan tanah Area Karet mereka, mengidentifikasi potensi konflik berbasis lahan antara masyarakat dan unit Area Perluasan ladang pengelolaan hutan (KPH), dan menjajaki potensi praktik pengelolaan kolaboratif Area Permukiman antara desa dan KPH. Temuan lapangan dan rencana kemudian dinegosiasikan Area RC. Karet, Garu, Gemor, Rotan Area Rencana Karet antara masyarakat setempat, pemerintah kabupaten, dan KPH. Rencana penggunaan Area Rencana Karet 520 Ha lahan partisipatif kemudian dimasukkan dalam rencana pengelolaan KPH. Selain Area Rencana Kop. Kebun Sawit itu, pemerintah Kabupaten Kapuas mengunakan rencana untuk memperbaharui Area Rencana Ladang batas antara daerah pembangunan dan kawasan lindung, untuk memastikan Mewujudkan masyarakat Pertumbuhan setempat Ekonomi memiliki ruangHijau yangdicukup Indonesia: untuk mata pencaharian mereka. Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi ke dalam Pembangunan Ekonomi 56 Pelbagai pemanfaatan sumberdaya alam di bentang alam karst di Berau, Kalimantan Timur © InnervisionArt / Shutterstock Kotak 3.5 PERENCANAAN LANSKAP DI KALIMANTAN TIMUR Program Karbon Hutan Berau (PKHB) yang dilaksanakan ditingkat kabupaten adalah mekanisme pendanaan karbon dalam pembangunan yang akan menjembatani kesenjangan antara proyek pengurangan emisi kecil dan terisolasi dan potensi program REDD+ nasional. PKHB memiliki potensi untuk memberikan pelajaran penting untuk mengatasi tantangan peningkatan proyek terisolasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau berskala besar. Hutan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur terancam oleh ekspansi kelapa sawit dan pertambangan batubara. PKHB berupaya membuat program REDD + yang memberikan insentif yang efektif untuk mengurangi emisi dari hilangnya hutan di kabupaten. Proyek ini dilaksanakan melalui empat tahap: tahap penjajakan, tahap pengembangan, tahap proyek percontohan dan tahap implementasi penuh. Proyek ini memiliki tujuan lingkungan, sosial dan tata kelola yang dicapai melalui perencanaan tata ruang yang lebih efektif dan keterlibatan masyarakat. Tujuan lingkungan termasuk pengurangan emisi karbon sekitar sepuluh juta ton CO2 selama lima tahun, perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Tujuan sosial meliputi perbaikan kesejahteraan masyarakat untuk 5.000 orang yang tinggal di dalam atau di sekitar kawasan hutan. Tujuan tata kelola meliputi peningkatan perencanaan tata ruang dan proses perijinan, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pembelajaran dan replikasi di tingkat kabupaten, nasional dan mungkin internasional. Pelajaran utama yang didapat selama proyek ini adalah pentingnya menggabungkan perencanaan tata ruang dengan keterlibatan masyarakat dengan menyesuaikan perencanaan dengan pengetahuan dan prioritas lokal dan dengan mendasarkan tindakan dalam praktik pengelolaan hutan lokal. Hal ini dapat dicapai melalui pendekatan kemitraan inklusif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Konsolidasi data didukung oleh konsolidasi kelembagaan. Sentralisasi manajemen data tanah di Badan Informasi Geospasial (BIG) dan perencanaan tata ruang di Badan Pertanahan Nasional BERAU KPHP Unit / KPHP Model (BPN) diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk konsolidasi dan efisiensi koordinasi perencanaan tata ruang. LEGENDA: Konsesi Kerangka umum tata ruang, bersama dengan data yang akurat dan lengkap, memungkinkan penggunaan pendekatan Desa Konsesi Kayu lanskap atau ‘bentang alam’ untuk perencanaan tata ruang. Badan Air Konsesi Pertambangan Pendekatan ini terutama didasarkan pada fitur alami dari lanskap, Batas Kabupaten Konsesi Pertanian Batas Kecamatan fungsi ekologis, distribusi dan kelimpahan sumberdaya alam, Batas Desa termasuk keanekaragaman hayati. Hal ini sangat berguna untuk Jalan PENUTUPAN LAHAN 2007 mengintegrasikan perencanaan dan pengambilan keputusan yang Areal Lindung Hutan berkaitan dengan modal dan jasa lingkungan dalam kerangka yang STREK Non Hutan sama dengan pembangunan sosial dan ekonomi. Pendekatan KPH Unit I / KPH Model lanskap untuk perencanaan telah digunakan di banyak daerah di KPH Unit II Indonesia, seperti yang digambarkan dalam studi kasus di bawah ini. * Teknik Silvikultur untuk Regenerasi Hutan Hujan yang sudah ditebang di Kalimantan Timur (1996-2003) Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: dalam Pembangunan Ekonomi Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 57 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Perluasan Penggunaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pintu masuk utama atau mekanisme untuk keanekaragaman hayati, pengelolaan daerah aliran mengarusutamakan pertumbuhan hijau dalam sungai, dan pembangunan infrastruktur 119. KLHS yang perencanaan pembangunan adalah pengkajian terbesar dan paling komprehensif yang pernah dilakukan lingkungan hidup strategis (KLHS). KLHS, meskipun masih sedunia adalah yang dilakukan oleh Environmental baru, diperlukan oleh hukum di Indonesia untuk semua Support Programe 3 (ESP3), di bawah koordinasi perencanaan strategis di tingkat nasional dan daerah, Bappenas, untuk Masterplan Percepatan dan Perluasan termasuk rencana pembangunan sektoral (RENSTRA) o. Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). KLHS Tujuan KLHS mirip dengan penilaian dampak lingkungan meliputi kebijakan nasional MP3EI dan enam koridor (Amdal) tetapi diterapkan pada rencana atau kebijakan ekonomi yang menghubungkan proyek pembangunan skala yang lebih besar, bukan skala proyek. Meluasnya infrastruktur di masing-masing pulau terbesar di penggunaan KLHS akan memberikan kontribusi Indonesia 120. untuk mengarusutamakan kelestarian lingkungan dalam perencanaan tata ruang dan ekonomi, karena KLHS adalah prosedur baru di Indonesia yang memiliki memerlukan pemetaan komprehensif lokasi ekologi dan potensi signifikan untuk diperluas untuk mengevaluasi penilaian pilihan penggunaan lahan dalam hal modal potensi dampak lingkungan dari kebijakan yang dan layanan ekosistem alami 116. diusulkan, atau efektivitas perencanaan dan kebijakan pertumbuhan hijau. Secara khusus, KLHS dapat KLHS menawarkan cara tepat dan pragmatis untuk menimbulkan rasa kepemilikan yang lebih besar memandu perumusan perencanaan tata ruang, dari pemangku kepentingan dalam perencanaan pengembangan dan implementasi. KLHS memberi pembangunan di awal, fase penjajakan, yang secara informasi pada pembuat kebijakan, pengambil tidak terlalu teknis, cenderung lebih fokus pada isu-isu keputusan dan perencana, serta calon investor, tentang lingkungan utama, dan lebih mudah dipahami oleh nilai dan risiko untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pemangku kepentingan pemerintah dan non-pemerintah p yang bergantung pada pengelolaan lingkungan, . Tahap penjajakan KLHS juga dapat dianggap lebih memastikan keberlanjutan modal alam, pengamanan generik dalam penerapannya, karena memiliki untuk dampak investasi, dan inklusivitas sosial. relevansi luas untuk instrumen perencanaan lainnya, Misalnya, KLHS adalah dasar untuk pendekatan lanskap serta pembuatan kebijakan daerah. Penjajakan juga investasi hijau US $ 250 juta yang sedang dikembangkan dapat membantu untuk mengingatkan calon investor oleh Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I) hijau untuk peluang investasi. Legitimasi sosial dari 117 Program Green Prosperity di Indonesia adalah perencanaan pembangunan dapat sangat ditingkatkan perpanjangan dari Perencanaan Partisipatif Pengunaan melalui KLHS, khususnya di Indonesia saat ini, di Lahan (Participatory Land Use Planning - PLUP) yang mana ada pertumbuhan dan perkembangan harapan memungkinkan investasi dalam energi terbarukan masyarakat untuk semakin adil dan berwawasan dan pengelolaan sumberdaya alam yang lebih baik lingkungan. 118 .PProyek Indonesian Forest and Climate Support (IFACS) membantu 13 kabupaten dengan lanskap Sebagai ilustrasi, bagian dari fase penjajakan KLHS yang hutan di Indonesia menggunakan KLHS untuk menilai menunjukkan berbagai kesempatan untuk membantu prioritas pembangunan dari berbagai perspektif, perkembangan pertumbuhan ekonomi hijau adalah: termasuk pertumbuhan ekonomi, kesehatan, konservasi .Menyertakan hal-hal yang tidak dapat dimasukkan dalam instrumen perencanaan, seperti rincian aspirasi dan kekhawatiran masyarakat yang relevan. Memberikan ide untuk calon investor hijau, serta iklim investasi secara keseluruhan. .Menjangkau lingkup yang lebih luas daripada penilaian dampak lingkungan, menangkap dampak lingkungan penting yang bersifat strategis, lintas daerah, lintas sektoral, kumulatif dan terpencil. .Meninggalkan pertanyaan teknis yang canggih untuk tahap berikutnya di bawah manajemen entitas khusus, termasuk analisis: (i) perkiraan daya dukung dan kesesuaian lahan, (ii) valuasi ekonomi sumberdaya alam, (iii) probabilitas dan dampak perubahan iklim, (iv ) risiko lingkungan, dan (v) efisiensi pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. .Menyelenggarakan debat publik yang dapat dikelola oleh pemerintah daerah tentang prinsip-prinsip inti KLHS yang mendukung praktik terbaik internasional. Fase penjajakan KLHS menawarkan kesempatan untuk meningkatkan partisipasi pemangku kepentingan dalam perencanaan pembangunan untuk menyeimbangkan prioritas ekonomi dan lingkungan. Mekanisme untuk memastikan partisipasi dalam KLHS adalah mempresentasikan rencana kepada pemangku kepentingan untuk umpan balik pada forum pemangku kepentingan. Forum pemangku kepentingan mungkin telah dilembagakan untuk keperluan lain di kabupaten atau provinsi, dan pengalaman itu dapat ditambahkan. Mewujudkan o. KLHS Pertumbuhan wajib di bawah Ekonomi Hijau Undang-Undang di Indonesia: Pengelolaan Lingkungan tahun 2009. Namun, peraturan pelaksanaan yang mengatur metode dan aplikasi belum Pengarusutamaan dikeluarkan. Pertumbuhan Ekonomi Hijau p. PetaTahap jalanpenjajakan merupakanPerencanaan, untuk Kebijakan, tahap awal KLHSdan yangInvestasi penting dimana fitur sosial, ekonomi, dan lingkungan diidentifikasi bersama dengan isu-isu strategis, ada rencanadalam dan sasaran pembangunan. Pembangunan Ekonomi Lihat, sebagai contoh,http://www.ifacs.or.id/who-we-work-with/urs/ and http://www.urdi.org/research-project/mcc-indonesia-support-services-for-gp-project-implementation.

  8. 58 Kotak 3.6 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Kajian Lingkungan Hidup Strategi : tiga studi kasus Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sangat KLHS tingkat nasional yang digunakan untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati yang rentan penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau memperkirakan nilai moneter modal alam yang dan habitat alami dalam rencana pembangunan dalam perencanaan tata ruang. KLHS memungkinkan terancam oleh M3PEI jika mitigasi tambahan tidak ini. Ke depan, hasil KLHS perlu diteliti oleh publik untuk mengartikulasikan, dengan jelas, di awal dilakukan, menggunakan metrik yang berbeda, di dan sepenuhnya terintegrasi ke dalam proses proses perencanaan, dampak sosial dan lingkungan enam koridor ekonomi dalam MP3EI 121. Dampak perencanaan 122. yang potensial dari kebijakan dan praktik yang dianggap kumulatif, dengan tujuan memprioritaskan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dan daerah yang harus ditangani. Kalimantan terbukti Penyusunan KLHS untuk perencanaan memberikan informasi lebih baik untuk pengambilan menjadi wilayah ekonomi yang paling berisiko, tata ruang Provinsi Papua keputusan di dalam dan lintas sektor dan wilayah. dan lahan basah pesisir habitat paling berisiko dari KLHS Papua untuk rencana tata ruang draft pertama intervensi MP3EI yang tidak termitigasi. pada tahap awal akan mendapat manfaat dari KLHS MP3EI konsultasi publik yang kuat, paralel dengan tahapan Environmental Support Program di Indonesia (ESP3) Pada tingkat yang lebih lokal, KLHS digunakan yang diperlukan dalam perencanaan tata ruang dan melakukan KLHS untuk Masterplan Percepatan untuk memperkirakan dampak lingkungan tertentu umpan balik dari pemangku kepentingan pemerintah dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia dalam koridor MP3EI. Misalnya, peta menunjukkan dan non-pemerintah. (MP3EI). KLHS digunakan sebagai salah satu dari besarnya estimasi dampak dari proyek-proyek beberapa metode untuk MP3EI pesisir di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Secara signifikan, bagian teknis dari fase penjajakan penilaian kebijakan dan Selatan. Data geografis pemukiman, industri, KLHS didukung oleh laporan Rencana Tata Ruang perencanaan terpadu. dan sumberdaya alam dipetakan untuk dan Analisis (Facts and Analysis - F&A). Fitur kunci Dampak di wilayah pesisir dari projek MP3EI di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan © ESP3 / Danida KUNCI DASAR DAMPAK RENCANA MP3EI Hutan KUMULATIF Pelabuhan Area Konservasi Terbatas Pembangkit listrik Hutan Bakau Sedang Infrastruktur lain Pemukiman Parah Pertambangan batubara Konsesi Pertambangan Sangat Parah Kelapa Sawit Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: ke dalam Pembangunan Ekonomi Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 59 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi lain dari proses ini adalah untuk menyesuaikan rencana ini diperbaharui pada interval 20-tahun Menerapkan KLHS ke Program Green Prosperity KLHS secara iteratif selama proses perencanaan tata -atau lebih cepat, jika reformasi kebijakan menuntut Program Green Prosperity Millennium Challenge ruang jangka panjang 123. Ternyata, meskipun KLHS hal itu. KLHS dan F & A dari rencana tata ruang Account di Indonesia (MCA-I) memberikan beberapa dan F & A mengikuti panduan yang berbeda akan yang berlaku serta rencana pembangunan jangka indikasi yang menjanjikan dari fase penjajakan KLHS. tetapi mencakup banyak hal yang sama sehingga menengah (RPJM) adalah titik referensi yang berguna KLHS dilakukan pada forum pemangku kepentingan membuktikan bahwa diperlukan pengintegrasi yang memasukkan rencana aksi perubahan iklim (RAD- di Kabupaten Merangin dan Muaro Jambi di Provinsi lebih baik selama periode lima tahun pelaksanaan RGK, RAN-API, dan di masa depan, RAD-API). Jambi dan Mamasa dan Mamuju di Provnisi Sulawesi kajian rencana tata ruang (RTRW), serta ketika Barat. KLHS dilakukan bersama-sama perwakilan LSM, sektor swasta dan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi tantangan lingkungan, social, dan ekonomi terkait yang dihadapi masyarakat dan kabupaten mereka. Sebuah fitur menarik adalah sesi diskusi terpisah. Temuan di Kabupaten Merangin diantaranya adalah pentingnya menyelesaikan masalah perizinan sumberdaya alam, kebutuhan pengaturan batas desa dan kurangnya koordinasi yang cukup baik secara horizontal maupun vertikal. Masyarakat ikut serta dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis untuk perencanaan tata ruang Papua © Michael Padmanaba / CIFOR Kotak 3.7 MEMACU INOVASI HIJAU DI TIGA KEBIJAKAN UTAMA UNTUK MERANCANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS ZONA EKONOMI HIJAU KHUSUS (KEK) Kawasan ekonomi khusus (KEK) adalah daerah yang secara geografis Kebijakan untuk membangun KEK hijau dapat berkontribusi dan hukum dibatasi, dikelola oleh satu lembaga, yang menawarkan insentif tertentu untuk bisnis yang terletak di dalam zonanya. KEK secara untuk hasil pertumbuhan ekonomi hijau yang luas dengan tiga tradisional telah menawarkan insentif seperti bebas bea impor dan cara utama. prosedur kepabeanan yang efisien. Namun, KEK juga dapat berfungsi sebagai zona inovasi untuk (antara lain) pertumbuhan ekonomi hijau, di • Pemberian insentif kepada produk hijau untuk masuk mana pemerintah, sektor swasta, dan lain-lain dapat membuat "percobaan KEK: Hal ini akan membantu mengatur dan memberi untuk menemukan kombinasi optimal instrumen kebijakan dan mekanisme insentif praktik yang baik di luar zona, termasuk produk- pengaturan yang memaksimalkan manfaat ekonomi dari biaya internalisasi produk manufaktur impor dan ekspor. dan pemanfaatan modal alam dan jasa lingkungan secara berkelanjutan’. KEK hijau dapat berfungsi sebagai dasar untuk pengujian teknologi hijau dan insentif yang inovatif, yang jika terbukti berhasil maka dapat diterapkan • Desain kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau untuk dan ditingkatkan melalui reformasi yang lebih luas di seluruh aspek seluruh KEK dalam tahap perencanaan awal: Satu perekonomian. Kotak 3.6 menyajikan tiga kebijakan utama yang diperlukan set kebijakan bertujuan untuk merencanakan dan untuk merancang KEK hijau 124. membangun KEK untuk meningkatkan kinerja lingkungan secara keseluruhan seluruh zona dengan memastikan Contoh dari bentuk yang lebih konvensional zona ekonomi khusus di Kalimantan Timur, KIPI Maloy, disajikan dalam Kotak 3.7 bersama dengan semua investasi harus mempertimbangkan 5 hasil yang sebuah ilustrasi tentang bagaimana desain dapat ditingkatkan, dari diinginkan dari pertumbuhan hijau. perspektif pertumbuhan ekonomi hijau, dengan menggunakan analisis biaya-manfaat sosial dan lingkungan yang sensitif. • Memberikan insentif dan mengatur kegiatan ekonomi untuk menarik teknologi dan inovasi hijau dalam KEK. Tujuan ini akan menghasilkan kebijakan KEK yang bertujuan untuk mengurangi risiko investasi hijau dengan mengurangi biaya operasi bagi investor. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi ke dalam Pembangunan Ekonomi 60 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Tahap Tahap Tahap 00 01 02 Studi Kebijakan Kelayakan Analisa pra proyek dan opsi- Keuangan opsinya • RPJMN/D • Penilaian pasar • Penilaian biaya dan • Rencana Tata Ruang • Penilaian teknis manfaat keuangan • Zona konomi (KEK, KSN) • Penyaringan proyek • Daftar investasi mengunakan GGAP • KLHS • KLHS Gambar 3.3 Gambaran untuk ‘menghijaukan’ proses perencanaan dan penilaian proyek saat ini di Indonesia MENILAI DAN MERANCANG Investasi Hijau M encapai pertumbuhan ekonomi hijau tergantung pada pemahaman dampak makro dari investasi mikro dan intervensi lainnya, dan Mengunakan alat dan metodologi yang tepat penting apabila ingin mengubah pertumbuhan ekonomi hijau dari visi menjadi realitas dalam siklus lima tahun implikasinya terhadap kualitas pertumbuhan Indonesia. perencanaan pembangunan. Alat dan metodologi Sebagian besar investasi hijau akan datang dari dapat diterapkan pada titik-titik tertentu dalam siklus sektor swasta. Oleh karena itu, rencana dan kebijakan perencanaan untuk memandu dan melaksanakan pemerintah perlu mempertimbangkan faktor-faktor investasi hijau. Gambar 3.3 menunjukkan titik masuk yang mendorong atau menghambat investasi swasta, di mana alat ini dapat membantu membawa perspektif serta mengharuskan proyek memenuhi standar desain pertumbuhan ekonomi hijau ke dalam perencanaan arus tertentu dan pelaksanaannya. Menilai kinerja proyek utama investasi. dan kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau di lapangan memberikan kesempatan untuk mendesain ulang Gambar 3.3 menyajikan gambaran yang disesuaikan investasi ini dan dengan demikian akan meningkatkan dengan proses perencanaan saat ini dan menunjukkan kualitas dampaknya. Bagian ini menyoroti peran penting bagaimana proses yang baru dan alat-alat dapat alat dan metodologi dalam menilai dan merancang diintegrasikan ke dalam sistem ini. Sebagai contoh, untuk investasi hijau. proses Amdal yang menilai tingkat dampak proyek-dapat berjalan secara paralel dengan persiapan proyek dan Proses Penilaian pertumbuhan ekonomi hijau (Green bersinggungan dengan proses perencanaan di beberapa Growth Assessment Process/GGAP) 125 (Gambar 3.2) titik, dimulai dengan analisis kelayakan dan berakhir adalah proses delapan langkah melalui berbagai alat dengan proses persetujuan proyek. Demikian pula KLHS yang digunakan untuk membantu mengidentifikasi yang dirancang untuk menjadi proses interaktif berulang dan mempromosikan hasil proyek pertumbuhan diseluruh kebijakan atau program pembangunan. ekonomi hijau. GGAP dikembangkan untuk membuat indikator khusus untuk proyek, sektor, kabupaten, Proses eCBA (dijelaskan di halaman selanjutnya) provinsi dan nasional, dan menggunakan alat-alat untuk memberikan kontribusi yang agak berbeda terhadap memprioritaskan dan menilai proyek atau kebijakan proses penghijauan melalui penekanan pada penilaian untuk pertumbuhan ekonomi hijau secara konsisten. yang komprehensif dan terpadu dari dampak dalam Secara khusus, GGAP menekankan penilaian kuat dari istilah moneter di lima hasil yang diinginkan dari kinerja pertumbuhan ekonomi hijau dari proyek dan pertumbuhan ekonomi hijau. Pada akhirnya, integrasi kebijakan di lapangan untuk membantu meningkatkan yang lebih formal dari alat-alat ini akan jauh lebih baik. baik desain proses perencanaan di tingkat makro dan Pelaksanaan Amdal diwajibkan oleh undang-undang, kualitas investasi yang dilaksanakan. Hal ini penting sedangkan eCBA dan penilaian serupa untuk biaya untuk mencapai hasil yang diinginkan pertumbuhan dan manfaat sosial merupakan prosedur yang tidak ekonomi hijau di Indonesia. diwajibkan. Menilai dan Merancang Investasi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 61 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Tahap Tahap Tahap 03 04 05 Analisa Biaya Analisa Penilaian Manfaat yang multi dampak diperluas kriteria • AMDAL Keputusan untuk diteruskan • Penilaian biaya • Integrasi dampak • Penilaian dampak dan manfaat kualitatif yang sosial dan ekonomi sosial lebih luas dan strategis Gambar 3.2 Proses Penilaian Pertumbuhan Ekonomi Hijau GGF GGAP TAHAP 1 TAHAP 2 TAHAP 3 Sektor Business as Kebijakan 1. 2. Perencanaan usual dan faktor pemungkin Energi & ekstraktif Nasional Nasional Industri manufaktur Provinsi Provinsi: Sumberdaya alam Koridor terbarukan • Koridor • Distrik Konektivitas • Sektor Rencana Nasional Pasar yang berkembang untuk dan 5. modal alam Regional 3. Penciptaan Proyek & Identifikasi 4. Menuju visi pertumbuhan 1. Pengurangan emisi gas rumah kaca ekonomi TAHAP 4 2. Pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang hijau 3. Ketahanan sosial, ekonomi dan lingkungan Penilaian Meninjau kelayakan kembali 4. Ekosistem yang sehat dan produktif memberikan layanan lingkungan kebijakan dan faktor- 5. Pertumbuhan inklusif dan adil TAHAP 5 faktor penghambat dan memastikan Penilaian Potensi proyeknya sesuai pertumbuhan hijau dengan pendekatan perencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau e-CBA Target diinformasikan dan diuji visi TAHAP 7 TAHAP 6 e-CBA TAHAP 8 Peta Jalan dan menetapkan target Argumen Bisnis Pemantauan dan Evaluasi peta jalan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Menilai dan Merancang Investasi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 62 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi ALAT PENILAIAN PROYEK DAN KEBIJAKAN Alat-alat yang digunakan untuk menganalisis proyek atau kebijakan tertentu tersebut memungkinkan pengambilan keputusan untuk mengukur kontribusi beberapa pilihan pembangunan terhadap hasil pertumbuhan ekonomi hijau. Pemilihan alat yang tepat tergantung pada pertanyaan kebijakan yang perlu dijawab, seperti: .Apakah intervensi menawarkan manfaat dan haruskah dilanjutkan? .Apakah terdapat peluang untuk mendesain ulang proyek atau kebijakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi hijau? .Apakah terdapat kebijakan yang mungkin mendorong hasil yang lebih baik untuk proyek ini dan proyek lainnya? Analisa Biaya-Manfaat (Cost Benefit Analysis - CBA) dan Analisa Biaya-Manfaat yang diperluas (eCBA) Analisis biaya manfaat dan analisis biaya manfaat yang diinginkan. Dengan demikian, alat-alat ini menyediakan diperluas (eCBA) adalah alat penilaian proyek dan metodologi praktis untuk menilai proyek dan kebijakan kebijakan yang berfokus langsung pada pencapaian di tingkat mikro dan melengkapi alat-alat tingkat makro. hasil pertumbuhan ekonomi hijau. Alat-alat ini menilai kinerja pilihan proyek atau kebijakan khusus dalam Analisis biaya manfaat, yang biasanya digunakan, hal memenuhi hasil pertumbuhan ekonomi hijau yang menilai secara kuantitatif biaya keuangan dan manfaat dari suatu keputusan. CBA adalah alat populer untuk perencanaan investasi dan pengambilan keputusan. Analisis biaya manfaat yang diperluas (eCBA) adalah variasi dari CBA yang meninjau lebih lanjut di luar biaya dan manfaat keuangan dengan menyertakan dampak sosial dan lingkungan. Biaya tersembunyi dan eksternal biasanya tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan investasi. Pendekatan eCBA mirip dengan analisis biaya manfaat sosial yang digunakan oleh Bank Dunia dan beberapa lembaga donor internasional lainnya. Indonesia saat ini tidak memerlukan penggunaan CBA yang diperluas atau CBA sosial, namun menerapkannya pada semua investasi kemitraan publik-swasta akan memastikan adanya perhatian yang lebih besar pada biaya dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Teknik eCBA dapat digunakan untuk proposal investasi tertentu serta untuk analisis yang lebih luas; istilah "eCBA tingkat proyek" digunakan ketika menerapkan eCBA untuk masing-masing proyek dan investasi. eCBA tingkat proyek fleksibel lingkupnya dan dapat mencakup geografi dan jangka waktu yang berbeda tergantung pada ukuran proyek. Hal ini juga dapat diterapkan di berbagai sektor oleh pengguna yang berbeda. Analisis eCBA lengkap bertujuan untuk memberikan perkiraan nilai berdasarkan bukti dari semua biaya dan manfaat, termasuk sosial dan lingkungan. Akibatnya, analisis eCBA lengkap memerlukan data, waktu dan keterampilan yang cukup. Untuk beberapa kegiatan, konsep dasar eCBA juga dapat diterapkan, tetapi tergantung pada perkiraan para ahli. Dalam kasus ini, tujuan dari analisis adalah tidak untuk memberikan bukti kuantitatif yang dapat dipertahankan secara kuat, melainkan untuk mendorong kesepakatan eksplisit tentang biaya dan manfaat dan untuk memfasilitasi diskusi, termasuk di antara para ahli. Pendekatan ini digunakan dalam Strategi GPB. (Searah jarum jam) Gedung - gedung ramah lingkungan di Jakarta, perencanaan pertumbuhan hijau di Kalimantan Timur, siswa belajar tentang energi matahari, © Dhoni Setiawan / The Jakarta Post, © GGGI, © Ricky Yudhisira / The Jakarta Post Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 63 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Sejumlah eCBA yang dilakukan oleh Program masyarakat pedesaan dan mengurangi ketergantungan Pertumbuhan Ekonomi Hijau kerja sama Pemerintah pada diesel solar. Namun, proyek tersebut tidak mungkin Indonesia-GGGI yang meninjau dampak kemungkinan layak secara finansial jika pemerintah tidak menyediakan intervensi pertumbuhan ekonomi hijau telah dana untuk meningkatkan investasi, terutama melalui menunjukkan nilai alat-alat ini dalam perencanaan tarif feed-in, jaminan target, dan skema mitigasi risiko. pertumbuhan ekonomi hijau untuk Indonesia. Sebuah studi kasus eCBA lain, di zona ekonomi khusus di Penerapan eCBA untuk proyek konversi limbah kota Kalimantan Timur, digambarkan dalam fitur di bawah ini untuk energi di zona strategis di Mamminasata di Kotak 3.8. menemukan bahwa penangkapan dan penggunaan metana dapat menghasilkan $ 106 juta dari manfaat Contoh-contoh ini menunjukkan fleksibilitas eCBAs sosial bersih melalui pengurangan kemiskinan dan tingkat proyek dan kekuatannya sebagai alat untuk pengelolaan limbah yang lebih baik serta menghindari menganalisis alternatif ramah lingkungan dibandingkan pelepasan metana hingga 9.000 ton CH4 per tahun. skenario dasar ‘bisnis seperti biasa’ (BAU). Alternatif Penerapan eCBA untuk proyek KSN Mamminasata ini meningkatkan proyek dengan meminimalkan biaya menemukan bahwa konversi limbah ikan bernilai pertumbuhan ekonomi hijau dan memaksimalkan tinggi, saham pakan protein tinggi dapat menghasilkan manfaat. Gambar 3.4 menyajikan contoh bagaimana $ 29 juta dari manfaat pertumbuhan ekonomi serta eCBA tingkat proyek dapat digunakan untuk perlindungan mengamankan sumberdaya alam. memperkirakan perbedaan antara rencana saat ini dan Selanjtnya, eCBA pada solusi teknologi energi terbarukan skenario pertumbuhan ekonomi hijau. Garis horizontal di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa mikro hidro merupakan batas minimum di mana proyek dapat diluar jaringan listrik dapat meningkatkan elektrifikasi dianggap berkontribusi terhadap ekonomi hijau. pedesaan, menciptakan peluang ekonomi baru bagi Gambar 3.4 Mengukur rencana saat ini (data dasar) dan pertumbuhan ekonomi hijau Skenario $ pertumbuhan ekonomi hijau Proyek ramah lingkungan namun ada peluang Manfaat bertahap untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi hijau lebih lanjut Data awal Proyek tidak ramah lingkungan namun jika dirancang ulang sesuai dengan penilaian Manfaat bertahap pertumbuhan ekonomi hijau akan menjadi lebih ramah lingkungan Proyek tidak ramah lingkungan, jika dirancang ulang Manfaat bertahap akan mengurangi dampak negatif proyek, mungkin akan memerlukan pemikiran ulang yang besar untuk memenuhi standar minimum Hasil nyata tingkat proyek eCBA seperti ini dapat memberikan bukti substantif untuk membantu memberikan argumen untuk pertumbuhan ekonomi hijau untuk pengambil keputusan. Hal ini juga dapat digunakan untuk menentukan ukuran investasi yang dibutuhkan untuk mengamankan manfaat dari waktu ke waktu. Kekuatan eCBA terletak pada kemampuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai moneter dari barang publik, eksternalitas lingkungan, dan hasil sosial yang terkait proyek. Keuntungan lain adalah eCBA dapat membantu untuk menghindari kesalahan mahal dalam pengambilan keputusan. Misalnya, proyek mega di Kalimantan Tengah pada 1990-an untuk mengubah lahan gambut menjadi sawah menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup besar dan sangat mahal sebelum proyeknya ditinggalkan. Perencanaan yang buruk telah diidentifikasi sebagai faktor kunci dalam kegagalan ini; eCBA menyediakan sarana penting untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan 126. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Menilai dan Merancang Investasi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 64 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Tujuan utama dari eCBA adalah untuk memungkinkan desain atau desain ulang proyek-proyek individu agar dapat mencapai hasil pertumbuhan ekonomi hijau yang diinginkan, alat ini juga dapat digunakan untuk menarik implikasi kebijakan di lima hasil yang diinginkan dari pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia. Secara khusus, eCBA dapat digunakan dalam empat cara yang luas untuk mendorong kebijakan pertumbuhan hijau dan perencanaan: Sebagai pembenaran untuk perubahan dalam kebijakan publik; Sebagai alat untuk kuantifikasi insentif kebijakan yang ada atau yang diusulkan; Sebagai alat untuk prioritisasi kebijakan pertumbuhan ekonomi hijau; dan Sebagai mekanisme validasi sebelum kebijakan diberlakukan dan dilaksanakan. Secara khusus, dapat digunakan oleh pemerintah dan bisnis: Untuk mengalokasikan sumberdaya untuk proyek atau kebijakan dengan kinerja pertumbuhan ekonomi hijau tertinggi; Untuk mendesain ulang dan mengoptimalkan proyek yang didanai publik; Untuk menginformasikan hambatan kebijakan dan faktor pemungkin pertumbuhan ekonomi hijau; Untuk membangun kasus bisnis untuk proyek-proyek dengan manfaat pertumbuhan ekonomi hijau untuk menarik investasi swasta; Kotak ini menggambarkan Untuk mendesain ulang dan mengoptimalkan investasi dan operasi untuk kegunaan dari eCBA tingkat memaksimalkan nilai kepada masyarakat di mana proyek beroperasi; proyek dan bagaimana hal Untuk mengidentifikasi cara menghemat biaya dalam melakukan bisnis. tersebut dapat memberikan inspirasi bagi kebijakan. Kotak 3.8 Gambar 3.5 MENERAPKAN eCBA DI ZONA EKONOMI Dampak dari Intervensi Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk 5 Hasil Pertumbuhan Ekonomi Hijau (dalam juta US$ (2013)) KHUSUS DI KALIMANTAN TIMUR BATU Analisis biaya manfaat diperluas (eCBA) Zona Ekonomi BARA Khusus KIPI Maloy di Kalimantan Timur mengevaluasi biaya sosial dan manfaat yang mungkin dihasilkan oleh intervensi KERETA Pertumbuhan API Ekonomi pertumbuhan ekonomi hijau yang diusulkan. Zona ini bertujuan Emisi GRK untuk membangun kelompok industri yang kompetitif dengan MINYAK menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi nilai tambah dari KELAPA Ekosistem industri berbasis sumberdaya alam. SAWIT Perkembangan Sosial JALAN Pertama, kinerja dasar dari zona saat ini diidentifikasi dengan Ketahanan bantuan perwakilan proyek dan pemangku kepentingan di Kalimantan Timur. Pilihan kemudian diidentifikasi untuk ENERGI meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi hijau zona dengan bantuan para pemangku kepentingan lokal dan para ahli pertumbuhan ekonomi hijau. Jalur dampak kemudian dipetakan, PERKAPALAN menghubungkan perubahan dalam investasi untuk perkiraan dampak terhadap pemangku kepentingan. Jalur dampak ini -500 500 1,500 2,500 kemudian dihidupkan dengan mengumpulkan data primer, Sumber: GGGI sekunder dan internasional untuk eCBA. Akhirnya, asumsi dan hasilnya divalidasi oleh para pemangku kepentingan lokal. Gambar 3.6 Dari perspektif pertumbuhan ekonomi hijau, rencana awal Profil Biaya dan Manfaat dari Waktu ke Waktu (dalam juta US$ (2013)) untuk Pembangunan KIPI Maloy tidak merepresentasikan jalur $20 pembangunan yang optimal bagi Indonesia. Bahkan dengan $15 peraturan lingkungan yang kuat masih terdapat berbagai eksternalitas dan tata kelola, kebijakan dan kelembagaan yang $10 akan menghalangi Pengembangan KIPI Maloy untuk mencapai $5 kinerja pertumbuhan ekonomi hijau terbaik. $0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Penilaian eCBA berpendapat bahwa terdapat sembilan intervensi pertumbuhan ekonomi hijau, termasuk gasifikasi -$5 batubara untuk pembangkit listrik, mengubah jalur kereta -$10 api untuk mengikuti rute jalan yang telah ada, dan perluasan jalan untuk mengembangkan sebuah resor wisata. Manfaat -$15 bersih agregat yang dihasilkan di sembilan intervensi adalah Biaya Swasta Discounted Annual Net Benefit (Swasta) Total Biaya USD 3,8 miliar, yang setara dengan lebih dari 10 persen dari Discounted Annual Net Benefit (Total) Total PDB Kalimantan Timur pada Mewujudkan tahun 2012 Pertumbuhan Ekonomidan merupakan Hijau di rasio Indonesia: Keuntungan Swasta Keuntungan Peta jalan manfaat-biaya lebihuntuk dari Kebijakan, 1,9. Perencanaan, dan Investasi Sumber: GGGI 65 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi PEMBIAYAAN INVESTASI HIJAU Memiliki portofolio yang memprioritaskan peluang investasi hijau akan membantu untuk memastikan bahwa dana telah disalurkan dengan tepat. Setelah sebuah rencana melalui proses KLHS, dan proyek dinilai melalui proses eCBA, harus muncul usulan proyek-proyek berkualitas tinggi untuk investasi mana yang akan dibutuhkan. Sebuah aluran proyek yang efektif untuk investasi hijau tergantung pada: Lingkungan pendukung yang memadai untuk investasi hijau dengan alat fiskal yang diperlukan; Kapasitas untuk merancang proyek-proyek secara konsisten di seluruh kementerian; Imbalan yang sepadan dengan risiko; Risiko proyek dan non-proyek dikurangi jika mungkin; Pendanaan dampingan; dan Financial closure sektor swasta. Banyak alat fiskal yang diuraikan dalam bagian 2 sangat yang diuraikan dalam bab ini hanya dapat memiliki penting dalam menunjang aluran proyek efektif untuk implikasi pertumbuhan ekonomi hijau yang signifikan investasi hijau di seluruh sektor. Ini termasuk tarif feed- jika diterapkan secara konsisten untuk semua proses in, penghapusan subsidi BBM fosil, keringanan pajak perencanaan. Hal ini akan melibatkan pengarusutamaan jangka tetap, keringanan pajak penghasilan badan, proses yang relevan ke dalam kebijakan sampai ke keuangan konsesi atau tunjangan penyusutan dipercepat tingkat proyek, bersama dengan pendanaan dan untuk investasi dalam peralatan berkinerja tinggi, komitmen seluruh tingkatan pemerintah. kemungkinan kekurangan pembiayaan, dan pembayaran untuk jasa ekosistem. Mekanisme keuangan -melalui kombinasi insentif sektor swasta dan kemitraan publik-swasta-dapat Dengan mengikuti metodologi penilaian tingkat makro digunakan untuk menanamkan sinyal harga yang melalui kelayakan ulasan finansial untuk proyek tepat dan mendorong industri untuk bergerak ke arah penilaian tingkat, proyek yang disetujui adalah yang pertumbuhan ekonomi hijau. Hal ini berlaku di seluruh berkontribusi andal terhadap hasil pertumbuhan kelompok sektor tetapi mempunyai relevansi khusus ekonomi hijau. Kebijakan dan proses yang dirancang dalam kelompok sektor energi dan industri ekstraktif. dengan baik dapat membuat pertumbuhan ekonomi Jaminan berikut dapat digunakan untuk membantu dan tujuan iklim saling menguatkan 127. Kebijakan jangka menstabilkan sinyal harga di pasar dan mendorong panjang yang konsisten dan kredibel sangat penting investasi swasta di kelompok sektor energi dan industri untuk membentuk harapan pasar dan mendorong ekstraktif: investasi. Demikian pula, alat, kebijakan dan metode PLN secara konsisten menetapkan harga pembelian listrik dari proyek-proyek energi terbarukan di masa depan; Pemerintah menetapkan harga karbon untuk investor dan memulihkan biaya atau manfaat dengan menjual kredit di pasar karbon sukarela. Jumlah keseluruhan dana yang tersedia untuk investasi Strategi GPB menunjukkan pentingnya meningkatkan hijau dapat ditingkatkan ketika pemerintah bersedia leverage ratio rata-rata kebijakan publik dalam untuk berbagi atau mengurangi risiko investasi modal pertumbuhan ekonomi hijau, jika tantangan harus awal pengembang swasta. Jika proyek menghasilkan diatasi dan pertumbuhan akan dipertahankan. Dalam manfaat publik sosial atau lingkungan yang besar, hal ini jangka menengah, strategi utama untuk mencapai hal merupakan kepentingan umum di samping keuntungan ini adalah memperluas peran lembaga keuangan dalam untuk investor swasta. Aset hijau dapat dijual oleh memberikan pembiayaan. OJK membuat Peta Jalan pengembang untuk investor institusi setelah tahap Keuangan Berkelanjutan di Indonesia yang mengkaji konstruksi berisiko telah selesai. Pada titik ini, investor kendala utama dan mengusulkan program terkoordinasi institusi tertarik dengan kas yang relatif stabil bahwa yang mengkaji pasokan dan permintaan produk aset menghasilkan lebih dari jangka waktu yang panjang. keuangan hijau. Kajian ini juga mengusulkan payung Sementara itu, dana yang dihasilkan oleh penjualan kebijakan 'yang membantu koordinasi pengembangan aset dapat diinvestasikan kembali dalam proyek- kebijakan, termasuk menghilangkan hambatan dan proyek hijau baru. Daur ulang dana yang baik akan memperkenalkan kebijakan baru 128. membantu meningkatkan sumberdaya publik. Struktur sekuritisasi dalam negeri dapat dibentuk melalui pengabungan aset operasi, yaitu menghasilkan aliran arus kas stabil, sehingga memberikan lapisan kerugian publik untuk menarik investor institusi domestik, dan menggabungkan proyek dan menerbitkan efek beragun aset. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Menilai dan Merancang Investasi Hijau Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 66 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi MEMANTAU DAN MENGUKUR Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Hijau K emajuan menuju ekonomi Indonesia yang lebih hijau akan memerlukan pemantauan dan pengukuran kinerja ekonomi. Peta jalan ini menawarkan dan kebijakan ekonomi; dan e) konteks sosial-ekonomi dan karakteristik pertumbuhan. Kerangka konseptual OECD, yang ditunjukkan pada Gambar 3.7, menunjukkan sejumlah indikator yang komprehensif untuk melakukan bagaimana indikator dapat diposisikan untuk memantau hal itu. Indikator-indikator ini menjangkau lima hasil yang arus antara basis aset alam dan kegiatan ekonomi, serta diinginkan dari Kerangka Pertumbuhan Ekonomi Hijau. intervensi pemerintah 129. Hal ini menyediakan sarana Dengan demikian, indikator yang diusulkan serupa dengan pemantauan pertumbuhan ekonomi yang positif dan kerangka pengukuran untuk pertumbuhan ekonomi pembangunan manusia, sambil memastikan bahwa aset hijau yang diusulkan OECD, yaitu meliputi lima jenis alam terus memberikan sumberdaya dan jasa lingkungan indikator: a) produktivitas sumberdaya; b) aset-aset alam; yang menentukan kesejahteraan. c) kualitas hidup yang terkait lingkungan; d) kesempatan Gambar 3.7 Kerangka kerja pengukuran konseptual OECD untuk pertumbuhan ekonomi hijau130 Kegiatan ekonomi (produksi, konsumsi, perdagangan) Sumber: OECD, Indikator Pertumbuhan Ekonomi Hijau 2014 Indikator- Indikator- indikator indikator monitoring monitoring kualitas produktivitas lingkungan lingkungan & hidup sumberdaya PRODUKSI Konsumsi Rumah tangga Hasil: masukan: Pemerintah Pendapatan Daur ulang, Tenaga kerja Barang pemakaian ulang, Modal Jasa manufaktur ulang, Teknologi substitusi Investasi Indikator- indikator Produksi monitoring multifaktor peluang ekonomi dan respon- Konteks sosioekonomi respon kebijakan & karakter pertumbuhan Kebijakan, tolok ukur, Sumberdaya Residu peluang Investasi Aspek fasilitas, Energi & bahan Inovasi Limbah kesehatan & mentah, air, tanah, polutan Perdagangan keamanan biomasa, udara Edukasi & Pelatihan tenaga kerja FUNGSI Fungsi Fungsi LAYANAN Sumberdaya sistem limbah Indikator-indikator monitoring basis aset alam Basis aset alam (modal, kualitas lingkungan) Memantau dan Mengukur Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 67 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi Kelompok indikator pertama kerangka OECD memonitor alam dan masyarakat dan sektor yang bergantung pada produktivitas lingkungan dan sumberdaya ekonomi aset tersebut. Oleh karena itu kelompok ketiga indikator (produksi dan konsumsi). Input terhadap perekonomian diperkenalkan untuk mengukur kualitas hidup yang masuk dalam kelompok indikator ini termasuk tenaga berkaitan dengan lingkungan. Hal ini terutama adalah kerja, modal, dan teknologi. Hal ini menunjukkan, dari dampak lingkungan dari proses perekonomian pada perspektif pertumbuhan ekonomi hijau, seberapa baik kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat mencakup hasil perekonomian menggunakan input yang diterimanya. perubahan lingkungan global. Kelompok ini termasuk Produksi menciptakan barang, jasa dan pendapatan, indikator seperti kualitas udara dan air. yang juga harus dipantau. Bersama-sama, tiga set indikator ini memberikan Kelompok indikator kedua memonitor aset dasar alam, gambaran keadaan ekonomi yang luas seperti yang atau modal alam, di mana perekonomian bergantung didefinisikan oleh pertumbuhan ekonomi hijau. Agar untuk barang dan jasa alam, seperti kayu dan air. pertumbuhan hijau dapat dicapai, semua indikator harus Meskipun sangat penting untuk kesejahteraan manusia menunjukkan tren positif secara luas. Karena kebijakan dan kinerja ekonomi, penipisan sumberdaya dan dapat berdampak pada ekonomi dan basis aset alam, perubahan lain dalam modal dasar alam sebagian besar satu set indikator keempat diperkenalkan untuk tidak terdeteksi oleh indikator ekonomi konvensional memantau kebijakan. Oleh karena itu, kerangka OECD seperti PDB. memastikan bahwa hasil pertumbuhan ekonomi hijau diperhitungkan dan mendorong pembuatan kebijakan, Kegiatan ekonomi juga berdampak pada, dan sering perencanaan, dan pengukuran kinerja pada semua merusak, basis aset alam, misalnya melalui polusi dan tahap pergerakan barang dan jasa untuk masyarakat 131. limbah. Hal ini memiliki konsekuensi untuk lingkungan INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU INDONESIA Indikator pertumbuhan ekonomi hijau yang diusulkan dalam peta jalan ini dimaksudkan untuk melengkapi indikator yang telah digunakan untuk perencanaan rutin; Indikator tersebut juga dilaporkan dalam sumber-sumber statistik dan sering diacu dalam dokumen perencanaan. Dengan demikian, indikator pertumbuhan ekonomi hijau ini tidak mencakup indikator-indikator standar pembangunan ekonomi (misalnya total dan PDB per kapita, investasi, konsumsi, produktivitas) atau pengurangan kemiskinan (misalnya angka kemiskinan pokok, koefisien Gini, kedalaman kemiskinan). Indikator akses ke layanan sosial dan kinerja terkait di bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan secara luas digunakan dalam perencanaan sektor, bersama dengan indikator akses ke infrastruktur ekonomi dan sosial, termasuk air bersih dan sanitasi, listrik dan internet. Index Internasional Human Development Index dan Indeks Kemajuan Sosial juga memberikan pilihan untuk memantau perbaikan sosial. Indikator lingkungan adalah indikator kurang banyak dilaporkan, namun indikator kualitas udara dan air telah termasuk dalam Indeks Kualitas Lingkungan di Indonesia (IKLH). Kawasan hutan dan perubahan tutupan hutan, yang diukur dengan berbagai kerangka penginderaan jauh dan dilaporkan oleh sejumlah lembaga nasional dan internasional, akan secara sistematis dipantau di bawah sistem nasional Indonesia REDD + untuk pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) 132. Peta jalan ini tidak menyajikan indeks komposit tunggal, meskipun pilihan untuk ini tersedia, termasuk PDB Hijauq, berbagai ukuran kekayaan dan Total Output Bahan 133. Sebaliknya, indikator yang diusulkan terdiri dari dua belas indikator kunci yang sering tidak digunakan dalam perencanaan pembangunan sehingga dapat memberi nilai tambah untuk proses perencanaan rutin. Indikator yang digunakan untuk kebijakan sektoral tidak termasuk, tapi dapat dikembangkan untuk perencanaan dan pemantauan sektoral. Beberapa dari indikator tersebut telah termasuk dalam Indeks Kualitas Lingkungan (IKLH). Indikator pertumbuhan ekonomi hijau yang diusulkan dikelompokkan dalam tiga kelompok, yang meliputi (i) indikator kuantitas dan kualitas sumberdaya alam dan jasa lingkungan; (ii) indikator untuk efisiensi sumberdaya, produktivitas, dan intensitas karbon ekonomi; dan (iii) indikator komposit dan pelacakan kebijakan yang meliputi kapasitas kelembagaan, reformasi kebijakan, dan ketahanan. Anak sungai mengalir di Taman Nasional Gunung Salak Halimun, Jawa Barat © CIFOR / CC BY-NC 2.0 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 68 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi INDIKATOR KUALITAS ASET LINGKUNGAN 1. 2. 3. 4. Luas hutan dalam kondisi Indeks Manfaat baik, didefinisikan sebagai Indeks stok ikan Keanekaragaman Hayati dan terumbu karang Polusi udara rata-rata hutan yang menyediakan: GEF, yang bertujuan untuk yang dihadapi oleh manfaat perlindungan DAS dalam kondisi baik mengukur potensial yang mencerminkan penduduk Indonesia penuh, termasuk penyangga manfaat global yang dapat yang tinggal di kota-kota air dan mengurangi erosi keragaman spesies direalisasikan dari kegiatan serta volume total. Hal dan daerah-daerah lain tanah; stok karbon; dan keanekaragaman hayati. yang terkena dampak manfaat keanekaragaman ini dapat ditentukan Oleh karena itu, indeks ini dengan survei dan polusi udara, termasuk hayati yang baik, setara memperlihatkan status kabut dari kebakaran dengan yang disediakan dipengaruhi baik oleh keanekaragaman hayati kebijakan perikanan gambut. oleh hutan hujan yang dan sejauh mana aktivitas baik. Indikator ini dapat maupun polusi air. manusia mempromosikan berasal dari pemantauan konservasi yang dilaporkan di statistik keanekaragaman hayati. tahunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan akan menarik perhatian pada pentingnya pemantauan kualitas hutan serta daerah sekitarnya. INDIKATOR EFISIENSI SUMBERDAYA 5. 6. 7. 8. Penggunaan air per kapita Produktivitas Energi (yaitu Intensitas ekonomi emisi Jumlah rata-rata tahun penduduk Indonesia konsumsi energi dibagi gas rumah kaca, dengan untuk cadangan mineral yang terlayani oleh dengan PDB). Indikator emisi seperti dilaporkan yang tersisa, pada tingkat layanan penyedia air yang ini akan mengukur Indonesia kepada ekstraksi saat ini, dihitung terorganisir. Indikator ini apakah Indonesia UNFCCC. Indikator dengan nilai ekstraksi saat akan menunjukkan tren bergerak menuju norma- ini adalah indikator ini untuk setiap mineral. dalam efisiensi penggunaan norma internasional mapan yang disertakan Hal ini dapat dihitung air dan akan membantu untuk negara-negara karena merupakan dengan membagi perkiraan untuk mengenali nilai berpenghasilan menengah pusat tujuan mitigasi terbaru dari sumberdaya inisiatif yang mendorong dan akan mendorong perubahan iklim tetapi mineral yang diberikan peningkatan efisiensi identifikasi sektor-sektor belum banyak digunakan oleh Kementerian Energi penggunaan air. mana yang paling intensif dalam perencanaan dan Sumberdaya Mineral energi dan mungkin pembangunan dan dengan ekstraksi tahun manfaat dari program pelaporan dalam negeri. terbaru dan bobot hasil efisiensi energi. dengan nilai ekstraksi. Indikator ini akan menyoroti pentingnya perencanaan ke depan untuk penggunaan sumberdaya alam Memantau dan Mengukur Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Hijau Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 69 Bagian 3: Pengarusutamaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau ke dalam Kebijakan, Perencanaan dan Investasi INDIKATOR PELACAKAN KOMPOSIT DAN KEBIJAKAN 9. 10. 11. 12. Indikator 'pekerjaan hijau 'Indeks Kerentanan' yang layak' didefinisikan yang akan mengukur Indikator komposit yang sebagai pekerjaan di kerentanan sosial, berasal dari data di Bank Nilai subsidi bahan bisnis dan sektor yang lingkungan, dan ekonomi Dunia tentang Penilaian bakar fosil, untuk mendorong pertumbuhan terhadap perubahan Kebijakan Negara dan menunjukkan dan ekonomi hijau. Indikator iklim. Hal ini dapat pada Kelembagaan, untuk menandakan kemajuan ini didefinisikan oleh awalnya didasarkan melacak kemajuan faktor pemungkin Organisasi Perburuhan pada skor German berkaitan dengan kebijakan dan insentif. Internasional dan Model Watch CRI, tapi dapat kapasitas, kelembagaan Ekonomi Hijau Indonesia diganti dengan Indeks dan tata kelola. (Indonesian Green Maplecroft atau indeks Economy Model I-GEM) yang dikembangkan di telah menggambarkan Indonesia. bagaimana hal ini dapat dipraktikkan 134. Indikator ini akan memperlihatkan pekerjaan yang dapat diterima secara lingkungan dan sosial dan mendorong perdebatan yang lebih luas tentang apa yang merupakan pekerjaan hijau yang layak. Indikator-indikator ini harus dilacak secara individual, dan menggunakan prosedur agregasi yang cocok untuk mengumpulkannya menjadi tiga indikator komposit yang menyeluruh untuk menyediakan data yang mudah dilihat tingkat tinggi. Pendekatan untuk melacak kemajuan terhadap tiga indikator-satu untuk masing-masing tiga kelompok disajikan komposit seperti di sini-diusulkan di Bagian 4. Kesimpulan Pada Bagian 3, kita telah melihat bagaimana strategi yang komprehensif mengadopsi faktor pemungkin kebijakan untuk perencanaan hijau dan investasi, perencanaan dan pengambilan keputusan yang dipandu oleh penilaian lingkungan strategis dan analisis biaya-manfaat yang diperluas, alat-alat dan metode, yang dapat membantu pengarusutamaan pertumbuhan ekonomi hijau di luar proyek-proyek dan inisiatif individu menjadi ekonomi yang lebih luas. Pendekatan pengarusutamaan pada bab ini terkait dengan peluang kelompok spesifik sektor yang diidentifikasi dalam Bagian 2. Pengembangan rencana aksi menyeluruh untuk pertumbuhan ekonomi hijau disajikan di bawah ini di Bagian 4. Mewujudkan q. PDB Pertumbuhan hijau dihitung Ekonomi Hijau dengan menyesuaikan PDB di Indonesia: konvensional Pemantauan untuk memperhitungkan biaya ekonomi dari pengurangan aset sumberdaya dan alam, Mengukur termasuk Kinerjahayati dan sumberdaya Pertumbuhan Ekonomi Hijau mineral. PetaIndonesia adalahKebijakan, jalan untuk salah satu dari sedikit negaradan Perencanaan, di dunia yang memperkirakan PDB Hijau sejak dahulu melalui sistem Sisnerling. Namun, saat ini hanya membahas kehilangan sumberdaya mineral. Investasi Ada inisiatif untuk memperluasnya dengan menghitung hilangnya sumberdaya hutan dan, yang terpenting, degradasi sumberdaya hutan. 70 BAGIAN 4 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa (Dari atas) panel surya, sumber energi terbarukan © Getty images, Lokasi ekowisata Raja Ampat © GGGI Indonesia I nIndonesia memiliki banyak kesempatan untuk pindah ke pertumbuhan ekonomi hijau, namun dengan waktu yang telah mendesak. Saat karbon. Dengan mengikuti visi pertumbuhan ekonomi hijau, Indonesia dapat menjadi negara yang ekonominya maju dengan penduduk produktif dan sehat, ekosistem ini biaya di bawah skenario bisnis seperti biasa yang berfungsi dengan baik, infrastruktur yang baik, dan semakin meningkat. Kegiatan manusia yang merusak diversifikasi ekonomi yang berinvestasi modal alam dan lingkungan menghilangkan jasa ekosistem, menurunkan manusia. produktivitas tanah, memperburuk ketahanan pangan dan air, dan memberikan dampak kesehatan yang Untuk mencapai visi tersebut, Indonesia perlu terus negatif. memodernisasi struktur ekonomi dan proses produksi, mendorong pertumbuhan inklusif secara sosial yang Peta jalan ini menjelaskan bagaimana Indonesia menguntungkan semua bagian masyarakat, dan dapat menggeser lintasan pertumbuhan yang akan menjamin harmoni yang lebih besar antara aktivitas memberikan manfaat ekonomi, bisnis, sosial, dan ekonomi dan lingkungan untuk masyarakat dan lingkungan. Perbaikan yang naik bertahap, perubahan ekonomi yang sukses. Pertumbuhan ekonomi hijau produktivitas dan struktural, yang berkelanjutan berarti memberi peran yang lebih besar untuk aktivitas selama beberapa dekade mendatang, dapat membantu dengan nilai-tambah tinggi di Indonesia di sektor-sektor Indonesia mengembangkan ekonomi lima kali lipat modern termasuk sektor jasa, peningkatan produktivitas sekaligus mengurangi jejak lingkungan termasuk emisi tenaga kerja, modal dan sumberdaya berkelanjutan- semua bertumpu pada penggunaan teknologi modern, infrastruktur yang efisien dan tenaga kerja terdidik. Dengan mengikuti visi pertumbuhan Pertumbuhan ekonomi hijau mensyaratkan kebijakan yang menciptakan iklim investasi yang menarik industri ekonomi hijau, Indonesia dapat masa depan. Hal ini melibatkan penyusunan kebijakan, rencana dan proyek-proyek nasional dan regional menjadi negara yang ekonominya yang mengintegrasikan manfaat dan biaya sosial dan lingkungan dari awal. Membangun kapasitas dan maju dengan penduduk produktif lembaga serta memastikan tata kelola yang baik, penting untuk mendukung kebijakan, insentif, rencana, dan dan sehat, ekosistem yang berfungsi proyek. dengan baik, infrastruktur yang Tujuan dan pendekatan ini tidak khusus untuk perspektif baik, dan diversifikasi ekonomi yang perlindungan lingkungan. Sebaliknya, muncul dari pandangan yang lebih luas tentang ekonomi dan berinvestasi modal alam masyarakat yang diinginkan dan keberhasilan yang didiskusikan secara umum dan didukung oleh bisnis, dan manusia. masyarakat, dan pemerintah. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 71 Seperti dijelaskan dalam Bagian 2, "tunas-tunas" jalan ini. Pengarusutamaan pendekatan pertumbuhan dapat dilihat dalam berbagai proyek dan inisiatif yang hijau yang seimbang dan holistik akan membutuhkan berjalan di seluruh negeri. Jika ditingkatkan, tunas ini kombinasi kebijakan dan faktor pemungkin yang tepat dapat bertindak sebagai faktor pemungkin penting yang terkait dengan integrasi pertumbuhan hijau dari pertumbuhan ekonomi hijau, terutama jika di ke dalam perencanaan dan pengambilan keputusan kombinasikan dengan beberapa kebijakan baru yang investasi, seperti yang dijelaskan dalam Bagian 3. lebih ambisius seperti yang diidentifikasi dalam peta RENCANA AKSI untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia R encana aksi yang diusulkan untuk pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia didasarkan pada tiga rangkaian kegiatan yang saling memperkuat untuk mencapai lima hasil yang terkandung dalam kerangka pertumbuhan ekonomi hijau: Menciptakan faktor-faktor pemungkin dan insentif-insentif yang berdampak pada iklim investasi yang kondusif untuk mengurangi risiko bagi investor. Menata ulang kebijakan, rencana, dan proyek-proyek nasional dan daerah untuk memastikan bahwa manfaat dan biaya sosial dan lingkungan sepenuhnya terintegrasi dari awal. Membangun kapasitas dan kelembagaan, serta menjamin tata kelola yang baik, untuk mendukung kebijakan, insentif, rencana, dan proyek. Peta jalan ini menunjukkan tindakan nyata dan pertumbuhan ekonomi hijau dari seluruh kelompok pendekatan yang lebih luas dalam berbagai kerangka sektor untuk membuat rencana aksi untuk memulai waktu dan di beberapa sektor. Beberapa dari faktor pertumbuhan ekonomi hijau. Dimulai di bagian bawah pemungkin dan pendekatan telah terlaksana. Aksi dan tabel, tiga pendekatan yang diuraikan pada awal bab ini pendekatan lain juga dapat dicapai dengan tambahan memberikan prinsip-prinsip penting untuk menetapkan upaya khusus. Meskipun demikian, masih terdapat gerakan pertumbuhan ekonomi hijau pada tingkat aksi yang membutuhkan perubahan signifikan dalam strategis. Setelah ini, tema utama (diambil dari peluang pemikiran dan praktik. Semua faktor pemungkin dan yang digambarkan di Bagian 2) dan indikator untuk pendekatan akan menguntungkan bagi tujuan bangsa mengukur kemajuan yang ditetapkan untuk setiap yang lebih luas untuk mengembangkan ekonomi modern kelompok sektor. berbasis masyarakat, berpenghasilan tinggi, yang menyediakan kualitas hidup yang tinggi bagi seluruh Faktor pemungkin untuk setiap kelompok sektor warganya. kemudian disebutkan sebagai hasil dalam jangka pendek (tahun 2020), jangka menengah (pada tahun 2030), Faktor pemungkin pertumbuhan ekonomi hijau yang dan jangka panjang (tahun 2050). Prioritas jangka diidentifikasi dalam peta jalan ini mencakup berbagai pendek mencakup intervensi mendesak yang tidak tindakan di kelompok sektor energi dan industri dapat menunggu dan peluang awal yang dapat diambil. ekstraktif, manufaktur, konektivitas, dan sumberdaya Misalnya, prioritas jangka pendek utama di seluruh alam terbarukan, serta di wilayah lintas sektor dari pasar kelompok sektor dan kementerian adalah memasukkan baru untuk modal alam. Faktor pemungkin termasuk GGAP ke dalam proses perencanaan. Tindakan jangka faktor-faktor yang sangat beragam seperti menghapus menengah dan jangka panjang memerlukan langkah- subsidi bahan bakar fosil, investasi dalam penelitian dan langkah lain yang harus dilakukan terlebih dahulu atau pengembangan teknologi bersih, percepatan sertifikasi membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai internasional produk yang berkelanjutan, meningkatkan hasil. Indikator tingkat tinggi untuk ekonomi yang keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan terumbu luas kemudian didaftar untuk memantau kemajuan di karang dan menyediakan pembiayaan jangka panjang berbagai sektor. Lima hasil pertumbuhan ekonomi hijau untuk proyek-proyek kehutanan. Faktor pemungkin ini menjadi bagian keseluruhan rencana aksi baik sebagai bukan satu-satunya yang dibutuhkan untuk membuat kekuatan pendorong dan tujuan akhir visi pertumbuhan pertumbuhan ekonomi hijau berhasil. Namun, mereka ekonomi hijau di Indonesia. mewakili satu set kebijakan dan inisiatif yang berpotensi kuat untuk menempatkan Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi hijau. Beberapa aksi telah dimulai. Rencana aksi menunjukkan bagaimana peluang pertumbuhan hijau yang dijelaskan dalam peta jalan dapat diwujudkan dari masa ke masa. Tabel 4.1 di bawah ini menyatukan faktor pemungkin Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 72 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa TABEL 4.1 Rencana aksi untuk pertumbuhan hijau

  9. 50 AKSI UNTUK MEWUJUDKAN PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU Kelompok Faktor pemungkin lintas sektor untuk Faktor pemungkin jangka pendek sektor mendorong aksi untuk pertumbuhan ekonomi hijau 6. Melaksanakan penilaian secara regional untuk menentukan solusi energi yang tepat. 7. Menyelidiki hambatan lokal untuk investasi dan mengembangkan transfer pengetahuan. 8. Mengevaluasi tarif feed-in. ENERGI DAN 9. Menghapus subsidi bahan bakar fosil. SEKTOR 10. Analisis pilihan untuk gas domestik sebagai EKSTRAKTIF bahan bakar perantara. 11. Mengembangkan pendekatan yang tepat sasaran untuk meningkatkan nilai tambah dalam pengolahan mineral. 12. Mengembangkan insentif fiskal untuk efisiensi energi. 1. Ciptakan faktor pemungkin 13. Melibatkan pemain industri kunci dalam kebijakan dan insentif yang efisiensi energi. MANUFAKTUR menghasilkan iklim investasi yang kondusif. 14. Investasi riset & pengembangan teknologi bersih untuk bahan pengolahan. 2. Kondisikan kebijakan nasional dan daerah, rencana dan proyek sehingga mereka mengintegrasikan manfaat dan biaya sosial dan 15. Membangun struktur kelembagaan dan lingkungan dari awal. kapasitas untuk perencanaan kota pintar. 3. Membangun kapasitas, lembaga, 16. Membangun kapasitas kelembagaan untuk dan memastikan tata kelola yang transport antar moda. KONEKTIVITAS baik untuk mendukung kebijakan, 17. Membangun aliran proyek infrastruktur hijau insentif, rencana dan proyek yang yang tepat sasaran. tepat sasaran. 4. Pengarusutamaan GGAP ke dalam proses perencanaan lintas sektor. 5. Melacak dan mengukur kinerja 18. Mempercepat insiatif Satu Peta. pertumbuhan ekonomi hijau dalam perencanaan, kebijakan, dan 19. Memantau dan memastikan di mana/kapan investasi. konsesi dan izin diberikan. 20. Meningkatkan model inovatif pengelolaan SUMBERDAYA hutan dan lahan gambut. ALAM 21. Meningkatkan Program Konsumsi dan TERBARUKAN Produksi Berkelanjutan di seluruh kementerian. 22. Meningkatkan produktivitas padi, kelapa sawit dan komoditas pangan utama lainnya. 23. Mengembangkan kerangka pasar karbon domestik. PASAR 24. Mengembangkan alur prioritas kegiatan. SUMBERDAYA ALAM BARU 25. Memperkenalkan tata kelola PES. 20 20 n hu ta Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 73 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Faktor pemungkin jangka menengah Faktor pemungkin jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi hijau untuk pertumbuhan ekonomi hijau 26. Memberikan insentif untuk investasi dalam akses solusi energi bersih. 27. Menetapkan harga karbon. 28. Menarik sektor swasta untuk investasi energi panas bumi dengan mengatasi hambatan keuangan dan berbagi resiko. 29. Mengembangkan industri pengolahan mineral di daerah dengan energi terbarukan, pasokan air atau sumberdaya tambahan lainnya. 30. Menghapus subsidi bahan bakar fosil dan menetapkan harga karbon. 31. Memperbaiki metode produksi di industri berat termasuk sektor 46. Merangsang investasi untuk penyulingan. pembuangan sampah rendah GRK dan memastikan 32. Mendukung UKM industri teknologi bersih. pelaksanaan proyeknya. 33. Membangun industri baru untuk produk limbah dan pemprosesannya. 47. Memasukan penilaian 34. Melaksanakan analisa biaya-manfaat yang diperluas untuk solusi risiko iklim ke dalam proses konektivitas yang besar. investasi untuk pembangunan perkotaan. 35. Membangun kapasitas penegak hukum lingkungan. 36. Mengatasi lahan gambut yang terdegradasi dan kebakaran gambut. 37. Melibatkan masyarakat untuk mengembalikan produktivitas ekologi dari ekosistem laut. 38. Meningkatkan pengelolaan industri limbah cair dan padat di daerah pesisir. 48. Memperjelas peran petani 39. Memperkuat ambisi dan menegakkan sertifikasi produk domestik. kecil dalam produksi. 40. Mengembangkan program transfer pengetahuan tentang rantai pasokan yang berkelanjutan. 41. Mempromosikan alternatif alami pupuk kimia untuk kesuburan tanah. 42. Diversifikasi makanan pokok. 49. Melakukan bioprospecting 43. Menanggapi secara dinamis diskusi internasional tentang penetapan harga yang bertanggung jawab untuk karbon. mendukung pengembangan industri bioteknologi. 44. Menetapkan pembiayaan utang jangka panjang yang dipilih. 50. Laksanakan pelatihan dan 45. Menetapkan, mendukung dan memantau pasar baru berbasis modal alam. pemantauan ekowisata. 30 50 20 20 n n hu hu ta ta Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 74 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Gambar 4.1 - 4.5 di bawah mengkontekstualisasi dimulai). Sebaliknya, melibatkan masyarakat untuk rencana aksi dengan menunjukkan bagaimana setiap mengembalikan produktivitas ekosistem laut akan paling faktor pemungkin mendukung tema menyeluruh efektif jika dimulai sekarang tapi juga tetap menjadi pertumbuhan ekonomi hijau yang diuraikan di awal prioritas dalam jangka panjang. Kerangka perkiraan bagian ini. Gambar ini juga menggambarkan periode waktu dapat membantu untuk menginformasikan waktu di mana faktor pemungkin kelompok sektor alokasi anggaran di kementerian untuk mencapai akan terjadi. Sebagai contoh, beberapa dari faktor pertumbuhan ekonomi hijau yang luas dari waktu ke pemungkin ini baik untuk jangka pendek, seperti waktu. penghapusan subsidi bahan bakar fosil (yang telah CATATAN: Menciptakan faktor Merubah kebijakan, rencana dan Meningkatkan kapasitas dan pemungkin kebijakan proyek nasional dan regional untuk lembaga untuk memastikan dan insentif untuk iklim mengintegrasikan biaya dan manfaat tata kelola yang baik. investasi yang kondusif. lingkungan dan sosial. GAMBAR 4.1 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: energi dan sektor ekstraktif Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang 2015-2020 2020 - 2050 2020 - 2030 Melaksanakan penilaian secara ENERGI DAN regional untuk menentukan SEKTOR solusi energi yang tepat EKSTRAKTIF Menyelidiki hambatan lokal untuk investasi dan mengembangkan transfer pengetahuan Mengevaluasi tarif feed-in Menghapus subsidi bahan bakar fosil Mengembangkan pendekatan yang tepat sasaran untuk meningkatkan nilai tambah dalam pengolahan mineral Memberikan insentif untuk investasi dalam akses solusi energi bersih Menetapkan harga karbon Analisi pilihan untuk gas domestik sebagai bahan bakar perantara Menarik sektor swasta untuk investasi energi panas bumi dengan mengatasi hambatan keuangan dan berbagi resiko Mengembangkan industri pengolahan mineral di daerah dengan energi terbarukan, pasokan air atau sumberdaya tambahan lainnya GAMBAR 4.2 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: manufaktur Mengembangkan insentif fiskal untuk efisiensi energi MANUFAKTUR Melibatkan pemain industri kunci dalam efisiensi energi Investasi riset & pengembangan teknologi bersih untuk bahan pengolahan Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: 2015 2020 2030Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, 2050 dan Investasi 75 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang 2015-2020 2020 - 2050 2020 - 2030 MANUFAKTUR Mendukung UKM industri (lanjutan) teknologi bersih Menghapus subsidi bahan bakar fosil dan menetapkan harga karbon Memperbaiki metode produksi di industri berat termasuk sektor penyulingan Membangun industri baru untuk produk limbah dan pemprosesannya Merangsang investasi untuk pembuangan sampah rendah GRK dan memastikan pelaksanaan proyeknya GAMBAR 4.3 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: konektivitas Membangun struktur kelembagaan dan kapasitas untuk perencanaan kota pintar KONEKTIVITAS Membangun kapasitas kelembagaan untuk transport antar modal Membangun aliran proyek infrastruktur hijau yang tepat sasaran Melaksanakan analisa biaya-manfaat yang diperluas untuk solusi konektivitas yang besar Memasukan penilaian risiko iklim ke dalam proses investasi untuk pembangunan perkotaan gambar 4.4 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: sumber alam terbarukan Mempercepat insiatif Satu Peta SUMBER ALAM TERBARUKAN Meningkatkan model inovatif pengelolaan hutan dan lahan gambut Meningkatkan Program Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan di seluruh kementerian 2015 2020 2030 2050 Banyak lagi aksi yang dapat diidentifikasi di luar yang sektor jasa yang kompetitif secara internasional. Peta tercantum di atas. Hal ini akan menjadi jelas bagi jalan ini tidak membahas secara rinci peluang dan analis dan praktisi kebijakan ketika mereka melihat tindakan untuk mempercepat pertumbuhan sektor jasa. kebijakan, kelembagaan dan investasi melalui prisma Namun, dalam arti luas, dukungan untuk pengembangan bentuk pertumbuhan ekonomi yang adil, inklusif, dan sektor jasa akan memerlukan: investasi berkelanjutan berkelanjutan. dalam sumberdaya manusia, khususnya pendidikan tinggi; rezim hukum dan regulasi yang teradministrasi secara efisien, dan dapat diprediksi; pengembangan Elemen tambahan penting dari strategi pertumbuhan transportasi dan infrastruktur perkotaan berkualitas ekonomi hijau di Indonesia adalah pengembangan tinggi. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 76 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang 2015-2020 2020 - 2050 2020 - 2030 SUMBER ALAM Memantau dan memastikan di mana/kapan TERBARUKAN konsesi dan izin diberikan (lanjutan) Membangun kapasitas penegak hukum lingkungan Meningkatkan produktivitas padi, kelapa sawit dan komoditas pangan utama lainnya Mempromosikan alternatif alami pupuk kimia untuk kesuburan tanah Diversifikasi makanan pokok Melibatkan masyarakat untuk mengembalikan produktivitas ekologi dari ekosistem laut Mengatasi lahan gambut yang terdegradasi dan kebakaran gambut Meningkatkan pengelolaan industri limbah cair dan padat di daerah pesisir Memperkuat ambisi dan menegakkan sertifikasi produk domestik Mengembangkan program transfer pengetahuan tentang rantai pasokan yang berkelanjutan Memperjelas peran petani kecil dalam produksi gAMBAR 4.5 Rencana indikatif dan faktor pemungkin imperatif: pasar baru modal alam Mengembangkan kerangka pasar karbon domestik PASAR SUMBER- DAYA ALAM BARU Menanggapi secara dinamis diskusi internasional tentang penetapan harga karbon Memperkenalkan tata kelola PES Mengembangkan alur prioritas kegiatan Menetapkan, mendukung dan memantau pasar baru berbasis modal alam Menetapkan pembiayaan utang jangka panjang yang dipilih Melakukan bioprospecting yang bertanggung jawab untuk mendukung pengembangan industri bioteknologi Laksanakan pelatihan dan pemantauan ekowisata 2015 2020 2030 2050 Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 77 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Seorang anak perempuan berumur 3 tahun memamerkan bibit kol yang di tanam di sebuah kebun bibit di Jawa Barat PENGANGGARAN UNTUK PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU © CIFOR / CC BY-NC-ND 2.0 Strategi GPB memperkirakan bahwa untuk melindungi pertumbuhan dari ancaman yang ditimbulkan oleh degradasi lingkungan, eksploitasi sosial dan perubahan iklim, total investasi hijau (baik umum maupun swasta) harus naik dari tahapan saat ini sebesar 2 persen dari total investasi (yaitu sekitar Rp 53 triliun dari total 2800 triliun) menjadi sekitar 15 persen pada 2033. Saat ini, persentase investasi hijau dari pemerintah adalah sekitar 35 persen (yaitu sekitar Rp 19 triliun); persentase ini diperkirakan menurun sekitar 1 persen per tahun karena negara bergerak ke arah norma- norma negara berpenghasilan menengah yang lebih tinggi dan, pada akhirnya, negara berpenghasilan tinggi, di mana investasi hijau publik biasanya kurang dari 10 persen dari total investasi. Peta Jalan memperlihatkan bagaimana instrumen dapat dibuat sesuai dengan pasar untuk memastikan bahwa kebijakan pemerintah mencapai rasio leverage yang tinggi untuk meningkatkan investasi dari sektor swasta. Rencana Aksi Pertumbuhan Ekonomi Hijau berisi 50 aksi prioritas, di mana lebih dari dua pertiganya bekerja melalui instrumen yang memanfaatkan investasi swasta yang signifikan, termasuk pasar, insentif, informasi dan peraturan. Aksi-aksinya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Lima faktor pemungkin lintas sektoral untuk mendorong aksi melalui pembuatan kebijakan dan perencanaan Sepuluh aksi yang melibatkan investasi publik atau promosi investasi swasta Satu perubahan dalam subsidi Empat aksi yang melibatkan insentif untuk tanggapan sektor swasta Sebelas kebijakan untuk promosi pasar Sembilan belas kajian, penelitian dan pengembangan aksi dan peningkatan kapasitas. Biaya yang berkenaan dengan kebijakan ini perlu sebagian besar pekerjaan GGAP menunjukkan bahwa dimasukkan ke dalam anggaran nasional dan daerah, ada keuntungan bersih yang cukup besar yang dapat dinegosiasikan melalui proses anggaran rutin dan diperoleh. Tanpa manfaat dari kebijakan pertumbuhan didukung oleh analisis GGAP. Awalnya, anggaran ekonomi hijau, pertumbuhan PDB akan menurun terbesar diperlukan untuk investasi publik. Namun, biaya secara substansial sebagai akibat dari perubahan iklim, mengenalkan dan mengelola insentif, serta penguatan degradasi lingkungan, dan ketegangan sosial. Akibatnya, dan membangun lembaga untuk menegakkan peraturan, tingkat PDB pada tahun 2050 akan menjadi 3 sampai yang sering diremehkan juga akan membutuhkan 3,5 kali lebih tinggi dari saat ini, daripada 4,5 kali lebih anggaran yang cukup besar tinggi, seperti saat ini diproyeksikan. Pendapatan pemerintah juga akan lebih rendah secara proporsional. Sementara kebutuhan untuk membangun langkah- Pada pertengahan jangka panjang, neraca anggaran langkah yang dirancang untuk mencapai hasil di bawah peta jalan pertumbuhan ekonomi hijau akan pertumbuhan ekonomi hijau ke dalam investasi dan jauh lebih sehat daripada jika kebijakan didorong murni kebijakan akan menciptakan beberapa peningkatan untuk mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek. biaya di awal, baik untuk pemerintah dan sektor swasta, Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 78 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa INDIKATOR UNTUK PELACAKAN KEMAJUAN PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU Satu kelompok kecil kumpulan indikator menyeluruh akan cukup untuk melacak kemajuan masing-masing tiga pendekatan dalam rencana aksi. Indikator-indikator kuantitatif dan telah tersedia akan lebih baik. Potensi indikator meliputi: mengukur kemajuan pertumbuhan ekonomi hijau 1. 2. 3. Indikator komposit dan kebijakan, pelacakan Indikator komposit kemajuan keseluruhan efisiensi sumberdaya, kapasitas, lembaga dan tata Indikator komposit untuk pelacakan efisiensi kelola, adaptasi perubahan kualitas aset lingkungan, penggunaan air, iklim, dan penciptaan pelacakan stok ikan, hutan, produktivitas energi, ‘pekerjaan hijau’ yang keanekaragaman hayati dan emisi gas rumah kaca inklusif secara sosial, serta ketahanan ekologi terhadap intensitas ekonomi, dan kesuksesan kebijakan kunci, perubahan iklim. sisa cadangan mineral. seperti menghapus subsidi bahan bakar fosil dan distorsi harga energi lainnya. Indikator ekonomi yang luas ada di Tabel 4.1 beberapa kasus, penilaian kualitatif akan lebih tepat menunjukkan peran mereka dalam mengukur daripada pengukuran kuantitatif. pertumbuhan ekonomi hijau di kelompok sektor. Berbagai indikator yang lebih luas dan lebih terinci dapat Setelah dipilih, kumpulan indikator final yang diidentifikasi untuk melacak kemajuan menuju ekonomi digunakan untuk melacak kemajuan tindakan prioritas hijau. Sebuah daftar indikatif indikator disajikan di dan mengukur kinerja pertumbuhan ekonomi hijau Bagian 3. Dalam faktor pemungkin pertumbuhan hijau, dapat disajikan dalam bentuk yang mudah dibaca. Hal daftar indikator diberikan dalam peta jalan ini hanya ini dapat disertai dengan penilaian berkala strategi sebagai ilustrasi indikator lengkap. Implementasi praktis pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia yang lebih rinci dari langkah-langkah menuju tujuan pertumbuhan secara keseluruhan dan upaya dalam setiap kelompok ekonomi hijau menyarankan tambahan indikator yang sektoral. Indikator ‘pertumbuhan ekonomi hijau yang cocok di luar daftar indikator ini. Tujuannya untuk mudah dibaca’ dapat dibangun dalam tiga tingkat memberi indikator yang berguna bagi para pembuat kerincian: tingkat atas yang cocok untuk memberi kebijakan, perencana, investor, dan manajer proyek informasi kepada masyarakat dan agar mereka sesuai dengan kebutuhan mereka dan kebutuhan terlibat; tingkat menengah, untuk memberi informasi pemangku kepentingan yang terkena dampak. Dengan kepada pemimpin politik dan bisnis di Indonesia demikian, tidak ada seperangkat indikator yang terbaik dan komunitas investasi internasional; dan akhirnya, bagi semua pengguna atau tujuan. tingkat ketiga, tingkat monitoring yang lebih terinci yang akan memberi informasi untuk perencanaan, Indikator yang bersifat kuantitatif dan yang telah desain dan implementasi inisiatif pertumbuhan tersedia umumnya lebih disukai. Namun, akan ada ekonomi hijau. kasus-kasus di mana indikator yang ada atau data yang mendukung mereka tidak memadai, dan data atau langkah-langkah baru mungkin diperlukan. Dalam Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 79 Bagian 4: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau untuk Bangsa Media massa modern memungkinkan semua pemangku kepentingan mengutarakan pendapat mengenai pertumbuhan MENGKOMUNIKASIKAN PERTUMBUHAN EKONOMI HIJAU hijau © Hendrik Mintarno Komunikasi yang jelas sasarannya diperlukan untuk berbagai pemangku kepentingan untuk lebih membantu pengarusutamaan pertumbuhan ekonomi mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi hijau ke dalam hijau dalam perencanaan nasional dan daerah di proses dan kebijakan nasional dan provinsi. Indonesia dan untuk mendukung pelaksanaan aksi dan pendekatan-pendekatan yang diidentifikasi dalam peta Pemangku kepentingan utama dalam strategi jalan. Strategi komunikasi pada awalnya perlu difokuskan komunikasi adalah pengambil keputusan kebijakan pada aksi-aksi dan rekomendasi-rekomendasi untuk baik di tingkat pemerintah pusat dan provinsi, yang jangka pendek (2015-2020) dan dikembangkan dari mempengaruhi terciptanya lingkungan pemungkin waktu ke waktu untuk mencerminkan pengalaman dan yang tepat, termasuk mekanisme peraturan dan fiskal kemungkinan perubahan prioritas peta jalan. dan proses investasi. Meningkatkan pemahaman dan membangun dukungan untuk ide-ide yang disajikan Tujuan keseluruhan dari strategi komunikasi adalah dalam peta jalan ini akan memberikan landasan yang meningkatkan kesadaran tentang pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau, dasar-dasar, dan manfaat bagi berbagai kelompok hijau pada skala nasional. di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memobilisasi Kesimpulan: Langkah Selanjutnya untuk Pertumbuhan Ekonomi Hijau Keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang pertumbuhan ekonomi hijau, tapi semuanya diambil di Indonesia selama beberapa tahun ke depan memerlukan keterlibatan aktif para pembuat kebijakan, dapat membangun dasar bagi ekonomi yang lebih hijau, yang perlu menjadi ‘pejuang’ pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Infrastruktur yang berumur hijau. panjang sedang dibangun dengan kecepatan tinggi sementara beberapa ekosistim rusak parah. Untuk Hanya dengan mengarusutamakan pertumbuhan mencapai lintasan pertumbuhan yang lebih diinginkan, ekonomi hijau di seluruh lembaga dan badan perlu diambil tindakan sekarang untuk mencegah pemerintah Indonesia, serta dalam komunitas bisnis terkuncinya Indonesia dalam pola yang merugikan yang dan masyarakat sipil, manfaat penuh dari pertumbuhan dapat membatasi potensi jangka panjang Indonesia ekonomi hijau dapat dicapai. Pengarusutamaan untuk pertumbuhan yang lebih inklusif sistematis yang lebih dari seimbang, pendekatan dan diidamkan 135. pertumbuhan ekonomi hijau yang holistik akan membutuhkan kombinasi yang tepat dari kebijakan dan Kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau faktor pemungkin, termasuk integrasi pertumbuhan adalah komitmen politik dan kepemimpinan di level ekonomi hijau ke dalam perencanaan dan pengambilan teratas, baik secara nasional maupun di daerah. keputusan investasi. Ada banyak kesempatan untuk mempromosikan Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Rencana Aksi untuk Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Indonesia Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 80 KONTRIBUTOR Organisasi-organisasi dan individual-individual di bawah ini berkontrobusi dalam proses riset, penulisan, pengeditan dan review peta jalan ini. Pemerintah Indonesia Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, BAPPEDA Prov. Kalimantan Tengah, BAPPEDA Prov. Kalimantan Timur, BAPPEDA Kota Semarang, BAPPENAS, DPR – RI, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ESDM, Kementerian Kordinator Bidang Ekonomi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Organisasi International, LSM, Universitas, Program Kemitraan ADB, ANU, CCROM – IPB, CDKN, CIFOR, Climate Policy Initiative, Conservation International (CI), CSIRO, DANIDA, Dutch Embassy, ESP3, FAO, FFI, Forest Carbon, Giz Paklim, HIVOS, ICLEI, ICRAF, IPB, Kemitraan, MCA- Indonesia, Mercy Corps Indonesia, OECD, PwC, Samdhana Institute, SCP Switch Asia, SNV, TNC, UN-ESCAP, UNDP, UNDSD, UNORCID, UNPAD, USAID - IFACS, Vivid Economics, World Bank, WWF, Kehati Foundation Sektor swasta dan Asosiasi Bisnis APG2/RAPP, API – IMA, Asosiasi Pertambangan Indonesia, Eforce, GAPKI, Geocycle Indonesia – Holcim Group, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), INPEX Indonesia, KADIN, PT AMC SCP Project, PT Daemeter Consulting, PT. AES Agriverde Ind., PT. Holcim Indonesia Tbk, PT. Prosympac, PT. Riau Andalas Pulp and Paper, Rimba Makmur Utama (RMU), Sinar Mas, Sintesa Group Individual Agi Safitri, Agus Purnomo, Ahmad Fauzy, Anna van Paddenburg, Arief Wicaksono, Arnold Sitompul, Benjamin Tular, Cary Anne Cadman, Chris Bennett, Chris Cosslett, Chris Stevens, Dadang Purnama, David Goll, Dyah Catur, Emil Salim, Endah Murniningtyas, Erna Witoelar, Farrah Soeharno, Florian Vernaz, Frank Jotzo, Giulia Sartori, Godwin Limberg, Hans Harmen Smit, Heinrich Terhorst, Hendrik Segah, Henri Bastaman, Herzon B. Aden, Imran, Inta Ningsih, Ismid Haddad, Johan Kieft, Josaphat Rizal Primana, Kurnya Roesad, Laksmi Dhewanthi, Lex Hovani, Luca Tacconi, Lukita Dinarsyah Tuwo, M.S Sembiring, Maria Ratnaningsih, Mauro Pisu, Michael Smith, Mochamad Indrawan, Montty Girianna, Mubariq Ahmad, Nizhar Marizi, Noer Adi Wardojo, Peter Oksen, Peter Wilson, Pisca Ayuning Tias, Primatmojo Djanoe, Purnomo Sasongko, Rae Kwon Chung, Reed Merril, Rizaldi Boer, Rizki Permana, Rizkyana Dipananda, Rusmadi, Sandra Winarsa, Setiaji Sastrapradja, Shinta Kamdani, Siebe Schuur, Tim Boothman, Timothy C Jessup, Tiur Rumondang, Tri Nugroho, Wahjudi Wardojo, Werner Kornexl Kontributor Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 81 CATATAN AKHIR

  10. 1 Towards a Green Economy, Pathways to Sustainable Development and Poverty Eradication, UNEP 2011.

  11. 2 See chapter 5 of the New Climate Economy Report, “Economics of Change.” The “framework for economic change” discussed in the report is designed “to achieve ‘better growth’ that increases quality of life across key dimensions, including incomes, social stability, equality, and better health, while also achieving a ‘better climate’…. [that reduces] the risk of dangerous climate change by cutting greenhouse gas emissions.” Global Commission on the Economy and Climate (2014) Better Growth, Better Climate: The New Climate Economy Report: http://newclimateeconomy.report/

  12. 3 See report and video at http://gggi.org/indonesia-green-growth-planning/

  13. 4 Ministry of Finance (2015) Green Planning and Budgeting Strategy for Indonesia’s Development.

  14. 5 The concept of green growth in Indonesia has been informed by the views of leading international organizations involved in green growth planning and development. There have been a number of recent publications on green economy and green growth that have offered a perspective on its characteristics and a working definition of green growth, including leading international organizations such as United Nations Environment Program (UNEP), The United Nations Department of Economic and Social Affairs (UNDESA), the United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), United Nations Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), the International Labor Organization (ILO), the World Bank, the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), The Global Green Growth Institute (GGGI), the Green Economy Coalition, the Green Growth Leaders, and the Green Growth Knowledge Platform (GGKP).

  15. 6 Green Growth in Practice: Lessons from Country Experiences. Report of the Green Growth Best Practices Initiative, www.ggbp.org, 2014.

  16. 7 See, for instance, Global Commission on the Economy and Climate (2014) Better Growth, Better Climate: The New Climate Economy Report.

  17. 8 Data from UN Comtrade database, HS 1511. Exports are reported as US$ 4.8 billion in 2006, growing to US$ 17.2 billion in 2011.

  18. 9 Three year rolling average based on data from World Development Indicators.

  19. 10 All investment data taken from the World Development Indicators dataset.

  20. 11 Data: FAOstat.

  21. 12 UN SDSN/IDDRI (2013), Pathways to deep decarbonisation: Indonesia chapter, http://unsdsn.org/wp-content/uploads/2014/09/ DDPP_2014_report_Indonesia_chapter.pdf

  22. 13 OECD (2014), Towards Green Growth in Southeast Asia, OECD Green Growth Studies, OECD Publishing. http://dx.doi. org/10.1787/9789264224100-en

  23. 14 Ministry of Finance (forthcoming) Green Planning and Budgeting Strategy for Indonesia’s Development.

  24. 15 Population data in tables 1.1 and 1.2 are from BPS, as reported in McDonald, P. (2014) A Population Projection for Indonesia, 2010– 2035, Bulletin of Indonesian Economic Studies, 50:1, 123-129, DOI: 10.1080/00074918.2014.896240.

  25. 16 Global Commission on the Economy and Climate, ‘Better Growth, Better Climate: The New Climate Economy Report’, New Climate Economy, (2014), Accessed 24th February 2015 http://newclimateeconomy.report/

  26. 17 Marlier, M., DeFries, R., Voulgarakis, A., Kinney, P., Randerson, J., Shindell, D., Chen, Y. & Faluvegi, G. (2012) El Nino and health risks from landscape fire emissions in southeast Asia.

  27. 18 Glover, D. & Jessup, T., eds., (1999) The Indonesian Fires and Haze of 1997: The Economic Toll.

  28. 19 Jayachandran, S. (2005) Air quality and early-life mortality during Indonesia’s Massive Wildfires in 1997, California Center for Population Research. 20 http://www.unites.uqam.ca/gmf/intranet/gmp/files/doc/articles/indonesia/limbong_2002.pdf 21 http://www.reuters.com/article/2014/12/22/us-sealevel-subsidence-jakarta-sr-idUSKBN0K016S20141222 22 http://www.reuters.com/article/2014/12/22/us-sealevel-subsidence-jakarta-sr-idUSKBN0K016S20141222; see also Hallegatte, S., Green, C., Nicholls, R. J., &Corfee-Morlot, J. (2013). Future flood losses in major coastal cities. Nature climate change, 3(9), 802-806. 23 http://www.thenational.ae/world/southeast-asia/jakarta-to-build-sea-wall-to-combat-floods

  29. 24 Hooijer, A., Triadi, B., Karyanto, O., Page, S.E., van der Vat, M. and Erkens, G. (2012) Subsidence in Drained Coastal Peatlands in SE Asia: Implications for Sustainability. In Proceedings of the 14th International Peat Congress, Peatlands in Balance, Stockholm.

  30. 25 Van Paddenburg, A., Bassi, A., Butler, A., Cosslett, C., Dean, A. (2012) Heart of Borneo: Investing in Nature for a Green Economy.

  31. 26 Ibid.

  32. 27 Di Nunzio, J. (2013) Hungry Neighbours? Indonesia’s Food Strategy and Water Security Future.

  33. 28 Ibid.

  34. 29 Ibid.

  35. 30 Van Paddenburg, A., Bassi, A., Butler, A., Cosslett, C., Dean, A. (2012) Heart of Borneo: Investing in Nature for a Green Economy.

  36. 31 Maryono, A., Purwokerto, S, (2009) Indonesia: River sedimentation blamed for Central Java floods, Jakarta Post.

  37. 32 Paul R. Epstein, Jonathan J. Buonocore, Kevin Eckerle, Michael Hendryx, Benjamin M. Stout III, Richard Heinberg, Richard W. Clapp, Beverly May, Nancy L. Reinhart, Melissa M. Ahern, Samir K. Doshi, and Leslie Glustrom. 2011. Full cost accounting for the life cycle of coal in “Ecological Economics Reviews.” Robert Costanza, Karin Limburg & Ida Kubiszewski, Eds. Ann. N.Y. Acad. Sci. 1219: 73–98. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Catatan Akhir Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 82

  38. 33 Turetsky, M., Benscoter, B., Page, S., Rein, G., Van der Werf, G., Watts, M. (2014) Global vulnerability of peatlands to fire and carbon loss.

  39. 34 Statistics Indonesia, ‘Statistical Yearbook of Indonesia 2014’, (2014), Accessed 9th March 2015 http://www.bps.go.id/index.php/publikasi/326

  40. 35 International Energy Agency. ‘Southeast Asia Energy Outlook’. World Energy Outlook 2013 Special Report, p.28, (IEA Publishing, Paris, September 2013), Accessed 25th February 2015 http://www.iea.org/publications/freepublications/publication/southeastasiaenergyoutlook_ weo2013specialreport.pdf

  41. 36 Hivos, ‘Climate and Energy Campaign 2012 - 2015: Iconic Island Project Sumba’, (2015), Accessed 5th March 2015 https://hivos.org/activity/climate-and-energy-campaign-2012-2015-iconic-island-project-sumba

  42. 37 GGGI, ‘Summary for Policy makers: Modelling and Assessment of Prioritized Green Technologies’, Component 1C: Green Industry Mapping Strategy (GIMS), GOI - GGGI Green Growth Program”, p. 50, January 2014.

  43. 38 GGGI, ‘Green Growth Prioritisation tool’, February 2014 and GGGI, ‘extended Cost Benefit Analysis 2: KSN Mamminasata’, February 2014, GOI - GGGI Green Growth Program

  44. 39 International Energy Agency, ‘Energy Policies beyond IEA Countries: Indonesia 2015’, p. 10 (IEA Publishing, Paris, February 2015), Accessed 25th February 2015 http://www.oecd-ilibrary.org/energy/energy-policies-beyond-iea-countries-indonesia-2015_9789264065277-en

  45. 40 Ministry of Energy and Mineral Resources, Vision 25/25

  46. 41 Lubis, Anggi M., ‘Indonesia Told to Focus on Renewable Energy’, The Jakarta Post, (13th July 2013), Accessed 17th February 2015 http://www.thejakartapost.com/news/2013/07/13/indonesia-told-focus-renewable-energy.html

  47. 42 Chekol, A., ‘What Is The Advantage Of An Independent Energy Regulation In Network-Bound Sectors?’, University of Dundee-Centre for Energy, Petroleum and Mineral Law and Policy Annual Review 13, (2008/09), Accessed 25th February 2015 http://www.dundee.ac.uk/cepmlp/gateway/ index.php?news=30883.

  48. 43 Eberhard, A., ‘Feed-In Tariffs or Auctions? Procuring Renewable Energy Supply in South Africa’, Public Policy for the Private Sector: Viewpoint Note 338, (The World Bank Group, Financial and Private Sector Development Vice-Presidency, April 2013), Accessed 9th March 2015 http://www. gsb.uct.ac.za/files/FeedintariffsorAuctions.pdf

  49. 44 International Energy Agency, p. 12, (2015), op. cit.

  50. 45 International Energy Agency, p. 12, (2015), op. cit.

  51. 46 International Energy Agency, p. 13, (2015), op. cit.

  52. 47 International Energy Agency, p. 13, (2015), op. cit.

  53. 48 Ashati & Ardiansyah, ‘Igniting the Ring of Fire: A Vision for Developing Indonesia’s Geothermal Power’, (WWF, 2012), Accessed 25th February 2015 http://www.wwf.or.id/?25521/Igniting-the-Ring-of-Fire-A-Vision-for-Developing-Indonesias-Geothermal-Power

  54. 49 Brown, L. H., & Srivastava, A., ‘Lessons from Indonesia: Mobilizing Investment in Geothermal Energy’, World Resources Institute, (26th June 2013), Accessed 9th March 2015 http://www.wri.org/blog/2013/06/lessons-indonesia-mobilizing-investment-geothermal-energy

  55. 50 Union of Concerned Scientists, ‘How Geothermal Energy Works’, Accessed 9th March 2015 http://www.ucsusa.org/clean_energy/our-energy- choices/renewable-energy/how-geothermal-energy-works.html

  56. 51 Climate Investment Funds, ‘Indonesia’, Clean Technology Fund, (2012), Accessed 9th March 2015 https://www.climateinvestmentfunds.org/cif/ sites/climateinvestmentfunds.org/files/CTF_Indonesia.pdf

  57. 52 Statistics Indonesia, (2014), op. cit.

  58. 53 Taylor, M., ‘Indonesia Doubts Speed of China Coal Import Curbs, Eyes India Demand’, Reuters, (4th September 2014), Accessed 17th February 2015 http://in.reuters.com/article/2014/09/04/indonesia-coal-china-idINL3N0R522Q20140904. See also Stanway, David. ‘China nears “peak coal” as carbon and clean growth policies bite’ Reuters 27th November 2014, accessed 17th February 2015. http://www.reuters.com/article/2014/11/28/ china-coal-idUSL3N0TF38420141128

  59. 54 Singapore Economic Development Board website, Accessed on 25th February 2015 http://www.edb.gov.sg/

  60. 55 Climate Investment Funds, ‘Revision of the investment plan for Indonesia’, p.9, (23rd April 2013), Accessed 25th February 2015 https://www.climateinvestmentfunds.org/cif/sites/climateinvestmentfunds.org/files/Indonesia_CTF_IP_Revision_23_Apr_2013.pdf. See also Asian Development Bank. (2013). Same energy, more power: Accelerating energy efficiency in Asia.

  61. 56 GGGI, Summary for Policy makers : Modelling and Assessment of Prioritized Green Technologies, Component 1C: Green Industry Mapping Strategy (GIMS), GOI - GGGI Green Growth Program”, January 2014, p.56

  62. 57 Billingsley, M. A., Hoffman, I. M., Stuart, E., Schiller, S. R., Goldman, C. A. &LaCommare, K., ’The Program Administrator Cost of Saved Energy for Utility Customer-Funded Energy Efficiency Programs’, Lawrence Berkeley National Laboratory Paper no. 6595E (March 2014), Accessed 9th March 2015 http://emp.lbl.gov/sites/all/files/lbnl-6595e.pdf

  63. 58 WWF and Cleantech Group, ‘The Global Cleantech Innovation Index 2014: Nurturing Tomorrow’s Transformative Entrepreneurs’, (EditaVästraAros, 2014), Accessed 25th February 2015 https://www.tekes.fi/globalassets/global/ohjelmat-ja-palvelut/ohjelmat/green-growth/ aineistot/cleantech_innovation_index_2014.pdf

  64. 59 World Bank, ‘New Report Identifies Major Clean-Tech Market Opportunity for Small Businesses in Developing Countries’, (24th September 2014), Accessed 10th March 2015 http://www.worldbank.org/en/news/feature/2014/09/24/new-report-identifies-major-clean-tech-market- opportunity-for-small-businesses-in-developing-countries

  65. 60 SNV/Hivos, ‘Indonesia Domestic Biogas Programme’

  66. 61 GGP Tool, February 2014 and GGGI, extended Cost Benefit Analysis 2: KSN Mamminasata, February 2014.

  67. 62 Sidik, UjangSolihin, ‘Landfill Gas in Indonesia: Challenges and Opportunities’, Gmi Landfill Subcommittee Meeting Singapore Presentation, (2 July 2012), Accessed 10th March 2015 https://www.globalmethane.org/documents/events_land_120702_msw_indonesia.pdf Catatan Akhir Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 83

  68. 63 Centre for Low Carbon Futures, ‘The Economics of Low Carbon Cities: Palembang, Indonesia’, (2014). See also OECD, 2010, Tackling the Infrastructure Challenge in Indonesia.

  69. 64 Spatial Planning of Semarang City on 2011 – 2031; Green City Concept for Green City Development Program (MoU between Semarang City government and Ministry of Public Work on 2011); Local Regulation of Semarang City 5/2009 about Building.

  70. 65 Lubis, H. A. S. et al., ‘Multimodal Transport in Indonesia: Recent Profile and Strategy Development’, Eastern Asia Society for Transportation Studies 5, p.46-64, (2005), Accessed 25th February 2015 http://www.easts.info/on-line/proceedings_05/46.pdf

  71. 66 Global Business Guide Indonesia, ‘Indonesia’s Maritime Ambitions Require Massive Upgrade of Seaports’, (2015), Accessed 25th February 2015 http://www.gbgindonesia.com/en/services/article/2015/indonesia_s_maritime_ambitions_require_massive_upgrade_of_seaports_11120.php

  72. 67 Witular, R. A., ‘Jokowi Launches Maritime Doctrine to the World’, Jakarta Post, (November 2014), Accessed on 25th February 2015 http://www. thejakartapost.com/news/2014/11/13/jokowi-launches-maritime-doctrine-world.html

  73. 68 Sambijantoro, S., ‘No More Sunda Strait Bridge Plan’, Jakarta Post, (3 November 2014), Accessed on 25th February 2015 http://www. thejakartapost.com/news/2014/11/03/no-more-sunda-strait-bridge-plan.html

  74. 69 Teknik Geodesi University, ‘Policy One Map: A Need for Efficient and Effective Governance’, Accessed on 25th February 2015 http://geodesi.undip.ac.id/wp-content/uploads/2014/12/Penyelenggaraan-Pemetaan-Rupabumi-Untuk-Mendukung-Penataan-Ruang-2.pdf

  75. 70 Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BadanPerencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan Badan Informasi Geospasial. Cetak Biru Satu Data untuk Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (2014).

  76. 71 Roswintiarti, O. et al., ‘Indonesia’s National Carbon Accounting Remote Sensing Program: A National System for Monitoring Forest Changes’, IEEE

  77. 2013 International Geoscience & Remote Sensing Symposium 2013, (2013).

  78. 72 Indrarto, G. B., ‘The Context of REDD+ in Indonesia: Drivers, Agents and Institutions’, Center for International Forestry Research, p.12, (2012), Accessed on 25th February 2015 http://www.cifor.org/publications/pdf_files/WPapers/WP92Resosudarmo.pdf

  79. 73 Millennium Challenge Account Indonesia, ‘Participative Land Use Planning: General Technical Village Boundary Setting (VBS) Guideline’, (2013), Accessed 27th February 2015 http://gp.mca-indonesia.go.id/wp-content/uploads/2014/06/General-VBS-CM-Technical-Guidelines.pdf

  80. 74 Murdiyarso, D., ‘Insight: Merging Environment and Forestry Ministries: Quo Vadis?’, Jakarta Post, (7th December 2014), Accessed 17th February 2015 http://www.thejakartapost.com/news/2014/11/07/insight-merging-environment-and-forestry-ministries-quo-vadis.html#sthash.X4dJxRQ2. dpuf

  81. 75 KEHATI Biodiversity Trust Fund, ‘Green Corridor Initiative - HalimunSalak National Park’, Accessed 11th March 2015 http://www.kehati.or.id/en/ ekosistem-kehutanan-2/green-corridor-initiative-2.html

  82. 76 GIZ, ‘Forests and Climate Change Programme (FORCLIME)’, Accessed 11th March 2015 https://www.giz.de/en/worldwide/16728.html

  83. 77 Hooijer, A. et al., Carbon Emissions from Drained and Degraded Peatland in Indonesia and Emission Factors for Measurement, Reporting and Verification (MRV) of Peatland Greenhouse Gas Emissions, (Kalimantan Forests and Climate Partnership, May 2014).

  84. 78 Governments of Indonesia and the Netherlands, ‘Master Plan for the Rehabilitation and Revitalisation of the Ex-Mega Rice Project Area in Central Kalimantan’, (Euroconsult Mott MacDonald and Deltares, October 2008).

  85. 79 Applegate, G., ‘The impact of drainage and degradation on tropical peatland hydrology, and its implications for effective rehabilitation’, Presented to the International Peat Society 14th International Peat Congress, Peatlands in Balance, (Stockholm, June 3-8, 2012).

  86. 80 Burke, L., Reytar, K., Spalding, M. & Perry, A., ‘Reefs at Risk Revisited’, Chapter 6, (World Resources Institute, February 2011), Accessed 27th February 2015 http://www.wri.org/publication/reefs-risk-revisited

  87. 81 Dahuri, R., ‘Pre- and Post-Tsunami Coastal Planning and Land-Use Policies and Issues in Indonesia’, FAO Documents, Accessed on 25th February 2015 http://www.fao.org/docrep/010/ag124e/AG124E07.htm

  88. 82 DRM Working Group, ‘Disaster risk reduction, agriculture and food security: FAO good practice’, FAO, accessed on 25th February 2015 www.fao.org/docrep/015/i2540e/i2540e00.pdf

  89. 83 Mangrove Restoration, ‘Indonesia Mangrove Action Project’, Accessed 23rd February 2014 http://www.mangroverestoration.com/pdfs/ EMRPoster1993-2011.pdf

  90. 84 World Bank, ‘Return of Coral Reefs Brings Good Fortunes to Coastal Communities in Indonesia’, World Bank, 8th January 2015, accessed 23rd January 2015, http://www.worldbank.org/en/news/feature/2015/01/08/return-of-coral-reefs-brings-good-fortunes-to-coastal-communities-in- indonesia

  91. 85 UNEP ‘Reversing Environmental Degradation Trends in the South China Sea and Gulf of Thailand’ (22 May 2009, p38), accessed on 25th February 2015 http://www.unep.org/eou/Portals/52/Reports/South%20China%20Sea%20Report.pdf

  92. 86 Lensa Indonesia, Sustainable Production and Consumption Program, 16th November 2014, accessed 3rd March 2015 http://www.lensaindonesia. com/2013/06/05/kementerian-lingkungan-hidup-luncurkan-peta-jalan-konsumsi-berkelanjutan.html. On incentives, see the final report of the SCP Policy Project, ‘Incentives and Policy Instruments for Promotion of Sustainable Production,’ December 2013: http://www.switch-asia.eu/ publications/incentives-and-policy-instruments-for-promotion-of-sustainable-production/

  93. 87 WWF, ‘Improve Timber Legality Assurance System (SVLK)!’ 20 March 2014, accessed on 25th February 2015 http://wwf.panda.org/what_we_do/ how_we_work/conservation/forests/?218130/Improve-Timber-Legality-Assurance-System-SVLK

  94. 88 The activity is funded by a trust fund financed under the US Tropical Forest Conservation Act (TFCA) to mitigate climate change by reducing deforestation in Indonesia. See Suradiredja , Diah Y. ‘Analysis Paper on Environment Policy in Indonesia’, accessed on 26th February 2015, http:// www.academia.edu/10237991/Analysis_Paper_on_Environment_Policy_in_Indonesia. See also: Climate Focus, Struktur Negosiasi UNFCCC, 2011 p.12, KEHATI, ‘Annual Report 2013’, accessed on 26th February 2015, http://kehati.or.id/images/Annual_Report_2013.pdf. Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera), accessed 26th February 2015, http://www.tfcasumatera.org/

  95. 89 Tifa Foundation, ‘RAPBN 2015 and Jokowi’s Ambitious Welfare Dream’, from Press Conference, 4th September 2014, accessed 10th March 2015 http://www.tifafoundation.org/en/rapbn-2015-dan-mimpi-kesejahteraan-a-la-jokowicare/

  96. 90 Indonesia Investments, ‘Rice’, Accessed 10th march 2015 http://www.indonesia-investments.com/business/commodities/rice/item183 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Catatan Akhir Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 84

  97. 91 Ibid.

  98. 92 Food and Agricultural Organisation of the UK, ‘Promotion of Under-utilised Indigenous Food Resources for Food Security and Nutrition in Asia and the Pacific, (2014), Accessed 10th March 2015 http://www.fao.org/3/a-i3685e.pdf

  99. 93 Yvonne Chen, ‘Ecotourism: Saving Indonesia’s Biodiversity’, American Chamber of Commerce in Indonesia, (May 2014), accessed 26th February 2015, http://www.amcham.or.id/nf/features/4566-ecotourism-saving-indonesia-s-biodiversity

  100. 94 ‘Indonesian policy in supporting sustainable tourism and developing ecotourism destination’, Tourism Destination Development, July 2011, accessed 26th February 2015, http://www.biotrade.org/MeetingsEvents/jakarta2/5_%20F%20Teguh_tourism%20destination%20dvpment.pdf

  101. 95 Conservation International, ‘Protecting a Million Dollar Fish: Indonesia Declares Largest Manta Ray Sanctuary in the World to Secure Booming Tourism Industry’, (February 2014), accessed 26th February 2015, http://www.conservation.org/NewsRoom/pressreleases/Pages/Protecting-a- Million-Dollar-Fish-Indonesia-Declares-Largest-Manta-Ray-Sanctuary-in-the-World-to-Secure-Booming-Tourism-Indu.aspx. See also: Manta Ray of Hope, ‘Hope’, (2015), accessed 26th February 2015, http://www.mantarayofhope.com/hope/

  102. 96 UNEP-WCMC. ‘Review of Birdwing Butterflies from Indonesia.’, November 2014, accessed 26th February 2015, http://ec.europa.eu/environment/ cites/pdf/reports/Review%20of%20birdwing%20butterflies%20from%20Indonesia%20%28public%29.pdf

  103. 97 Ministry of Forestry of Indonesia (in cooperation with International Tropical Timber Organization), Establishing of Demonstration Plot of Eaglewood (Gaharu) Plantation and Inoculation Technology, 2011, accessed 26th February 2015 http://www.itto.int/files/itto_project_db_ input/2866/Technical/TECHNICAL%20REPORT%20NO.%204%20-%20Establishing%20of%20Demonstration%20Plot%20of%20Eaglewood%20 Plantation.pdf

  104. 98 Examples of relevant documentation include LIPI, Bioresources Untuk Pembangunan Ekonomi Hijau, (2013) and IBSAP (2014).

  105. 99 Jatna Supriatna, ‘Bioprospecting: A priority for Indonesia’, Jakarta Post, June 2010, accessed 26th February 2015, http://www.thejakartapost.com/ news/2010/06/11/bioprospecting-a-priority-indonesia.html

  106. 100 Kinanti Kusumawardani ‘Bioprospecting: biodiversity at a crossroads’, Jakarta Post, November 2011, accessed 26th February 2015, http://www.thejakartapost.com/news/2011/11/10/bioprospecting-biodiversity-a-crossroads.html%20

  107. 101 Walter Balansa, ‘Bioprospecting: sharing fair benefit from natural resources’, Brunei Times, October 2010, accessed 26th February 2015, http:// www.bt.com.bn/opinion/2010/10/12/bioprospecting-sharing-fair-benefit-natural-resources

  108. 102 A.G.C. Siswandi, ‘Marine bioprospecting: international law, Indonesia and sustainable development’, (Thesis, The Australian National University, January 2013), accessed 26th February 2015, https://digitalcollections.anu.edu.au/bitstream/1885/9730/1/02Whole_Siswandi.pdf

  109. 103 Plan Vivo, ‘Project Register’, (2015), Accessed 10th March 2015 http://www.planvivo.org/projects/registeredprojects/

  110. 104 Indonesian Government, Article 43, Environmental Protection and Management Act (UU32/2009)

  111. 105 GGGI, extended Cost Benefit Analysis: Katingan, GOI-GGGI Indonesia Program, (February 2014)

  112. 106 ‘Current Status on Carbon Market in Indonesia’,DNA Indonesia National Council on Climate Change (DNPI) INDONESIA, November 2014, accessed 26th February 2015, https://cdm.unfccc.int/filestorage/e/x/t/extfile-20141113111225047-15_Plenary_4_04_Indonesian_Carbon_Market_DNA_ Indonesia.pdf/15_Plenary%204_04_Indonesian%20Carbon%20Market_DNA%20Indonesia.pdf?t=eXR8bmtkcGNufDBdBphEfGRNnnsg9hA-XRyb.

  113. 107 Norwegian Government, ‘’Norway-Indonesia REDD+ Partnership – Frequently asked questions’, May 2010, accessed 26th February 2015, http:// www.norway.or.id/Norway_in_Indonesia/Environment/-FAQ-Norway-Indonesia-REDD-Partnership-/#.VO8UK_msUWJ

  114. 108 USAID Indonesia Climate and Forest Support, ‘Strategic Environmental Assessments: Moving Toward Low-Emission Development’, (2015), Accessed 25th February 2015 http://www.ifacs.or.id/what-we-do/strategic-environmental-assessments-moving-toward-low-emission- development/ Also REDD+ Special Team and GGGI, ‘The REDD+ Database: A Synthesis Report’, December 2013, accessed 26th February 2015, http://gggi.org/wp-content/uploads/2012/12/13Dec13-The-REDD+-Database-A-Synthesis-Report.pdf

  115. 109 OECD, (2014), op. cit.

  116. 110 Centre for Climate Change Financing and Multilateral Policy, Fiscal Policy Agency, ‘Green Planning and Budgeting Strategy for Indonesia’s Sustainable Development 2015-2020’, Ministry of Finance, Republic of Indonesia, December 2014,accessed 26th February 2015, http://www. kemenkeu.go.id/en/node/44145

  117. 111 RPJMN 2015-2019, Kementerian PPN/Bappenas, January 2015, accessed 26th February 2015, http://www.bappenas.go.id/index. php?cID=5009?&kid=1422866729

  118. 112 ‘National Connectivity 2011 Special Edition’, Sustaining Partnership: Media for information on public private partnership, 2011, accessed 26th February 2015, http://pkps.bappenas.go.id/attachments/article/957/DESEMBER%20Khusus_KONEKTIFITAS_ENGLISH_L.pdf

  119. 113 Alex Rumaseb, ‘Spatial Planning for Biodiversity Conservation in Papua: Laying the foundation for people-centered development that safeguards high biological and cultural diversity’, Presented at the International Biodiversity Conference, 11-14, November 2009, accessed 27th February 2015, http://www.forestcarbonasia.org/other-publications/spatial-planning-for-biodiversity-conservation-in-papua-laying-the-foundation-for- people%E2%80%90centered-development-that-safeguards-high-biological-and-cultural-diversity/

  120. 114 Ibid

  121. 115 Bappenas and Ministry of Forestry and Environment

  122. 116 Indonesia Forest and Climate Support, ‘Strategic environmental assessments: moving toward low-emission development’, accessed 26th February 2015, http://www.ifacs.or.id/what-we-do/strategic-environmental-assessments-moving-toward-low-emission-development/

  123. 117 Bennett, C.P.A., Feld, S. and Hardiono, M., ‘Inclusive Landscape Approaches for Strategic Investment in Green Prosperity: Achieving Sustainable Economic Growth through Strengthened Social Cohesion and Avoided Social Jealousy’, Millennium Challenge Corporation, Discussion Paper, (June 2014)

  124. 118 Millennium Challenge Account Indonesia, (2013), op. cit.

  125. 119 USAID, Indonesia Climate and Forest Support, (2015), op. cit. Catatan Akhir Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 85

  126. 120 ESP3 was funded by Danida. See ‘Strategic Environmental Assessment of MP3EI’, ESP3, October 2013, accessed 26th February 2015, http://www.esp3.org/index.php/en/news-and-events/27-strategic-environmental-assessment-of-mp3ei

  127. 121 Ibid

  128. 122 Based on ESP3 ke-2 Roadmap GG program Workshop, ‘SEA & Green Growth in Indonesia’

  129. 123 Alex Rumaseb, (2009), op. cit.

  130. 124 Roesad, Kurnya, Anna van Paddenburg, Yong Sung Kim (forthcoming, May 2015). Kawasan Ekonomi Khusus dan Pertumbuhan Hijau. In: Wahyuni, Sari, Wahyuningsih Muhammad and Irfan Syaebani eds. Panduan Praktis Pengembangan Strategi Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta: PT Gramedia. See also Special Economic Zones: Performance, Lessons Learned, and Implications for Zone Development. World Bank, 2008. Available online at www.fias.net

  131. 125 GGGI, ‘Green Growth Working Paper No 001’, GOI-GGGI Indonesia Program (September 2013)

  132. 126 Jack Rieley, ‘Kalimantan’s peatland disaster’, Inside Indonesia, January 2001, accessed 26th February 2015, http://www.insideindonesia.org/weekly-articles/kalimantans-peatland-disaster

  133. 127 ‘Better Growth Better Climate’, The New Climate Economy, 2014, accessed on 26th February 2015, http://newclimateeconomy. report/wp-content/uploads/2014/08/NCE_ExecutiveSummary.pdf

  134. 128 OJK, ‘Roadmap for Sustainable Finance in Indonesia’, December 2014, accessed 10th March 2015 http://www.banktrack.org/ download/roadmap_ojk_2015_2019_pdf/roadmap_ojk_2015_2019.pdf

  135. 129 OECD, Green Growth Indicators, (2014).

  136. 130 OECD (2014), Green Growth Indicators 2014, OECD Green Growth Studies, OECD Publishing, Paris. DOI: http://dx.doi. org/10.1787/9789264202030-en

  137. 131 Ibid

  138. 132 See, for example, Orbita Roswintiarti, Kustiyo, Arum Tjahyaningsih, Suzanne Furby, and Jeremy Wallace. 2013. Indonesia’s National Carbon Accounting Remote Sensing Program: A National System for Monitoring Forest Changes. International Geoscience & Remote Sensing Symposium (IGARSS 2013), July 21-26, 2013, Melbourne, Australia.

  139. 133 Sisnerling, ‘System of environmental and economic account’, BPS-Statistics Indonesia, 1st July 2014, Accessed 13th March 2015 http:// www.unorcid.org/upload/Forest%20Valuation%20Study/Ms__Etjih_Tasriah_BPS_Statistics_Indonesia_System_of_environmental_ and_economic_account_Sisnerling_1_July.pdf

  140. 134 Ministry of National Development Planning/National Development Planning Agency (Bappenas) and Presidential Working Unit for Development Monitoring and Oversight (UKP-PPP) of the Republic of Indonesia, I-GEM: Measuring Indonesia’s Transition Towards a Green Economy. Jakarta: LECB Indonesia Policy Note, (2014)

  141. 135 OECD, (2014), op. cit. Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Catatan Akhir Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi 86 Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia: Peta jalan untuk Kebijakan, Perencanaan, dan Investasi Government of Indonesia – GGGI Green Growth Program Pemerintah Indonesia dan Global Green Growth Institute (GGGI) telah mengembangkan program kegiatan yang selaras dengan dan mendukung sepenuhnya upaya pencapaian visi Indonesia untuk perencanaan pembangunan ekonomi. Tujuannya adalah untuk menunjukkan - melalui contoh nyata dari perencanaan investasi dan pembangunan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten - bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat terjaga sambil tetap mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial; memaksimalkan nilai jasa ekosistem; mengurangi emisi gas rumah kaca; dan menjadikan masyarakat, perekonomian serta lingkungan hidup memiliki ketahanan terhadap goncangan ekonomi dan iklim. Dokumen Peta Jalan ini dapat diunduh di www.greengrowth.bappenas.go.id Untuk informasi lebih lengkap, hubungi: Sekretariat Program Pertumbuhan Ekonomi Hijau Pemerintah Indonesia dan GGGI Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310 Indonesia

Delivering Green Growth for a Prosperous Indonesia: a Roadmap for Policy, Planning, and Investment · Nelum